Bermodal Rp50, Petualangan Saleh dan Darmadjati Keliling Dunia Berakhir Getir

Kisah dua pemuda Indonesia yang memutuskan untuk mengelilingi dunia dengan bersepeda hanya bermodalkan Rp50 berakhir dengan situasi yang jauh dari bayangan. Saleh, 24 tahun, dan Darmadjati, 25 tahun, ...

Jul 28, 2026 - 00:25
0 0
Bermodal Rp50, Petualangan Saleh dan Darmadjati Keliling Dunia Berakhir Getir

Kisah dua pemuda Indonesia yang memutuskan untuk mengelilingi dunia dengan bersepeda hanya bermodalkan Rp50 berakhir dengan situasi yang jauh dari bayangan. Saleh, 24 tahun, dan Darmadjati, 25 tahun, terpaksa menjadi gelandangan di sejumlah negara yang mereka lintasi setelah uang tunai mereka habis dan tidak ada sumber pemasukan yang memadai. Perjalanan yang semula penuh semangat petualangan itu berubah menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya perencanaan matang.

Awalan yang Ambisius

Keduanya berangkat dari kampung halaman di Yogyakarta pada awal tahun lalu dengan keyakinan bahwa semangat dan solidaritas sesama manusia akan membuka jalan. Mereka membawa perlengkapan sederhana: tenda, peralatan memasak darurat, dan beberapa suku cadang sepeda. Dana Rp50 yang mereka bawa sebenarnya lebih merupakan simbol keberanian – dalam rupiah, jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membeli satu botol air mineral di kota besar. Saleh dan Darmadjati mengandalkan platform daring untuk mencari tempat menginap gratis, seperti komunitas pesepeda dan couchsurfing, serta berencana mencari pekerjaan serabutan di sepanjang rute.

Rencana awal rute perjalanan mereka meliputi Indonesia, Malaysia, Thailand, kemudian melanjutkan ke Asia Tengah, Eropa, dan berakhir di benua Amerika. Total jarak yang direncanakan mencapai lebih dari 30.000 kilometer. Namun, sejak awal sudah banyak pihak yang meragukan strategi pendanaan mereka. “Saya ingat ada yang bertanya, bagaimana bisa bertahan hidup di negara asing tanpa uang? Mereka hanya tersenyum dan bilang bahwa kebaikan orang akan mencukupi,” ujar seorang rekan komunitas sepeda di Yogyakarta yang enggan disebutkan namanya.

Ketika Impian Mulai Retak

Realita mulai menghantam ketika keduanya tiba di kawasan Asia Selatan. Biaya visa on arrival, perbaikan sepeda yang kerap rusak di medan berat, dan kebutuhan kalori harian yang tinggi untuk mengayuh puluhan kilometer per hari tidak bisa dipenuhi hanya dengan berharap pada belas kasihan. Di India, mereka pernah berhari-hari tanpa makan layak karena tidak ada yang memberi bantuan. Mereka mencoba menawarkan jasa menjadi tukang sapu atau pembersih, namun bahasa dan stigma sebagai pendatang ilegal membuat tawaran itu sering ditolak.

Bulan-bulan berlalu, kondisi mereka semakin memprihatinkan. Pakaian mereka lusuh, tubuh kurus, dan sepeda pun mulai rusak parah. Seorang wisatawan asal Jerman yang bertemu dengan mereka di kota Jaipur menuturkan, “Mereka seperti tunawisma, tidur di stasiun kereta dan kadang meminta uang receh. Saya tidak menyangka mereka sedang ‘keliling dunia’.”

Dari India, mereka melanjutkan ke Pakistan dan kemudian Iran dengan cara menumpang pada truk pengangkut barang setelah sepeda tak lagi bisa diandalkan. Itupun seringkali karena sopir kasihan melihat kondisi mereka. Di Tehran, mereka terdampar selama hampir dua bulan, tinggal di taman kota dan bergantung pada makanan sisa restoran. Kedutaan Besar Republik Indonesia setempat akhirnya mengetahui keberadaan mereka setelah seorang warga Iran melapor melihat dua pria berbicara bahasa Indonesia yang terlihat kelaparan.

Mekanisme Bertahan Hidup

Selama menjadi gelandangan, Saleh dan Darmadjati mengembangkan berbagai strategi untuk sekadar bertahan. Mereka belajar memanfaatkan bank sampah di beberapa negara untuk mendapatkan sedikit uang, mengumpulkan botol plastik, dan terkadang menjadi kurir informal. Mereka juga sempat bekerja sebagai buruh panggul di pasar lokal, namun pendapatan yang diperoleh tidak pernah cukup untuk keluar dari lingkaran kemiskinan akut.

Dukungan dari keluarga di Indonesia sempat dikirimkan melalui transfer Western Union, tetapi nominal yang terbatas cepat habis untuk kebutuhan mendesak. Keduanya juga berulang kali menjadi korban penipuan oleh oknum yang menjanjikan pekerjaan. Hingga akhirnya, sebuah laporan mengenai dua pemuda Indonesia yang telantar di jalanan Eropa Timur mulai viral di media sosial, memicu respons dari pemerintah dan LSM.

Kritik dan Solidaritas

Cerita mereka kemudian menjadi perbincangan luas di Indonesia. Banyak warganet yang menyayangkan kenekatan mereka tanpa persiapan finansial yang memadai. “Ini bukan soal keberanian, tapi kecerobohan. Traveling model begini hanya akan memberatkan orang lain,” tulis seorang praktisi pariwisata di akun Twitternya. Di sisi lain, muncul pula gelombang simpati; sejumlah donasi kecil dikumpulkan untuk memulangkan mereka.

Kementerian Luar Negeri melalui perwakilan di beberapa negara akhirnya turun tangan. Proses repatriasi memakan waktu berminggu-minggu karena birokrasi antarnegara dan kondisi kesehatan Saleh yang sempat drop akibat kurang gizi. Keduanya kembali ke Indonesia pada pertengahan tahun ini dengan kondisi fisik dan mental yang sangat terpukul.

Pelajaran dari Perjalanan Ekstrem

Pakar perencanaan perjalanan dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Rini Handayani, menekankan bahwa perjalanan global dengan sepeda memerlukan anggaran yang tidak kecil. “Minimal, seorang pesepeda jarak jauh perlu menyiapkan sekitar US$15-20 per hari untuk akomodasi darurat, makan, dan biaya tak terduga. Angka Rp50 jelas tidak masuk akal,” katanya. Ia menambahkan bahwa meskipun konsep perjalanan minim dana sering diglorifikasi di media sosial, realitasnya sangat berbeda dan berisiko membahayakan nyawa.

Sementara itu, Saleh dan Darmadjati menolak diwawancarai secara langsung setelah tiba di tanah air. Pihak keluarga meminta media menghormati privasi mereka. Yang jelas, kisah mereka menjadi pengingat keras bahwa mimpi besar harus dibangun di atas fondasi yang kokoh, termasuk kesiapan finansial, mental, dan pengetahuan akan risiko.

Kini, keduanya sedang menjalani pemulihan dan beberapa LSM menawarkan program pemberdayaan agar mereka bisa kembali berkarya. Mungkin suatu saat nanti, mereka akan mengisahkan pengalaman pahit itu sebagai pelajaran yang tak terlupakan, bukan saja bagi diri sendiri tetapi juga bagi jutaan anak muda lainnya yang tergoda untuk menaklukkan dunia dengan cara instan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User