Aug 28, 2026
Bisnis

Bank Perkuat Inklusi Keuangan Syariah, Tantangan Literasi Masih Menghadang

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026, pangsa pasar perbankan syariah nasional tercatat sebesar 7,5 persen dari total aset perbankan, mengalami kenaikan dibandingkan posisi 7,3 p...

Bank Perkuat Inklusi Keuangan Syariah, Tantangan Literasi Masih Menghadang

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026, pangsa pasar perbankan syariah nasional tercatat sebesar 7,5 persen dari total aset perbankan, mengalami kenaikan dibandingkan posisi 7,3 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Total aset industri menembus Rp 950 triliun, sementara jumlah nasabah menembus 40 juta orang. Angka-angka tersebut menegaskan satu tren: bank tidak lagi sekadar menjadi pemain di industri keuangan syariah, melainkan motor penggerak utama inklusi keuangan syariah — istilah untuk kemudahan seluruh lapisan masyarakat dalam mengakses dan menggunakan layanan jasa keuangan formal berbasis prinsip Islam.

Fondasi Makro yang Menguat

Momentum tersebut berdiri di atas fundamental yang relatif sehat. Indeks Inklusi Keuangan Syariah (IIKS) kini berada di kisaran 50 poin, mengalami kenaikan dari 47,71 poin pada 2023. Pertumbuhan pembiayaan bank syariah tercatat dua digit secara year-on-year, lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit perbankan konvensional. Rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga atau financing to deposit ratio (FDR) — indikator yang mengukur seberapa besar dana nasabah disalurkan kembali menjadi pembiayaan — berada di kisaran 87 persen. Angka ini menunjukkan likuiditas tetap terjaga: dana yang masuk tidak mengendam di neraca, tetapi mengalir ke sektor produktif seperti UMKM, properti, dan infrastruktur.

Di satu sisi, perbaikan berbagai indikator tersebut mencerminkan sentimen pasar yang membaik terhadap instrumen keuangan syariah, didorong struktur demografi penduduk muslim yang mayoritas serta meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap keuangan beretika. Di sisi lain, pangsa pasar 7,5 persen masih jauh dari target 10 persen yang digariskan Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019–2024 — target yang telah lewat tanpa tercapai. Artinya, laju pertumbuhan industri belum cukup cepat untuk mengejar ketertinggalan terhadap perbankan konvensional yang menguasai lebih dari 90 persen pasar.

Strategi Bank: Digital, Kolaborasi, Edukasi

Cara bank mendorong inklusi kini berbeda dari pendekatan lama yang mengandalkan pembukaan kantor cabang fisik. Jalur utamanya adalah digitalisasi. Layanan mobile banking, pembukaan rekening secara daring, dan standar pembayaran QRIS memungkinkan masyarakat di wilayah tanpa kantor cabang untuk menabung, bertransaksi, dan mengakses pembiayaan sesuai prinsip syariah langsung dari ponsel. Bank-bank besar juga memperluas jangkauan melalui layanan keagenan dan kantor kas keliling, menjangkau komunitas di pelosok yang selama ini berada di luar radar layanan keuangan formal.

Jalur kedua adalah kolaborasi ekosistem. Bank syariah menggandeng pesantren, koperasi syariah, Baitul Maal wat Tamwil (BMT), hingga lembaga pengelola zakat untuk menyalurkan dana zakat, infak, dan sedekah secara terstruktur ke usaha produktif masyarakat. Jalur ketiga adalah edukasi. Urgensinya terlihat dari survei nasional literasi dan inklusi keuangan yang mencatat kesenjangan tajam: literasi keuangan syariah mencapai 39,11 persen, tetapi inklusinya baru 12,88 persen. Kesenjangan itu berarti banyak masyarakat sudah mengenal produk syariah, tetapi belum memanfaatkannya.

"Tantangan terbesar bukan lagi ketersediaan produk, melainkan kesadaran dan kepercayaan masyarakat. Bank harus hadir di ekosistem tempat orang bertransaksi sehari-hari, bukan menunggu nasabah datang ke kantor," ujar seorang ekonom perbankan syariah di Jakarta.

Dua Sisi: Momentum dan Pekerjaan Rumah

Pro: industri ditopang pertumbuhan pembiayaan dua digit, dukungan regulasi yang konsisten, serta masuknya emiten perbankan syariah ke indeks-indeks utama bursa yang memperkuat valuasi sektor dan mempermudah pendanaan jangka panjang. Portofolio pembiayaan yang dikelola secara berhati-hati juga menjaga kualitas aset tetap terkendali.

Kontra: struktur pendanaan yang bertumpu pada dana pihak ketiga berjangka pendek membuat bank syariah rentan terhadap gejolak eksternal. Ketika terjadi capital outflow — keluarnya dana dari pasar domestik ke luar negeri — ruang gerak likuiditas menyempit dan biaya dana naik. Ditambah lagi, ketersediaan talenta yang menguasai fikih muamalah sekaligus teknologi keuangan masih belum memadai, sementara persaingan dengan bank digital konvensional semakin ketat.

Proyeksi ke Depan

Sejumlah proyeksi menempatkan pertumbuhan industri keuangan syariah Indonesia pada kisaran 9 hingga 11 persen per tahun, lebih cepat daripada industri keuangan secara umum. Jika tren digitalisasi dan kolaborasi ekosistem berlanjut, pangsa pasar perbankan syariah berpotensi menyentuh 8 persen dalam beberapa tahun mendatang. Namun, capaian itu mensyaratkan satu pekerjaan rumah kunci: mempersempit kesenjangan literasi-inklusi melalui edukasi berkelanjutan, bukan sekadar ekspansi produk.

Pada akhirnya, peran bank dalam inklusi keuangan syariah adalah hubungan dua arah. Industri membutuhkan partisipasi masyarakat untuk tumbuh; masyarakat membutuhkan industri yang amanah dan mudah dijangkau untuk dilayani. Data semester ini menunjukkan arah yang benar. Tugas berikutnya adalah memastikan kecepatannya sepadan dengan potensi yang selama ini belum tergarap optimal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User