Penyandang Disabilitas Netra Lolos UGM Lewat Jalur SNBT

Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti ruang tamu sebuah rumah sederhana di kawasan Sleman, Yogyakarta, pada Kamis sore lalu. Di sudut ruangan, seorang

Penyandang Disabilitas Netra Lolos UGM Lewat Jalur SNBT

Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti ruang tamu sebuah rumah sederhana di kawasan Sleman, Yogyakarta, pada Kamis sore lalu. Di sudut ruangan, seorang gadis muda duduk tenang di hadapan layar laptop yang menampilkan deretan angka. Jemarinya yang cekatan menekan tombol refresh berulang kali, dibantu pembaca layar yang setia membisikkan setiap informasi ke telinganya. Nama gadis itu adalah Angel, seorang penyandang disabilitas netra yang baru saja menorehkan prestasi membanggakan: lolos seleksi masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) 2025.

Raut wajah Angel berubah ketika perangkat lunak pembaca layar menyebutkan sederet informasi yang selama ini ia nantikan. “Selamat, Anda dinyatakan lolos seleksi...” Kalimat itu terngiang di kepalanya, seolah menjadi penegas bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih mimpi di salah satu kampus terbaik di Indonesia. Air mata haru tak terbendung dari pipi kedua orang tuanya yang sejak awal mendampingi perjuangan putri mereka.

Perjalanan Penuh Tantangan

Angel terlahir dengan kondisi retinopathy of prematurity yang menyebabkan kebutaan total sejak usia dini. Namun, kondisi ini tidak menyurutkan semangatnya untuk terus menimba ilmu. Sejak kecil, ia terbiasa mengandalkan indra pendengaran dan perabaan untuk memahami dunia. Saat memasuki jenjang pendidikan formal, Angel bersekolah di sekolah inklusi yang menyediakan fasilitas pendukung bagi siswa dengan kebutuhan khusus.

Masa-masa persiapan SNBT menjadi tantangan tersendiri. Materi ujian yang padat harus ia akses dalam format digital yang kompatibel dengan pembaca layar. Tidak semua buku dan modul tersedia dalam format accessible sehingga ia harus meminta bantuan keluarga dan guru untuk mengonversi teks menjadi audio atau braille. Jam belajarnya mencapai 10 hingga 12 jam per hari demi memastikan seluruh materi terkuasai dengan baik.

“Saya tidak ingin keterbatasan ini dijadikan alasan untuk menyerah. Justru ini jadi cambuk buat saya untuk membuktikan bahwa anak disabilitas netra juga bisa bersaing di jalur SNBT yang ketat,” tutur Angel dengan suara lembut namun penuh keyakinan.

Adaptasi Teknologi sebagai Kunci

Salah satu faktor penentu keberhasilan Angel adalah penguasaannya terhadap teknologi asistif. Ia menggunakan pembaca layar NVDA dan JAWS untuk mengakses soal-soal ujian berbasis komputer. Berkat pelatihan intensif sejak kelas 10 SMA, Angel sudah terbiasa menavigasi antarmuka digital dengan cepat dan tepat. Kemampuan ini menjadi krusial mengingat UTBK-SNBT sepenuhnya diselenggarakan secara daring menggunakan sistem Computer Based Test (CBT).

Pihak panitia SNBT juga menyediakan akomodasi khusus bagi peserta disabilitas netra, termasuk penambahan waktu pengerjaan soal dan pendampingan teknis dari pengawas yang telah mendapatkan pelatihan khusus. Angel mengakui, tanpa dukungan ini, ia belum tentu bisa menyelesaikan seluruh subtes dengan optimal. “Rasanya seperti diberi kesempatan yang setara, tidak ada diskriminasi sama sekali,” kenangnya.

Dukungan Keluarga dan Sekolah

Prestasi Angel tidak lepas dari peran besar keluarga dan pihak sekolah yang selalu memberikan dukungan penuh. Sang ibu, yang berprofesi sebagai guru honorer, rela meluangkan waktu setiap malam untuk membacakan materi pelajaran. Sementara itu, sang ayah mencari tambahan penghasilan untuk membeli laptop dengan spesifikasi yang mendukung perangkat lunak asistif.

Sekolah Angel juga menyediakan guru pendamping khusus yang membantunya selama proses pembelajaran. Kepala sekolah, dalam keterangannya, menyebut Angel sebagai contoh nyata bahwa semangat pantang menyerah mampu mengalahkan segala keterbatasan. Beberapa guru bahkan secara sukarela membuat rekaman audio materi pelajaran untuk memudahkan Angel belajar di rumah.

Mimpi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Angel diterima di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM. Pilihannya ini bukan tanpa alasan. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi jurnalis radio atau penyiar yang menyuarakan isu-isu disabilitas. Baginya, suara adalah senjata ampuh untuk menyampaikan kebenaran dan menginspirasi banyak orang. “Saya ingin membuktikan bahwa jurnalis tidak harus melihat dengan mata, tapi dengan hati dan kepekaan,” ujarnya penuh semangat.

Pihak UGM melalui Direktorat Kemahasiswaan menyatakan komitmennya untuk menyediakan lingkungan kampus yang inklusif. Beberapa fasilitas seperti guiding block, lift bersuara, dan perpustakaan digital aksesibel telah disiapkan. Angel berharap, kehadirannya di UGM dapat menjadi pemicu bagi kampus untuk terus memperbaiki layanan bagi mahasiswa disabilitas.

Meski perjalanan masih panjang, Angel kini menatap masa depan dengan optimisme yang membara. Ia berjanji akan memanfaatkan kesempatan emas ini sebaik-baiknya demi mengharumkan nama keluarga dan membuka jalan bagi penyandang disabilitas lainnya yang ingin menggapai pendidikan tinggi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Bagaimana penyandang disabilitas netra mengerjakan UTBK-SNBT?
Mereka menggunakan pembaca layar pada perangkat komputer yang telah disesuaikan serta mendapat tambahan waktu dan pendampingan pengawas khusus dari panitia.

Apakah UGM memiliki fasilitas untuk mahasiswa disabilitas netra?
Ya, UGM terus mengembangkan fasilitas inklusif seperti jalur pemandu, lift bicara, dan layanan konversi materi kuliah ke format aksesibel.

Apa motivasi Angel memilih Ilmu Komunikasi?
Angel ingin menjadi jurnalis radio atau penyiar untuk menyuarakan isu disabilitas dan membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang berkarya di dunia media.

[SOCIAL_FB]: “Saya tidak ingin keterbatasan ini dijadikan alasan untuk menyerah.” Kalimat Angel, penyandang disabilitas netra, ini terasa begitu kuat. Ia berhasil lolos UGM jalur SNBT dengan kerja keras, teknologi asistif, dan dukungan keluarga yang luar biasa. Selamat, Angel! Langkahmu adalah inspirasi bagi kita semua.[SOCIAL_THREADS]: Angel tidak bisa melihat, tapi ia bisa “melihat” masa depannya dengan sangat jelas. Lolos UGM lewat SNBT, ia ingin jadi jurnalis radio. Keterbatasan hanyalah perspektif—dan Angel memilih untuk tidak dibatasi. Sebuah utas tentang perjuangan, teknologi, dan kemenangan. 🧵✨

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User