BI Rate 5,75% Tetap, Airlangga Optimis Sektor Riil Bergerak
Berdasarkan data Bank Indonesia yang dirilis dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21 Mei 2026, suku bunga acuan BI Rate kembali dipertahankan di level 5,75%. Keputusan ini menandai bulan keempat berturut-t...
Berdasarkan data Bank Indonesia yang dirilis dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21 Mei 2026, suku bunga acuan BI Rate kembali dipertahankan di level 5,75%. Keputusan ini menandai bulan keempat berturut-turut suku bunga tidak berubah sejak penurunan terakhir pada Januari 2026. Di satu sisi, kebijakan ini menunjukkan keyakinan bank sentral terhadap stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah yang masih terjaga. Di sisi lain, sektor riil masih menanti sinyal pelonggaran untuk mendorong ekspansi dan menahan pelemahan daya beli masyarakat.
Stabilitas Makroekonomi Jadi Prioritas
Keputusan BI untuk menahan suku bunga didasarkan pada proyeksi inflasi yang masih terkendali dalam kisaran sasaran. Data Badan Pusat Statistik mencatat inflasi year-on-year pada April 2026 sebesar 2,6%, turun tipis dari 2,8% pada bulan sebelumnya. Indeks Harga Konsumen (IHK) juga menunjukkan perlambatan pada kelompok makanan dan transportasi. Namun, inflasi inti masih stabil di 2,5%, menandakan tekanan permintaan belum kuat. Di samping itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak di kisaran Rp15.850 per dolar, terapresiasi tipis 0,3% sejak awal tahun berkat aliran masuk modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers menekankan bahwa fokus utama bank sentral adalah menjaga stabilitas eksternal. “Kami melihat risiko ketidakpastian global masih tinggi, terutama terkait sikap The Fed dan tensi geopolitik. Oleh karena itu, suku bunga saat ini masih diperlukan untuk menarik aliran modal dan menjaga cadangan devisa,” ujarnya. Likuiditas perbankan tercatat longgar dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) di level 23,5%, namun penyaluran kredit tumbuh melambat menjadi 10,8% year-on-year pada Maret 2026, turun dari 11,5% pada bulan sebelumnya.
Respons Pemerintah: Optimisme di Tengah Tantangan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyambut positif keputusan tersebut. Menurutnya, dengan suku bunga yang tetap, dunia usaha dapat merencanakan investasi tanpa terganggu fluktuasi biaya pinjaman yang tajam. “Sektor riil bisa tetap bergerak. Kami melihat pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 mencapai 5,12% year-on-year, lebih tinggi dari proyeksi awal. Ini menandakan fundamental domestik masih kuat,” jelas Airlangga dalam keterangan pers di Jakarta. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan terus mendorong ekspansi melalui belanja infrastruktur dan program perlindungan sosial.
Lebih lanjut, Menko Perekonomian mengklaim bahwa sektor manufaktur masih ekspansif tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang berada di level 51,8 pada April 2026, meskipun turun dari 52,3 bulan sebelumnya. Ekspor komoditas unggulan seperti batu bara dan nikel juga masih solid meski harga global mulai turun. “Kami optimistis target pertumbuhan ekonomi 5,3% hingga akhir tahun bisa tercapai,” tegasnya.
Pro dan Kontra Dampak bagi Dunia Usaha
Di satu sisi, kebijakan suku bunga tetap dianggap memberi kepastian bagi pelaku usaha yang membutuhkan stabilitas biaya modal. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) berpendapat bahwa suku bunga yang tidak berubah memungkinkan korporasi melakukan refinancing utang tanpa kejutan. “Kami lihat beberapa perusahaan besar sudah mulai mengeluarkan obligasi korporasi dengan kupon di kisaran 7,5-8,5%, masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu,” ujarnya.
Di sisi lain, pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) justru mengeluhkan suku bunga kredit yang masih tinggi. Bank Indonesia mencatat suku bunga kredit modal kerja rata-rata 9,8% pada April 2026, turun tipis dari 10% pada Januari, namun masih memberatkan. Pengamat ekonomi dari Indef, Aditya Wira, mengkritik sikap bank sentral yang terlalu konservatif. “Sektor riil butuh stimulus lebih agresif. Suku bunga tinggi menghambat investasi dan daya beli. Indeks kepercayaan konsumen turun ke level 120,3 pada April, turun dari 125,2 bulan sebelumnya. Ini sinyal bahwa rumah tangga mulai menahan belanja,” katanya.
“Dengan inflasi yang sudah rendah, sebenarnya BI punya ruang untuk memangkas suku bunga sebesar 25-50 basis poin. Ini akan menurunkan biaya pinjaman dan mendorong konsumsi. Namun, BI tampaknya lebih memilih stabilitas rupiah daripada pertumbuhan jangka pendek,” ujar Aditya Wira dalam sebuah diskusi publik.
Ia menambahkan bahwa tekanan capital outflow masih harus diwaspadai. Data BI mencatat arus modal asing keluar dari pasar obligasi dan saham mencapai Rp 12,5 triliun pada April 2026, terutama dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS dan ketidakpastian pemilu di beberapa negara maju.
Proyeksi ke Depan: Masih Ada Ruang Pelonggaran?
Mayoritas analis memperkirakan BI Rate akan tetap bertahan di 5,75% hingga kuartal III 2026 setidaknya. Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg menunjukkan probabilitas penurunan suku bunga baru akan terjadi pada November 2026, seiring melandainya inflasi global dan potensi pivot The Fed. Namun, inflasi domestik yang rendah serta sinyal perlambatan ekonomi China membuka ruang bagi BI untuk melonggarkan kebijakan lebih awal jika tekanan eksternal mereda.
Ekonom dari Universitas Indonesia, Budi Santoso, melihat bahwa saat ini suku bunga riil (suku bunga dikurangi inflasi) masih positif sekitar 3,15%, memberikan bantalan bagi rupiah. “Jika inflasi terus turun ke 2%, BI bisa memangkas 25 basis poin tanpa mengganggu daya tarik investasi portofolio. Namun, BI harus hati-hati karena sentimen pasar global bisa berbalik cepat,” tuturnya. Data terakhir menunjukkan cadangan devisa Indonesia pada April 2026 mencapai 144,2 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai 6,5 bulan impor dan menstabilkan rupiah jika terjadi goncangan.
Terlepas dari perdebatan pro-kontra, keputusan BI mempertahankan suku bunga menegaskan prioritas stabilitas jangka panjang. Sektor riil memang masih bergerak, namun kecepatannya sangat bergantung pada konsistensi kebijakan fiskal dan moneter serta kondisi eksternal yang dinamis. Pemerintah dan bank sentral harus terus berkoordinasi agar keseimbangan antara pengendalian inflasi dan dukungan pertumbuhan tetap terjaga.
Comments (0)