Dua Hari Sebelum Wafat, Rachmat Gobel Bahas Kebijakan Perdagangan dengan Mendag

Dunia usaha dan pemerintahan Indonesia tengah berduka. Rachmat Gobel, mantan Menteri Perdagangan dan tokoh bisnis terkemuka, menghembuskan napas terakhir pada Kamis (10/7). Di tengah suasana duka, ter...

Dua Hari Sebelum Wafat, Rachmat Gobel Bahas Kebijakan Perdagangan dengan Mendag

Dunia usaha dan pemerintahan Indonesia tengah berduka. Rachmat Gobel, mantan Menteri Perdagangan dan tokoh bisnis terkemuka, menghembuskan napas terakhir pada Kamis (10/7). Di tengah suasana duka, terungkap fakta bahwa hanya dua hari sebelumnya, almarhum masih menyempatkan diri menemui Menteri Perdagangan Budi Santoso untuk membahas isu strategis yang selama ini menjadi perhatian besarnya: penguatan struktur ekspor nasional dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

Pertemuan Terakhir yang Penuh Makna

Menurut keterangan tertulis yang dirilis Kementerian Perdagangan, pertemuan pada Selasa (8/7) berlangsung di kantor pusat kementerian dan berdurasi hampir dua jam. Meskipun tidak lagi menjabat, Gobel datang dengan membawa sejumlah data dan catatan yang ia susun secara pribadi. Ia menyampaikan pandangannya tentang perlunya Indonesia mempercepat transformasi dari ekonomi berbasis komoditas mentah menjadi produsen barang setengah jadi dan jadi, terutama di sektor pertanian dan perikanan. "Beliau begitu bersemangat, seakan masih merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap arah kebijakan perdagangan Indonesia," ujar seorang staf kementerian yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Dalam diskusi, Gobel menyoroti tren penurunan harga komoditas global dan dampaknya terhadap defisit neraca perdagangan. Ia mengusulkan insentif fiskal yang lebih agresif bagi industri hilir berbasis sumber daya alam. Topik lain yang mengemuka adalah perlunya Indonesia mengamankan akses pasar nontradisional di Afrika dan Amerika Latin. Mendag Budi Santoso disebut sangat mengapresiasi masukan tersebut dan berjanji akan menindaklanjutinya dalam rapat koordinasi dengan kementerian teknis.

Kenangan Mendag: Sosok Visioner dan Pekerja Keras

Dalam pernyataan belasungkawa yang disampaikan pada Jumat (11/7), Mendag Budi Santoso mengenang Gobel bukan hanya sebagai pendahulu, tetapi juga sebagai mentor yang hangat. "Beliau adalah pemimpin yang selalu turun ke lapangan, bukan hanya duduk di belakang meja. Setiap kali berkunjung ke daerah, beliau pastikan menyapa pegawai hingga level operasional, menanyakan kondisi kerja mereka, dan bahkan kerap memberikan bantuan pribadi untuk anak-anak staf yang berprestasi," kenang Budi. Ia menambahkan, Gobel memiliki kebiasaan unik: setiap kali menghadiri rapat koordinasi nasional, ia selalu membawa produk-produk unggulan UMKM dari berbagai daerah untuk dipamerkan di lobi kantornya.

Pujian serupa mengalir dari pelaku usaha. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut Gobel sebagai jembatan antara birokrasi dan dunia usaha. "Beliau mengerti bahwa kebijakan tanpa keterlibatan pelaku usaha hanya akan menjadi dokumen. Komunikasinya sangat terbuka, khas pengusaha yang terbiasa menyelesaikan masalah," ujarnya. Gobel juga dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Sejumlah mantan bawahannya di kementerian mengisahkan, meskipun telah sukses membangun kerajaan bisnis elektronik, ia tidak segan duduk di kantin sederhana bersama pegawai rendahan dan berbagi cerita tentang masa kecilnya di Gorontalo.

Warisan Sang Industrialis Nasional

Rachmat Gobel menorehkan perjalanan panjang sebelum menjabat sebagai Menteri Perdagangan pada Kabinet Indonesia Bersatu II (2009–2014). Sebagai Komisaris Utama PT Gobel International, ia melanjutkan warisan ayahnya, almarhum Thayeb Mohammad Gobel, pendiri perusahaan yang berhasil menjalin kemitraan strategis dengan Matsushita (kini Panasonic) pada 1970-an. Di bawah kendalinya, Gobel Group melebarkan sayap ke industri komponen otomotif, makanan dan minuman, serta logistik. Filosofinya sederhana: "Indonesia harus bisa membuat sendiri apa yang selama ini kita impor."

Selama menjadi menteri, Gobel menelurkan sejumlah kebijakan kontroversial namun berdampak luas, di antaranya pengamanan pasar dalam negeri melalui pengaturan impor hortikultura dan produk elektronik, yang memicu protes dari negara mitra dagang. Ia tidak gentar. Data Badan Pusat Statistik mencatat, pada masa jabatannya, indeks produksi industri manufaktur sedang dan besar naik rata-rata 5,2% per tahun, sementara kontribusi industri pengolahan terhadap PDB sempat menyentuh 21% pada 2012—tertinggi dalam satu dekade. Gobel juga menggagas program restrukturisasi mesin industri kecil dan menengah yang menyalurkan kredit bersubsidi senilai Rp2,3 triliun ke lebih dari 1.200 unit usaha.

Di luar jabatan formal, Gobel aktif mendorong pendidikan vokasi. Ia mendanai beasiswa bagi ribuan pemuda Gorontalo untuk belajar teknik di politeknik dalam negeri dan Jepang. "SDM adalah satu-satunya keunggulan kompetitif yang tidak bisa ditiru dalam semalam," begitu ucapannya kerap dikutip. Hingga akhir hayat, ia masih tercatat sebagai pembina beberapa lembaga pelatihan industri.

Kepergian Rachmat Gobel pada usia 63 tahun menyisakan duka mendalam, sekaligus warisan pemikiran yang tetap relevan. Pertemuan dua hari sebelum wafat menjadi simbol dedikasi tanpa henti seorang putra bangsa yang ingin melihat Indonesia berdiri di kaki sendiri. Sebagaimana yang ia bisikkan dalam ruang pertemuan itu, "Tugas kita belum selesai, Pak Menteri. Ekspor harus tumbuh 10 persen tahun depan." Kini, tugas itu berada di pundak para penerusnya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User