Subhan Yusuf dan Irsyad Al Ghifari Ungkap Strategi Komunikasi Diplomasi Indonesia

Jakarta – Dalam diskusi bertajuk “Diplomasi Publik dan Komunikasi Kebijakan di Era Digital” yang digelar secara virtual pada Kamis (22/5), dua figur dari l

Subhan Yusuf dan Irsyad Al Ghifari Ungkap Strategi Komunikasi Diplomasi Indonesia

Jakarta – Dalam diskusi bertajuk “Diplomasi Publik dan Komunikasi Kebijakan di Era Digital” yang digelar secara virtual pada Kamis (22/5), dua figur dari latar belakang yang saling melengkapi hadir menyampaikan pandangan tajam mereka. Subhan Yusuf, pengamat hubungan internasional sekaligus Magister dari Civitas University, Warsawa, Polandia, dan Irsyad Al Ghifari, S.E., M.I.Kom, praktisi komunikasi kebijakan publik dan keuangan, bersama-sama mengupas tantangan serta peluang Indonesia dalam membangun citra dan pengaruh di kancah global melalui jalur komunikasi strategis.

Profil Singkat: Dua Perspektif, Satu Tujuan

Subhan Yusuf merupakan peneliti yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mengkaji arsitektur diplomasi Eropa Timur dan pergeseran geopolitik global. Kiprah akademiknya di Warsawa memberinya lensa perbandingan langsung tentang bagaimana negara-negara Uni Eropa merangkai pesan publik untuk mendukung kepentingan nasional. Sementara itu, Irsyad Al Ghifari membawa pengalaman lapangan yang kaya dalam merancang narasi kebijakan publik serta mengelola komunikasi keuangan negara. Dengan latar belakang ganda di bidang ekonomi dan komunikasi, ia sering menjadi jembatan antara teknokrat dan masyarakat awam.

Keduanya sepakat bahwa diplomasi Indonesia tidak lagi bisa hanya mengandalkan jalur formal pemerintah. Publik global, investor, dan komunitas internasional kini menuntut transparansi, cerita yang manusiawi, serta data yang mudah dipahami. Di sinilah persilangan keahlian keduanya menjadi relevan.

Subhan Yusuf: Belajar dari Eropa, Memetakan Jalan Indonesia

Dalam paparannya, Subhan Yusuf menyoroti bagaimana Polandia dan negara-negara Visegrad lainnya berhasil mereposisi citra mereka pasca-Perang Dingin dengan memadukan diplomasi budaya dan kampanye ekonomi berbasis storytelling. Ia mencontohkan transformasi Warsawa dari kota abu-abu menjadi pusat inovasi teknologi melalui narasi yang konsisten selama dua dekade.

“Indonesia memiliki modal naratif yang jauh lebih kaya: keberagaman budaya, transisi demokrasi yang damai, dan posisi sebagai negara kepulauan strategis. Namun, kita sering terjebak dalam jargon tanpa eksekusi komunikasi yang mengena. Saat G20, kita tampil kuat, tetapi pesan itu tidak selalu berkelanjutan di kanal-kanal publik setelahnya,” ujar Subhan.

Ia menekankan tiga pilar utama yang perlu diperbaiki:

  • Ketahanan pesan: Seluruh kementerian dan lembaga harus menyanyikan lagu yang sama dalam frekuensi yang tepat.
  • Lokalisasi konten: Pesan untuk investor Eropa tidak bisa sama dengan narasi untuk mitra di Afrika atau Pasifik.
  • Keterlibatan diaspora: Lebih dari 6 juta WNI di luar negeri adalah duta alami yang belum terkelola secara maksimal.

Irsyad Al Ghifari: Komunikasi Kebijakan Harus Membumi

Mengambil alih sesi berikutnya, Irsyad menyoroti sisi domestik yang justru menjadi fondasi kredibilitas internasional. Menurutnya, tidak mungkin membangun diplomasi publik yang kuat jika di dalam negeri komunikasi kebijakan masih berjarak dengan rakyat.

