Arlida Putri Tanggapi Santai Komentar Miring soal Tato

Di tengah sorot lampu panggung dan gemerlap industri hiburan, penyanyi dangdut Arlida Putri kembali menjadi perbincangan hangat. Bukan karena single terbar

Jul 09, 2026 - 15:28
0 0
Arlida Putri Tanggapi Santai Komentar Miring soal Tato

Di tengah sorot lampu panggung dan gemerlap industri hiburan, penyanyi dangdut Arlida Putri kembali menjadi perbincangan hangat. Bukan karena single terbarunya, melainkan karena unggahan foto yang menampilkan tato di lengan kanannya. Alih-alih meradang atau melontarkan pembelaan berapi-api, Arlida justru memilih jalan adem ayem. Menyusuri komentar pedas warganet, ia hanya tersenyum tipis dan berkata, “Biarin aja, ini tubuh saya.

Sikap tenang Arlida itu sontak memicu diskusi publik yang lebih luas: apakah seorang figur publik memiliki kebebasan penuh atas tubuhnya, ataukah ia terikat pada ekspektasi moral penontonnya? Berita ini mencoba menimbang dua sisi mata uang yang kerap berbenturan di era media sosial.

Tanggapan Santai di Tengah Riuh Komentar

Kronologi sederhana: akun Instagram resmi Arlida memposting momen di balik panggung dengan lengan yang tak lagi polos. Desain tato bunga teratai berwarna hitam—simbol pencerahan dan kemurnian dalam budaya Timur—langsung menuai beragam reaksi. Sebagian penggemar memuji estetikanya, namun tak sedikit yang melontarkan stigma negatif. “Penyanyi dangdut kok bertato, gak takut dosa?” tulis seorang warganet.

Bukannya menghapus unggahan atau memblokir akun pengkritik, Arlida justru menyematkan komentar itu dan menjawab dengan ringan, “Rezeki sudah diatur, tato cuma hiasan.” Respons tersebut memperlihatkan strategi komunikasi rendah drama yang semakin langka di kalangan selebritas. Di era cancel culture, sikap non-reaktif seperti ini justru berpotensi meredam eskalasi perundungan siber.

“Saya memahami banyak yang belum nyaman dengan tato. Tapi seni itu subjektif. Selama nggak merugikan orang, kenapa harus diributkan?” ujar Arlida saat ditemui usai sebuah acara televisi, sembari merapikan lengan bajunya.

Pernyataan tersebut seolah menjadi katup pelepas tekanan. Arlida tidak mencoba mengubah pandangan konservatif, ia justru mengakui perbedaan pendapat sebagai keniscayaan. Kedewasaan emosional inilah yang kemudian menuai pujian dari pengamat media sosial.

Pro dan Kontra: Tubuh Figur Publik di Bawah Mikroskop Publik

Perdebatan tentang tato di tubuh figur publik bukanlah fenomena baru di Indonesia. Lanskap budaya tanah air yang diwarnai norma ketimuran kerap menempatkan tato sebagai simbol perlawanan atau kenakalan. Namun gelombang modernisasi dan ekspresi artistik secara perlahan mengikis stigma itu. Kasus Arlida Putri menjadi panggung kecil yang mempertemukan dua arus besar: kebebasan individu versus kontrol sosial.

Dari kacamata pendukung: tato adalah bagian dari hak otonomi tubuh. Publik figur, seperti warga biasa, berhak menentukan apa yang ia kenakan pada kulitnya. Arlida, sebagai seniman, bisa jadi memakai tato bukan sekadar gaya, melainkan medium ekspresi diri yang memperkaya persona panggung. Dalam industri hiburan yang kompetitif, diferensiasi visual justru memperkuat personal branding. Selain itu, tak ada regulasi hukum Indonesia yang melarang warga negara, termasuk artis, untuk memiliki tato.

Dari sudut pandang konservatif: figur publik memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar karena ia menjadi panutan. Apa yang dikenakan seorang idola berpotensi ditiru oleh penggemarnya, termasuk di kalangan anak muda yang masih labil. Di beberapa daerah, tato masih diasosiasikan dengan tindakan kriminal, meskipun anggapan itu sudah banyak terpatahkan. Kritik juga muncul karena genre musik dangdut lekat dengan citra tradisional dan religius, sehingga tato dianggap “kurang pas” secara kemasan.

Menariknya, Arlida Putri tak sepenuhnya menampik kritik itu. Dalam sesi bincang-bincang, ia mengakui bahwa ia sempat berpikir panjang sebelum memutuskan menato tubuhnya. “Saya menghormati yang keberatan. Saya paham, gak semua suka. Toh, suara saya yang dinilai, bukan kulit saya,” katanya. Dengan kalimat itu, Arlida tidak terjebak dalam konfrontasi, melainkan mengajak publik untuk menimbang esensi karya di atas tampilan fisik.

Di Antara Seni dan Stigma: Pembelajaran dari Kasus Arlida

Kasus ini menggarisbawahi bahwa ruang digital membutuhkan literasi emosional yang lebih matang—baik dari figur publik maupun warganet. Sikap Arlida yang enggan terpancing justru memutus rantai konflik yang sering kali berbuntut panjang. Di sisi lain, masyarakat juga perlu merefleksikan batas antara kritik konstruktif dan penghakiman atas pilihan pribadi yang tak melanggar hukum.

Bagi industri hiburan, fenomena ini adalah pengingat bahwa selera dan moralitas penonton tidak bisa diseragamkan. Mungkin, alih-alih mempersoalkan tato, energi publik lebih baik diarahkan untuk mengapresiasi kualitas vokal Arlida yang memang terlatih. Adapun bagi Arlida sendiri, tato itu bukanlah pernyataan politik, melainkan goresan cerita personal yang akan terus ia kenakan—entah disukai atau tidak.

Pro: Tato adalah hak ekspresi pribadi, memperkuat personal branding, dan tidak dilarang oleh hukum. Kontra: Figur publik perlu mempertimbangkan dampak panutan; tato dapat berbenturan dengan ekspektasi budaya konservatif terutama dalam genre musik tradisional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User