Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN) per awal 2025, program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki tahap uji coba baru dengan menerapkan sistem prasmanan di lebih dari 60 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai daerah. Dalam skema ini, siswa tidak lagi menerima paket makanan yang telah dikemas, melainkan mengambil sendiri porsi makanannya, dan sebagian siswa ditunjuk untuk membantu menyajikan makanan ke kelas masing-masing. Langkah ini menandai pergeseran operasional dari model distribusi tertutup menuju layanan berbasis swalayan yang melibatkan peserta didik secara langsung.
Pergeseran Model Distribusi dan Efisiensi Anggaran
Di satu sisi, penerapan sistem prasmanan berpotensi meningkatkan efisiensi anggaran. Dalam model paket, sisa makanan yang tidak termakan menjadi pemborosan yang sulit dikendalikan. Dengan prasmanan, siswa dapat mengambil porsi sesuai kemampuan konsumsinya, sehingga rasio food waste diperkirakan menurun. BGN menargetkan penurunan sisa makanan hingga 20–30 persen per SPPG, yang secara agregat dapat menghemat belanja bahan baku dalam rentang Rp150–250 miliar per tahun jika diterapkan pada seluruh satuan pelayanan. Efisiensi ini penting mengingat pagu anggaran MBG 2025 yang mencapai Rp71 triliun menuntut akuntabilitas belanja yang ketat.
Di sisi lain, perubahan model ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi asupan gizi. Dalam sistem paket, takaran gizi per anak sudah terstandarisasi berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG). Pada prasmanan, risiko ketidakseimbangan porsi antar siswa meningkat, terutama jika pengawasan terbatas. Anak yang cenderung memilih karbohidrat saja bisa kehilangan asupan protein hewani yang menjadi inti intervensi gizi. Selain itu, keterlibatan siswa dalam menyajikan makanan berpotensi menambah beban administratif dan mengganggu jam pelajaran jika tidak diatur dengan protokol yang jelas.
Respons Pemangku Kepentingan dan Sentimen Pasar
Kalangan pengamat gizi menyoroti pentingnya pendampingan dalam uji coba ini. "Sistem prasmanan bisa menjadi solusi efisiensi, tetapi tanpa edukasi gizi yang terstruktur, risiko malnutrisi justru meningkat. Evaluasi berkala terhadap indeks massa tubuh siswa menjadi kunci," ujar seorang peneliti kebijakan pangan. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari penyerapan anggaran, melainkan dari perbaikan status gizi yang terukur.
"Uji coba ini harus disertai baseline data antropometri siswa agar dampaknya bisa dievaluasi secara ilmiah, bukan sekadar klaim keberhasilan distribusi," tegas pengamat tersebut.
Dari kacamata pelaku usaha, perubahan model penyajian membuka peluang bagi UMKM katering lokal yang selama ini terhimpun dalam rantai pasok SPPG. Kebutuhan peralatan prasmanan seperti chafing dish, troli, dan wadah stainless mendorong permintaan barang modal di sektor usaha mikro. Namun, pelaku usaha juga menghadapi tantangan likuiditas karena siklus pembayaran yang bergantung pada pencairan anggaran pemerintah. Tren ini perlu dicermati lantaran capital outflow dari sektor informal dapat terjadi jika pembayaran tersendat.
Proyeksi dan Tantangan Implementasi Jangka Panjang
Secara fundamental, uji coba prasmanan mencerminkan upaya BGN memperbaiki tata kelola program yang sebelumnya diterpa kritik soal kualitas dan ketepatan sasaran. Jika berhasil, model ini berpotensi menjadi standar nasional dengan valuasi manfaat sosial yang lebih tinggi per rupiah belanja. Proyeksi ke depan, perluasan ke ribuan SPPG menuntut standarisasi prosedur operasional, pelatihan juru masak, dan sistem monitoring digital yang transparan.
Kontra-argumen tetap relevan: tanpa pengawasan ketat, desentralisasi penyajian bisa memperlebar disparitas kualitas antar daerah. Sentimen pasar terhadap program ini juga dipengaruhi oleh fluktuasi harga bahan pangan, di mana inflasi pangan year-on-year dapat menggerus daya beli anggaran yang telah ditetapkan. Pemerintah perlu menjaga stabilitas pasokan agar rasio biaya per porsi tetap terkendali.
Kesimpulannya, uji coba prasmanan MBG adalah langkah evolusioner yang menyimpan potensi efisiensi sekaligus risiko gizi. Keberhasilannya akan ditentukan oleh kualitas evaluasi, disiplin protokol, dan komitmen lintas sektor. Publik berhak mendapatkan data terbuka mengenai capaian indikator gizi, bukan hanya jumlah porsi tersaji, agar kebijakan ini berdiri di atas fundamental yang kokoh, bukan sekadar sentimen politik sesaat.
Comments (0)