“Kita sering mendengar istilah ‘policy brief’ dan ‘press release’ yang terlampau kaku. Padahal, publik hari ini ingin tahu bukan hanya ‘apa’ kebijakannya, tetapi ‘mengapa’ dan ‘bagaimana dampaknya’. Kalau APBN bisa dijelaskan lewat infografik yang menyentuh emosi, mengapa laporan resmi masih penuh tabel yang sulit dicerna?” tanyanya retoris.

Irsyad memaparkan pengalamannya saat terlibat dalam sosialisasi kebijakan subsidi energi yang dialihkan menjadi bantuan langsung tunai. Ia mencatat bahwa keberhasilan program tersebut sangat dipengaruhi oleh cara komunikasi yang menggunakan bahasa sederhana, tokoh lokal sebagai perantara, dan saluran yang beragam—dari radio komunitas hingga media sosial. Ia mendorong Kementerian Luar Negeri dan instansi terkait untuk mengadopsi pola komunikasi berbasis empati dan data.

  • Humanisasi data: Mengganti angka dengan cerita individu yang terdampak.
  • Agilitas birokrasi: Menyiapkan juru bicara yang tidak hanya fasih berbahasa asing, tetapi juga tanggap terhadap isu viral.
  • Transparansi risiko: Mengakui kelemahan justru memperkuat kepercayaan, asal disertai solusi konkret.

Sinergi yang Mendesak di Tengah Gejolak Geopolitik

Diskusi semakin menarik saat kedua pembicara berdialog tentang situasi geopolitik terkini: perang dagang AS-Tiongkok yang belum usai, ketegangan Laut Natuna Utara, dan dinamika BRICS yang terus bergerak tanpa Indonesia. Subhan mengingatkan bahwa dalam ketidakpastian seperti ini, posisi “bebas aktif” Indonesia harus dikomunikasikan secara lebih cerdas agar tidak diartikan sebagai pasif atau oportunis.

Irsyad menambahkan dimensi domestik dari persoalan tersebut. Ia berpendapat bahwa gejolak global yang memengaruhi harga pangan dan energi seharusnya menjadi panggung bagi pemerintah untuk menunjukkan kapasitas komunikasi krisisnya. “Ketika rakyat merasakan negara hadir lewat informasi yang jernih, kepercayaan terhadap kebijakan luar negeri pun ikut naik. Diplomasi akhirnya bukan lagi urusan elite, tetapi milik semua warga,” ucapnya.

Mereka berdua sepakat bahwa presiden terpilih mendatang mewarisi panggung internasional yang tidak mudah, tetapi justru di situlah letak urgensi reformasi komunikasi diplomasi. Subhan menutup sesi dengan sebuah refleksi dari pengalaman Eropa: “Polandia tidak berubah karena memiliki tentara terkuat, tetapi karena berhasil meyakinkan dunia bahwa negara itu modern dan dapat diandalkan. Indonesia perlu mendefinisikan ulang keandalannya dalam narasi yang segar.”

Dengan latar belakang akademis dan praktis yang mumpuni, pandangan Subhan Yusuf dan Irsyad Al Ghifari memberikan arah yang konkret: komunikasi bukan sekadar pelengkap kebijakan, melainkan inti dari pengaruh sebuah bangsa di abad ke-21. [SOCIAL_TWEET]: Akademisi & praktisi komunikasi, Subhan Yusuf dan Irsyad Al Ghifari, ungkap formula diplomasi publik Indonesia yang membumi. Belajar dari Eropa hingga kisah BLT, keduanya soroti pentingnya humanisasi data & narasi konsisten. #DiplomasiIndonesia #KomunikasiPublik #Geopolitik2025[SOCIAL_TG]: 🔍 Dua pakar—Subhan Yusuf dari Warsawa dan Irsyad Al Ghifari—bedah strategi komunikasi diplomasi RI. Kunci: narasi yang manusiawi, transparan, dan lokal. Selengkapnya…

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User