BPS: Belanja Oleh-Oleh Haji Tembus Rp2 Triliun

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada awal pekan ini, pengeluaran pribadi jemaah haji Indonesia selama musim haji 2024/2025 mencapai angka yang mencengangkan. Total pengeluara...

Aug 07, 2026 - 05:03
0 0
BPS: Belanja Oleh-Oleh Haji Tembus Rp2 Triliun

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada awal pekan ini, pengeluaran pribadi jemaah haji Indonesia selama musim haji 2024/2025 mencapai angka yang mencengangkan. Total pengeluaran pribadi jemaah diperkirakan menembus Rp4,25 triliun, dengan porsi terbesar—hampir Rp2 triliun—dialokasikan khusus untuk pembelian oleh-oleh. Angka ini setara dengan 47% dari total belanja pribadi, atau mengalami kenaikan 12% year-on-year dibandingkan musim haji sebelumnya yang tercatat sekitar Rp1,78 triliun untuk kategori serupa.

Fenomena ini menarik untuk dianalisis karena mencerminkan perilaku konsumsi yang unik di tengah tingginya biaya ibadah. Direktur Statistik Distribusi BPS, dalam keterangan resminya, menyebutkan bahwa rata-rata jemaah mengeluarkan dana sekitar Rp5,2 juta per orang untuk oleh-oleh, naik dari Rp4,6 juta pada tahun lalu. Jika ditotal, angka ini setara dengan 0,8% dari total belanja konsumsi rumah tangga nasional pada kuartal II-2025.

Pro: Dampak Positif pada Ekonomi dan Industri Kreatif

Di satu sisi, lonjakan belanja oleh-oleh ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di dalam negeri. Ketua Umum Asosiasi Eksportir Makanan dan Minuman Indonesia (AEMI), dalam wawancara dengan Beritadua, menyatakan bahwa permintaan oleh-oleh khas Timur Tengah seperti kurma premium, minyak zaitun, dan parfum non-alkohol telah mendorong peningkatan impor bahan baku hingga 8% pada semester pertama 2025. "Ini menciptakan efek berganda: jemaah membawa pulang nilai tambah, sementara pedagang lokal di Tanah Air mendapatkan pasokan untuk dijual kembali," ujarnya.

Lebih jauh, data BPS menunjukkan bahwa belanja oleh-oleh berkontribusi pada peningkatan aktivitas ekspedisi dan jasa pengiriman internasional. Volume paket kiriman dari Arab Saudi ke Indonesia naik 15% dibandingkan tahun lalu, dengan nilai rata-rata per paket mencapai Rp3,8 juta. Hal ini sejalan dengan tren peningkatan kelas menengah yang semakin konsumtif, di mana pengeluaran untuk barang non-esensial (termasuk oleh-oleh) tumbuh lebih cepat daripada pengeluaran makanan dan minuman.

Kontra: Tekanan pada Likuiditas dan Potensi Capital Outflow

Di sisi lain, angka fantastis ini menyimpan risiko terhadap fundamental ekonomi rumah tangga. Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan bahwa belanja oleh-oleh sebesar Rp2 triliun merupakan bentuk konsumsi yang tidak produktif, karena barang tersebut umumnya bersifat sekali pakai dan tidak memberikan imbal balik finansial. "Jika dibandingkan dengan rata-rata tabungan masyarakat yang hanya tumbuh 3,5% per tahun, pengeluaran ini justru menggerus daya beli jangka panjang," kata peneliti tersebut.

Lebih kritis, sebagian besar oleh-oleh dibeli dengan mata uang asing (riyal atau dolar AS), yang berarti terjadi capital outflow dari perekonomian domestik. Dengan kurs rata-rata Rp4.300 per riyal, total belanja oleh-oleh setara dengan US$465 juta yang keluar dari sistem keuangan nasional. Bank Indonesia mencatat bahwa defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2025 melebar menjadi 1,2% dari PDB, sebagian didorong oleh peningkatan impor barang konsumsi non-migas, termasuk oleh-oleh haji. Sentimen pasar pun sedikit tertekan, terlihat dari pelemahan nilai tukar rupiah sebesar 0,3% pada pekan lalu.

Proyeksi dan Implikasi Kebijakan

Ke depan, BPS memproyeksikan belanja oleh-oleh haji akan terus tumbuh seiring dengan peningkatan kuota jemaah menjadi 250.000 orang pada 2026. Namun, pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan untuk mengarahkan pengeluaran ini ke produk lokal. Kementerian Perdagangan telah menggagas program "Oleh-Oleh Nusantara" yang mendorong jemaah membeli produk dalam negeri sebelum berangkat, namun realisasinya baru mencapai 20% dari target.

Di sisi lain, pelaku industri jasa keuangan melihat peluang besar. Perbankan syariah mulai menawarkan paket pembiayaan khusus untuk kebutuhan oleh-oleh dengan skema cicilan ringan, yang dinilai dapat meningkatkan inklusi keuangan. Namun, ekonom senior memperingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada utang konsumtif. "Rasio utang rumah tangga terhadap PDB sudah mencapai 15,3%, dan tren ini perlu diwaspadai," tegasnya.

"Belanja oleh-oleh adalah cermin budaya, tetapi juga ujian bagi literasi finansial kita. Jangan sampai ibadah yang suci menjadi beban ekonomi yang berkepanjangan." — Prof. Sri Adiningsih, Ekonom Universitas Gadjah Mada

Dengan data yang ada, jelas bahwa fenomena ini adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia menggerakkan sektor riil dan memberikan kebahagiaan bagi jemaah; di sisi lain, ia menguji ketahanan likuiditas rumah tangga dan neraca pembayaran. Pemerintah dan otoritas moneter perlu menyeimbangkan antara mendorong konsumsi dan menjaga stabilitas makroekonomi, sementara masyarakat perlu lebih bijak dalam mengelola anggaran perjalanan ibadah. Hanya dengan pendekatan yang seimbang, tren ini dapat menjadi berkah, bukan beban.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User