Bahlil Merendah Usai Dipuji Prabowo, Kinerja ESDM Dijawab dengan Kerja
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per kuartal ketiga 2025, realisasi investasi di sektor energi dan sumber daya mineral diperkirakan menembus kisaran USD 30 miliar, me...
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per kuartal ketiga 2025, realisasi investasi di sektor energi dan sumber daya mineral diperkirakan menembus kisaran USD 30 miliar, melanjutkan tren kenaikan year-on-year yang berlangsung sejak 2022. Kinerja tersebut menjadi salah satu dasar apresiasi Presiden Prabowo Subianto terhadap jajaran kabinetnya, termasuk Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Menanggapi pujian itu, Bahlil memilih sikap merendah dan menegaskan bahwa apresiasi pimpinan harus dijawab dengan kerja, bukan selebrasi.
Dalam keterangannya, Bahlil menilai kepuasan Presiden bukan garis akhir, melainkan beban moral untuk menjaga konsistensi kinerja. Ia menekankan bahwa sektor ESDM menyimpan tanggung jawab besar, mulai dari ketahanan energi, penerimaan negara, hingga agenda hilirisasi yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.
"Apresiasi dari Presiden harus kami jawab dengan kerja. Kinerja bukan untuk dipuji, tetapi untuk dipertanggungjawabkan kepada rakyat," ujar Bahlil.
Kinerja Sektor ESDM dalam Angka
Secara fundamental, sektor ESDM merupakan salah satu penyumbang terbesar penerimaan negara bukan pajak (PNBP), yakni pendapatan negara di luar perpajakan, dengan kontribusi diperkirakan melampaui Rp 150 triliun pada 2024. Subsektor mineral dan batu bara menjadi motor utama, ditopang harga komoditas yang relatif stabil serta kebijakan hilirisasi, yaitu pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri.
Dari sisi hilirisasi nikel, nilai ekspor produk turunannya tercatat mengalami kenaikan tajam, dari hanya sekitar USD 1–2 miliar sebelum kebijakan larangan ekspor bijih nikel pada 2020 menjadi menembus USD 30 miliar per tahun. Sementara itu, rasio elektrifikasi, yakni persentase rumah tangga yang telah teraliri listrik, berada di level sekitar 99,9 persen, mendekati elektrifikasi universal.
Di Satu Sisi: Fundamental yang Menguat
Di satu sisi, apresiasi Presiden memiliki dasar data yang cukup kokoh. Investasi hulu migas menunjukkan tren membaik dengan sejumlah proyek strategis mulai berproduksi, sementara hilirisasi memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik. Sentimen pasar terhadap saham berbasis komoditas dan energi juga relatif positif, tercermin dari valuasi emiten tambang dan energi terbarukan yang mengalami kenaikan dalam setahun terakhir. Likuiditas di sektor ini turut ditopang arus investasi asing ke proyek smelter dan industri baterai, yang menahan laju capital outflow di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, pengelolaan subsidi energi, baik BBM, LPG, maupun listrik, yang menelan anggaran ratusan triliun rupiah per tahun dinilai lebih tertata, dengan upaya penyaluran yang lebih tepat sasaran meski implementasinya masih menemui kendala di lapangan.
Di Sisi Lain: Pekerjaan Rumah yang Belum Tuntas
Di sisi lain, sejumlah indikator menunjukkan tantangan serius. Lifting minyak, yaitu volume produksi minyak siap jual, diperkirakan masih berkisar di level 580 ribu barel per hari, di bawah target APBN 2025 sekitar 605 ribu barel per hari. Tren penurunan produksi akibat kejenuhan sumur-sumur tua ini memperbesar ketergantungan pada impor BBM dan membebani neraca perdagangan migas yang mencatat defisit.
Transisi energi juga berjalan lebih lambat dari target. Bauran energi terbarukan, yakni porsi energi bersih dalam total konsumsi energi nasional, baru mencapai kisaran 13–14 persen, jauh dari target 23 persen yang semula dipatok untuk 2025. Aspek lingkungan dari ekspansi tambang nikel, termasuk deforestasi dan pengelolaan limbah, turut menjadi sorotan yang berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap portofolio investasi hijau di Indonesia.
Proyeksi 2026: Antara Target dan Realita
Ke depan, pemerintah mematok proyeksi investasi sektor ESDM di atas USD 33 miliar untuk 2026, dengan fokus pada peningkatan lifting migas, percepatan pembangkit energi bersih, dan pendalaman hilirisasi mineral. Sejumlah analis menilai, konsistensi kebijakan dan kepastian regulasi akan menjadi penentu apakah target tersebut terealisasi atau kembali meleset.
Pada akhirnya, pernyataan merendah Bahlil mencerminkan kesadaran bahwa pujian politik tidak mengubah angka di lapangan. Bagi pasar dan publik, ukuran keberhasilan tetap sederhana: lifting yang naik, investasi yang masuk, dan energi yang terjangkau bagi seluruh rakyat.
Comments (0)