BI Rate Tetap, Airlangga: Sektor Riil Tetap Jalan

Berdasarkan data Bank Indonesia per 19 Desember 2025, Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75%, suku bunga Deposit Facility tetap 5,00%, dan Lending Facility d...

BI Rate Tetap, Airlangga: Sektor Riil Tetap Jalan

Berdasarkan data Bank Indonesia per 19 Desember 2025, Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75%, suku bunga Deposit Facility tetap 5,00%, dan Lending Facility di 6,50%. Keputusan ini mengejutkan sebagian pelaku pasar yang memperkirakan adanya pelonggaran, namun sejalan dengan tekanan inflasi yang masih berada di atas target. Inflasi inti tercatat 3,2% year-on-year pada November 2025, belum sepenuhnya kembali ke kisaran 2,5% ±1%. Di tengah ketidakpastian global, langkah ini dinilai sebagai kebijakan hati-hati untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat terdepresiasi hingga 15.800 per dolar AS pada awal kuartal IV-2025.

Keputusan BI di Tengah Tekanan Global dan Domestik

Di satu sisi, penahanan BI Rate memberikan sinyal bahwa otoritas moneter fokus pada pengendalian inflasi dan stabilitas eksternal. Aliran modal asing atau capital outflow dari pasar obligasi Indonesia mencapai Rp 12,3 triliun pada November 2025, mendorong BI untuk menjaga daya tarik imbal hasil. Suku bunga riil Indonesia saat ini sekitar 2,55% (5,75% dikurangi inflasi inti 3,2%), masih lebih tinggi dibanding negara tetangga seperti Thailand (2,25%) atau India (2,40%). Ini membantu memperlambat pelemahan rupiah. Di sisi lain, kebijakan ini berpotensi menekan sektor riil karena biaya pinjaman tetap tinggi. Kredit investasi perbankan hanya tumbuh 3,8% year-on-year pada Oktober 2025, melambat dari 4,5% pada triwulan sebelumnya. Menurut data OJK, rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat di kisaran 2,6%, relatif stabil namun risiko kredit sektor properti dan konstruksi mulai meningkat.

"Sektor riil masih bisa bergerak karena fundamental ekonomi domestik kuat. Pertumbuhan PDB triwulan III-2025 mencapai 5,05% year-on-year, didorong konsumsi rumah tangga dan investasi non-bangunan. Likuiditas perbankan juga masih longgar dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) di atas 24%," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Dampak Likuiditas dan Capital Outflow

Kondisi likuiditas domestik justru menunjukkan kelebihan pasokan. Data BI per November 2025, uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 6,2% year-on-year, lebih cepat dari 5,8% pada bulan sebelumnya. Namun, dana asing yang hengkang dari Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 9,8 triliun sejak Oktober 2025. Keputusan BI mempertahankan suku bunga diharapkan dapat memperlambat capital outflow dan menjaga imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun di kisaran 7,1%—7,3%. Pro: suku bunga tetap memberi kepastian bagi investor yang mencari yield premium. Kontra: jika The Fed menurunkan suku bunga lebih agresif di 2026, Indonesia berisiko kehilangan daya saing suku bunga riil. Saat ini, spread suku bunga riil Indonesia-AS sekitar 1,2% (2,55% - 1,35%), cukup tipis dan berpotensi menyulitkan jika BI tidak segera melonggarkan.

Dalam jangka pendek, indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur Indonesia tercatat 52,3 pada November 2025, masih di atas level ekspansi 50,0. Ini menunjukkan sektor riil masih bergeliat meskipun suku bunga tinggi. Sektor konstruksi dan perdagangan besar juga mencatatkan pertumbuhan penjualan ritel 4,1% year-on-year. Namun, sektor properti mengalami perlambatan, dengan indeks harga properti residensial hanya naik 1,8% year-on-year (triwulan III-2025), terendah dalam tiga tahun terakhir. Hal ini menandakan bahwa dampak suku bunga tinggi mulai terasa pada sektor yang sensitif terhadap kredit.

Proyeksi Pertumbuhan dan Sektor Riil ke Depan

Proyeksi Bank Indonesia untuk pertumbuhan ekonomi 2025 tetap di kisaran 4,8%—5,6%, sementara pemerintah targetkan 5,2%. Untuk 2026, BI memproyeksikan pertumbuhan sedikit lebih tinggi di 4,9%—5,7% dengan asumsi inflasi turun ke 2,5%±1% pada semester II-2026. Menteri Airlangga menambahkan bahwa stimulus fiskal seperti subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan insentif pajak untuk sektor padat karya akan terus digulirkan untuk menopang sektor riil. "Kita tidak ingin tekanan moneter membuat mesin ekonomi berhenti. Oleh karena itu, kebijakan moneter tetap menjaga stabilitas, sementara fiskal mendorong aktivitas riil," imbuhnya.

Di satu sisi, kebijakan mempertahankan suku bunga tinggi berisiko menekan ekspansi usaha kecil dan menengah (UKM) yang sangat bergantung pada kredit bank. Data OJK menunjukkan penyaluran kredit UKM hanya tumbuh 5,4% year-on-year pada Oktober 2025, lebih rendah dari target pemerintah 8%. Namun, di sisi lain, sektor riil yang berbasis konsumsi seperti makanan-minuman dan transportasi masih tumbuh stabil, didorong daya beli kelas menengah yang relatif terjaga. Indeks keyakinan konsumen (IKK) BI tercatat 124,6 pada November 2025, masih di atas optimis (di atas 100). Fundamental ekonomi yang kuat dan likuiditas yang memadai menjadi alasan keyakinan bahwa tekanan dari sisi suku bunga dapat dimitigasi dengan kebijakan fiskal yang akomodatif. Ke depan, keputusan BI akan sangat bergantung pada data inflasi dan stabilitas rupiah. Jika tekanan global mereda dan inflasi semakin mendekati target, peluang pelonggaran moneter akan terbuka lebar pada semester I-2026.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User