Bambang Suherman dan Didin Nasirudin Analisis Dampak Kebijakan Trump bagi Filantropi

Liputan6.com, Jakarta – Dinamika politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump membawa dampak signifikan terhadap arus filantropi glo

Bambang Suherman dan Didin Nasirudin Analisis Dampak Kebijakan Trump bagi Filantropi

Liputan6.com, Jakarta – Dinamika politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump membawa dampak signifikan terhadap arus filantropi global, termasuk bagi Indonesia. Untuk mengupas isu tersebut, Perhimpunan Filantropi Indonesia menggelar diskusi publik bertajuk “Peran Filantropi dalam Hubungan Bilateral Indonesia-AS: Peluang dan Tantangan” pada Senin (20/1/2025) secara hybrid. Hadir sebagai pembicara kunci Bambang Suherman, Anggota Badan Pengurus Perhimpunan Filantropi Indonesia, dan Didin Nasirudin, Managing Director Bening Communication yang juga dikenal sebagai pemerhati politik Amerika Serikat. Didin saat ini tengah menjalani Program Doktor Komunikasi Politik & Diplomasi di Universitas SAHID.

Acara yang dipandu oleh jurnalis senior Liputan6.com ini diikuti oleh lebih dari 300 peserta dari kalangan pegiat filantropi, akademisi, hingga perwakilan lembaga swadaya masyarakat. Diskusi ini menyoroti bagaimana perubahan kebijakan luar negeri Trump—terutama doktrin “America First”—memengaruhi prioritas pendanaan lembaga donor asal Amerika Serikat yang selama ini menjadi salah satu sumber penting bagi program-program sosial di Indonesia.

Kronologi Diskusi dan Paparan Utama

Acara dimulai pukul 09.30 WIB dengan laporan situasi terkini filantropi nasional. Berikut rangkaian jalannya diskusi:

  1. Sesi Pembukaan (09.30–09.45): Moderator membuka acara dengan pemaparan singkat mengenai pentingnya memahami keterkaitan antara geopolitik dan arus dana filantropi internasional.
  2. Paparan Bambang Suherman (09.45–10.30): Bambang mengulas data terbaru Filantropi Indonesia, termasuk kontribusi dana dari lembaga donor AS yang mencapai 23% dari total dana hibah luar negeri yang masuk ke Indonesia pada 2024.
  3. Analisis Didin Nasirudin (10.30–11.15): Didin memetakan arah kebijakan Trump yang berpotensi memangkas bantuan luar negeri, terutama untuk program lingkungan dan kesehatan global, yang selama ini banyak didanai oleh USAID.
  4. Sesi Tanya Jawab (11.15–12.00): Peserta antusias menanyakan strategi mitigasi dan diversifikasi sumber pendanaan.

Sorotan Bambang Suherman: Kolaborasi yang Harus Direvitalisasi

Dalam pemaparannya, Bambang Suherman menekankan bahwa Indonesia tidak bisa sepenuhnya bergantung pada satu sumber pendanaan filantropi. “Kami mencatat, sejak 2020 hingga 2024, USD 1,2 miliar dana hibah dari Amerika Serikat telah mengalir ke lebih dari 150 yayasan dan LSM di Indonesia. Angka ini signifikan, namun dengan adanya kecenderungan proteksionisme AS, kami harus mulai memperkuat kemitraan dengan filantropi lokal dan sumber nontradisional,” ujarnya.

“Kita tidak bisa hanya menunggu. Filantropi Indonesia harus proaktif merancang program yang sejalan dengan kepentingan nasional, sekaligus membangun jejaring dengan aktor non-negara di AS yang masih membuka ruang kolaborasi,” tegas Bambang.

Ia juga menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas agar kepercayaan donor tetap terjaga. Bambang mendorong anggota Filantropi Indonesia untuk mengadopsi standar pelaporan internasional guna memudahkan komunikasi dengan mitra global.

Pandangan Didin Nasirudin: Politik AS dan Implikasi bagi Indonesia

Didin Nasirudin membawa perspektif komunikasi politik dan diplomasi. Menurutnya, di bawah Trump, pendekatan transaksional semakin dominan. “Pemerintahan Trump melihat bantuan luar negeri sebagai alat tawar-menawar politik. Program-program yang tidak secara langsung menguntungkan kepentingan AS berpotensi dipangkas, termasuk pendanaan untuk isu perubahan iklim dan kesehatan reproduksi,” jelas Didin.

“Kita perlu membaca ulang lanskap politik AS. Justru di tengah tekanan ini, Indonesia bisa memainkan peran sebagai jembatan dengan mengedepankan nilai-nilai multilateralisme dan kerja sama selatan-selatan,” kata Didin.

Didin yang tengah mendalami komunikasi diplomasi di Universitas SAHID menambahkan, Indonesia memiliki modal diplomasi yang kuat melalui pendekatan soft power. Ia menyarankan agar lembaga filantropi berkolaborasi dengan diaspora Indonesia di AS untuk membuka kembali pintu-pintu pendanaan alternatif dari filantropis individu dan family office yang tidak terikat kebijakan pemerintah.

Dampak Nyata pada Program Sosial di Indonesia

Berdasarkan data yang dipaparkan, beberapa program kesehatan dan lingkungan yang bergantung pada dana USAID mulai merasakan ketidakpastian. Misalnya, proyek sanitasi di Nusa Tenggara Timur yang sebelumnya mendapatkan komitmen pendanaan multi-tahun dari salah satu lembaga donor AS kini terancam dilanjutkan karena evaluasi kebijakan baru. Pada periode pertama Trump, bantuan luar negeri AS untuk program global sempat dipangkas hingga 30%.

“Kami khawatir, jika Trump kembali menerapkan pemotongan anggaran bantuan luar negeri seperti periode sebelumnya, dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat di daerah terpencil yang sangat membutuhkan,” ujar Bambang.

Rekomendasi Strategis

Diskusi menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis:

  • Mendorong lahirnya Dana Abadi Filantropi Indonesia yang dihimpun dari dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada donor asing.
  • Memperkuat advokasi kebijakan agar pemerintah Indonesia memberikan insentif pajak bagi donasi domestik.
  • Membentuk task force lintas sektor untuk memetakan potensi pendanaan dari negara-negara non-tradisional seperti Timur Tengah dan Asia Timur.
  • Meningkatkan literasi politik AS di kalangan pegiat filantropi agar dapat merespons dinamika dengan tepat.

Acara ditutup dengan komitmen dari Perhimpunan Filantropi Indonesia untuk menyelenggarakan seri diskusi serupa guna mempertajam pemahaman aktor filantropi nasional terhadap dinamika global.

[SOCIAL_TWEET]: Bambang Suherman sebut 23% dana hibah luar negeri RI berasal dari AS. Didin Nasirudin ingatkan dampak kebijakan Trump bagi filantropi Indonesia. Simak strategi diversifikasi pendanaan di diskusi Perhimpunan Filantropi Indonesia. #FilantropiIndonesia #PolitikAS #AmericaFirst[SOCIAL_TG]: 🌍 Filantropi Indonesia Hadapi Tantangan Era Trump! 💰\nDiskusi bareng Bambang Suherman & Didin Nasirudin kupas tuntas dampak kebijakan "America First" bagi dana sosial di Indonesia. Jangan lewatkan rekomendasi strategisnya! 🇮🇩🤝🇺🇸

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User