Asing Kembali Berburu Saham Perbankan, IHSG Sesi I Menguat

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per penutupan sesi I, Jumat (21/8/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan 0,98 persen ke level 7.386. Penguatan ini ditopang derasnya a...

Aug 21, 2026 - 23:02
0 0
Asing Kembali Berburu Saham Perbankan, IHSG Sesi I Menguat

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per penutupan sesi I, Jumat (21/8/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan 0,98 persen ke level 7.386. Penguatan ini ditopang derasnya aliran dana asing yang mencatatkan pembelian bersih Rp 1,25 triliun, dengan saham perbankan berkapitalisasi besar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), menjadi incaran utama. BBRI ditutup menguat 2,34 persen, sedangkan BBCA naik 1,87 persen.

Pembalikan Arah di Tengah Tren Capital Outflow

Aksi borong asing hari ini menandai pembalikan arah setelah dua sesi sebelumnya IHSG mengalami penurunan akibat penjualan bersih asing yang mencapai Rp 3,4 triliun sepanjang pekan ini. Indeks sektor keuangan (IDXFINANCE) ikut menguat 1,56 persen, seiring membaiknya sentimen pasar terhadap emiten perbankan menjelang rilis laporan keuangan semester pertama. Volume transaksi bursa juga meningkat menjadi Rp 14,2 triliun, naik dibanding rata-rata harian pekan lalu yang hanya Rp 11,8 triliun. Di pasar valuta asing, rupiah ikut menguat ke Rp 15.820 per dolar AS, level terkuat dalam tiga pekan terakhir.

Bagi pembaca awam, perlu dipahami dua istilah kunci. Pertama, capital outflow adalah keluarnya dana investor asing dari pasar keuangan domestik, yang umumnya menekan harga saham dan nilai tukar. Kedua, pembelian bersih atau net buy berarti nilai total pembelian asing lebih besar daripada penjualannya. Angka Rp 1,25 triliun hari ini merupakan net buy, sehingga secara kumulatif aliran dana asing sepanjang tahun berjalan tetap positif di kisaran Rp 44 triliun.

Pro: Fundamental Perbankan Masih Solid

Di satu sisi, aksi beli asing tidak bisa dilepaskan dari kondisi fundamental. Pertumbuhan kredit diproyeksikan mencapai 12 persen year-on-year (perbandingan dengan periode yang sama tahun sebelumnya) pada 2026, didukung konsumsi rumah tangga dan ekspansi korporasi. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap terkendali di kisaran 2,1 persen, jauh di bawah ambang aman 5 persen yang ditetapkan regulator. Likuiditas perbankan juga memadai, tercermin dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga yang masih tinggi.

Dari sisi valuasi, saham perbankan dinilai masih wajar. Kepala Riset PT Cakrawala Sekuritas, Andi Wibowo, mengatakan rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV) sektor perbankan berada di sekitar 1,7 kali, masih di bawah rata-rata lima tahunan sebesar 2,0 kali. “Artinya, masih ada ruang apresiasi selama laba bank tetap tumbuh,” ujarnya. Beberapa bank besar juga menawarkan dividen yield di atas 5 persen, menarik bagi investor yang mengincar pendapatan pasif dari portofolionya.

Kontra: Valuasi Premium dan Risiko Global

Di sisi lain, pembelian asing hari ini tidak lepas dari risiko. BBCA, misalnya, diperdagangkan pada PBV di kisaran 4,8 kali, jauh lebih mahal dibanding rata-rata sektor sehingga koreksinya bisa lebih dalam saat sentimen memburuk. Konsentrasi kepemilikan asing yang tinggi pada saham perbankan besar justru membuat pasar sensitif: begitu arah kebijakan bank sentral global berbalik, potensi capital outflow bisa kembali mengalir deras dan menekan indeks dalam waktu singkat.

Analis independen Rina Maharani mengingatkan agar aksi borong satu hari tidak langsung disimpulkan sebagai tren jangka panjang. “Kita perlu melihat konsistensinya dalam beberapa pekan ke depan. Jika bank sentral Amerika Serikat atau The Fed tidak kunjung menurunkan suku bunga acuannya, dolar akan tetap kuat dan tekanan terhadap pasar negara berkembang bisa kembali,” katanya. Ketegangan geopolitik juga menjadi variabel yang sulit diprediksi dan kerap memicu aksi jual panik.

Proyeksi: Sentimen Positif Perlu Dikawal Data

Ke depan, arah IHSG akan sangat ditentukan oleh kombinasi suku bunga acuan Bank Indonesia yang saat ini berada di level 5,00 persen, stabilitas rupiah, dan data ekonomi global. Sejumlah analis memproyeksikan indeks berpotensi bergerak menuju kisaran 7.600–7.700 hingga akhir tahun, dengan catatan aliran dana asing tetap bertahan dan inflasi domestik terjaga di bawah 3 persen. Stabilitas nilai tukar menjadi kunci utama, karena pelemahan rupiah yang tajam akan memicu kekhawatiran inflasi impor dan mendorong investor asing menarik dananya. Namun, proyeksi tersebut bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika sentimen pasar.

Investor perlu mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat, keputusan suku bunga global, serta laporan keuangan emiten semester kedua. Sebagai penutup, penguatan hari ini menunjukkan resiliensi pasar domestik di tengah ketidakpastian, tetapi kehati-hatian tetap diperlukan: keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada fundamental jangka panjang, bukan sekadar mengikuti arah aliran dana harian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User