Anindya Bakrie: Rachmat Gobel Pengusaha Pejuang, Bukan Sekadar Pemodal
Suasana haru menyelimuti rumah duka Rachmat Gobel di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (10/7/2026). Di tengah deretan karangan bunga dan isak tangis keluarga, hadir sosok Ketua Umum Kamar Dagang dan Indus...
Suasana haru menyelimuti rumah duka Rachmat Gobel di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (10/7/2026). Di tengah deretan karangan bunga dan isak tangis keluarga, hadir sosok Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie. Kehadirannya bukan sekadar formalitas seorang pemimpin organisasi pengusaha, melainkan penghormatan terakhir kepada senior yang telah banyak mewarnai lanskap bisnis dan kebijakan ekonomi Indonesia.
Dalam percakapan singkat usai bertakziah, Anindya Bakrie melukiskan almarhum sebagai figur langka yang tidak menjadikan bisnis sekadar instrumen akumulasi modal. “Beliau selalu menekankan bahwa profit hanyalah salah satu elemen. Yang lebih penting adalah bagaimana roda usaha itu bisa memberi manfaat berlipat, mulai dari penciptaan lapangan kerja, alih teknologi, hingga penguatan fondasi industri dalam negeri,” tuturnya dengan nada lirih.
Jejak Bisnis dan Pengabdian untuk Negeri
Nama Rachmat Gobel tak lepas dari perjalanan panjang PT Gobel International. Di bawah kendalinya, perusahaan yang dirintis sang ayah, Thayeb Mohammad Gobel, itu menjelma menjadi salah satu konglomerasi paling tangguh di Asia Tenggara. Kerja sama strategis dengan raksasa elektronik Jepang, Panasonic, menjadi tonggak penting yang membuktikan bahwa tangan pengusaha nasional mampu bersaing di panggung global. Namun, bagi kolega dan mitra bisnisnya, keberhasilan itu tak mengubah prinsip dasarnya: bisnis harus berpijak pada kemandirian nasional.
Jabatannya sebagai Menteri Perdagangan pada 2014–2015 menjadi bukti nyata kepeduliannya terhadap ekonomi kerakyatan. Di periode singkat itu, ia getol mendorong kebijakan yang melindungi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari gempuran produk impor. Banyak pihak masih mengingat bagaimana ia bersikukuh membela pasar tradisional dan petani lokal di tengah tekanan liberalisasi perdagangan. Langkahnya kerap menuai kontroversi, namun bagi Anindya Bakrie, justru di situlah letak keteladanan Rachmat Gobel: ia berani mengambil risiko politis demi keyakinan ekonominya.
Teladan bagi Generasi Pengusaha Muda
Anindya Bakrie mengakui banyak belajar dari almarhum, terutama saat dirinya mulai memimpin Kadin. “Pak Gobel memperlihatkan bahwa Kadin bukan sekadar tempat berkumpulnya para pemodal besar. Organisasi ini adalah jembatan antara kepentingan pengusaha dan hajat hidup rakyat banyak. Pesan itu yang selalu saya ingat,” ujarnya. Di era kepemimpinan Rachmat Gobel sebagai Ketua Umum Kadin (2014–2019), kamar dagang itu memang sering tampil sebagai kekuatan penyeimbang kebijakan pemerintah. Ia tak segan mengkritisi rencana pemerintah yang dianggap bisa mematikan daya saing industri nasional.
Bagi kalangan pengusaha muda, almarhum meninggalkan warisan berupa paradigma “bisnis berbasis nilai”. Ia sering menyebut bahwa keuntungan ekonomi tidak bisa dipisahkan dari keberlanjutan sosial dan lingkungan. Konsep ini ia terapkan melalui diversifikasi Grup Gobel ke sektor kesehatan, infrastruktur, dan properti yang selalu menyertakan program tanggung jawab sosial perusahaan secara terintegrasi. Salah satu contohnya adalah pendirian rumah sakit dan klinik yang tak cuma melayani segmen premium, tapi juga membuka akses bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui skema subsidi silang.
Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Kepergian Rachmat Gobel meninggalkan jejak panjang dalam peta ekonomi Indonesia. Banyak yang akan mengenangnya sebagai pribadi yang sederhana meski bergelar konglomerat. Busana batik dan peci hitam yang nyaris selalu melekat melambangkan kedekatannya dengan akar budaya Nusantara. “Beliau menunjukkan bahwa identitas nasional bukan penghambat modernitas. Justru di sanalah letak kekuatan seorang pengusaha Indonesia,” kenang Anindya Bakrie di sela-sela prosesi tahlil.
Tak hanya di ranah bisnis dan politik, almarhum juga aktif mendorong riset dan pengembangan melalui Gobel Dharma Nusantara. Ia percaya bahwa masa depan Indonesia bergantung pada penguasaan teknologi. Oleh karena itu, ia banyak mengalokasikan sumber daya untuk pelatihan teknisi, beasiswa pendidikan tinggi, serta inkubasi startup berbasis inovasi. Anindya menyebut bahwa langkah ini sejalan dengan visi Kadin saat ini yang ingin mempercepat transformasi digital UMKM nasional.
Di penghujung perbincangan, Anindya menyelipkan pesan yang seakan menjadi intisari dari seluruh kiprah almarhum. “Rachmat Gobel membuktikan bahwa laba bersih yang besar tak ada artinya jika negeri ini masih bergulat dengan kemiskinan dan ketimpangan. Bagi beliau, bisnis adalah jalan pengabdian. Dan jalan itu akan terus kami lanjutkan,” pungkasnya. Awan duka masih menggantung di langit Jakarta, namun nilai-nilai yang diwariskan Rachmat Gobel tampak lebih benderang dari sebelumnya.
Comments (0)