Bank Mandiri Jembatani Peluang Kerja bagi Difabel Brebes
Mimpi ratusan penyandang disabilitas di Kabupaten Brebes untuk mendapat pekerjaan layak masih sering terbentur tembok diskriminasi dan minimnya akses pelat
Mimpi ratusan penyandang disabilitas di Kabupaten Brebes untuk mendapat pekerjaan layak masih sering terbentur tembok diskriminasi dan minimnya akses pelatihan. Namun kini, secercah harapan hadir melalui kolaborasi Bank Mandiri Taspen, PT Permodalan Nasional Madani (PNM), dan Dinas Sosial Kabupaten Brebes yang menggagas program advokasi kerja khusus difabel.
Dari Pelatihan Hingga Penempatan: Siklus Pemberdayaan yang Utuh
Berbeda dengan program CSR yang hanya berhenti di pelatihan singkat, inisiatif ini dirancang menyasar tiga titik paling krusial: keterampilan teknis, pendampingan modal, dan jejaring penempatan di perusahaan lokal. Tahap awal menjangkau 100 penyandang disabilitas dari delapan kecamatan di Brebes, dengan variasi keterbatasan mulai dari fisik, sensorik, hingga intelektual ringan.
Para peserta menjalani pelatihan vokasi selama enam pekan. Mereka memilih antara kelas barista modern, pengemasan kerajinan besi kuningan khas Brebes, atau keterampilan digital sederhana seperti desain konten. Instruktur berasal dari lembaga pelatihan resmi dan pelaku UMKM binaan PNM yang sudah teruji.
Kepala Cabang Bank Mandiri Taspen KC Pekalongan, Agus Suyana, menuturkan, “Kami tidak ingin difabel hanya diberi ikan. Kami hadirkan kolam dan pasarnya sekaligus. Jadi, setelah terampil, mereka bisa mandiri atau diserap dunia kerja yang sudah kami jembatani.”
Sementara itu, Kepala Bidang Dinas Sosial Kabupaten Brebes, Arif Syaefudin, menyebut bahwa data terbaru menunjukkan hanya 12 persen dari total 3.200 penyandang disabilitas usia produktif di Brebes yang bekerja di sektor formal. Sisanya bekerja serabutan atau bergantung pada keluarga. “Situasi ini tidak boleh dibiarkan. Intervensi Bank Mandiri dan PNM sangat tepat sasaran,” ujarnya.
Membongkar Stigma dan Mitos tentang Tenaga Kerja Difabel
Salah satu tantangan besar yang dihadapi adalah resistensi dari pelaku usaha. Banyak UMKM dan pabrik di kawasan Brebes–Tegal enggan mempekerjakan difabel karena dianggap menambah beban operasional. Padahal, berbagai studi global membuktikan produktivitas pekerja difabel setara, bahkan lebih tinggi dalam aspek loyalitas dan rendahnya tingkat keluar masuk karyawan.
Untuk memecah tembok prasangka ini, Bank Mandiri bersama PNM menggelar forum bisnis inklusif yang mempertemukan 25 perusahaan lokal dengan para peserta yang telah lulus pelatihan. Dalam forum tersebut, perusahaan melihat langsung hasil karya dan simulasi kerja, sekaligus mendapatkan insentif berupa konsultasi akses permodalan dari PNM apabila bersedia merekrut minimal satu difabel.
| Indikator | Sebelum Program | Target Pasca-Program |
|---|---|---|
| Difabel usia produktif bekerja formal | 12 persen (~384 orang) | 20 persen (~640 orang) dalam 2 tahun |
| Peserta mengakses modal usaha | Nol | 60 orang mendapat pinjaman Mekaar/Ultra Mikro |
| Perusahaan lokal mitra inklusif | 2 perusahaan | 25 perusahaan dalam 1 tahun |
Sukses Kecil yang Menginspirasi: Dari Pelatihan ke Pesanan Ekspor
Motor penggerak program ini adalah Ruang Amal, sebuah lembaga sosial yang selama tiga tahun terakhir mendampingi difabel di Pekalongan dan Brebes. CEO Ruang Amal, Slamet, menceritakan bahwa di batch uji coba sebelumnya, dua peserta penyandang tuna daksa di Desa Jatibarang berhasil menciptakan kerajinan kuningan kualitas ekspor setelah mendapat pelatihan desain dari PNM. Kini, produk mereka dipasarkan ke salah satu importir di Belanda.
“Transformasi ini menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan batas kompetensi. Jika ada akses dan pembinaan yang tepat, difabel Brebes bisa bersaing di pasar global,” tegas Slamet.
Bank Mandiri Taspen juga menyalurkan bantuan alat produksi berupa mesin press ringan dan kompor ramah difabel senilai Rp200 juta untuk kelompok yang memilih jalur wirausaha. Penyaluran dilakukan melalui KCP Tegal dengan pendampingan rutin hingga enam bulan pasca hibah.
Harapan Baru yang Perlu Diperluas
Program yang baru berjalan ini tak lepas dari tantangan. Data dari Dinas Sosial menunjukkan bahwa dari 100 peserta, sebanyak 74 orang belum pernah mengenyam pelatihan resmi sebelumnya, sehingga kurva belajar cukup curam. Namun, dengan metode pendampingan teman sebaya dan relawan difabel yang menjadi fasilitator, hambatan itu perlahan terurai.
Langkah Bank Mandiri dan PNM ini menambah daftar inisiatif keuangan inklusif yang menyentuh kalangan akar rumput. Jika terus dikembangkan, bukan tak mungkin Brebes akan menjadi model kabupaten ramah difabel, di mana lapangan kerja inklusif bukan lagi slogan, melainkan realitas yang terukur angka partisipasinya.
[SOCIAL_TWEET]: Hanya 12% difabel usia produktif di Brebes yang bekerja formal. Kini Bank Mandiri & PNM jembatani pelatihan, modal, & penempatan kerja. 2 peserta kerajinan kuningan tembus pasar ekspor! #InklusiKerja #DifabelMandiri #BrebesMendunia[SOCIAL_TG]: ♿✨ Kabar baik dari Brebes! Bank Mandiri + PNM rilis program kerja inklusif. 100 difabel ikut pelatihan barista, kerajinan, hingga digital. Dua peserta sudah tembus pasar ekspor. Lapangan kerja layak akhirnya bukan lagi mimpi.
Comments (0)