Aksi Jual Asing Seret IHSG ke Zona Merah, Sektor Konsumer Non-Primer Melawan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi pada sesi pertama perdagangan hari ini, ditutup melemah 0,36 persen ke level 7.210,54. Aksi jual yang dilakukan oleh investor asing menjadi biang ...

Jul 28, 2026 - 00:26
0 1
Aksi Jual Asing Seret IHSG ke Zona Merah, Sektor Konsumer Non-Primer Melawan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi pada sesi pertama perdagangan hari ini, ditutup melemah 0,36 persen ke level 7.210,54. Aksi jual yang dilakukan oleh investor asing menjadi biang keladi terpuruknya bursa saham domestik. Dari sebelas sektor yang diukur, hanya satu sektor yang mampu bertahan di zona positif, yakni sektor konsumer non-primer yang justru membukukan kenaikan.

Tekanan Jual Asing Membayangi Pasar

Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp1,45 triliun di seluruh pasar. Di pasar reguler, net sell tercatat sebesar Rp1,32 triliun, menunjukkan bahwa pelaku asing tengah mengurangi eksposur di saham-saham unggulan. Saham sektor perbankan dan pertambangan menjadi korban utama, dengan penurunan rata-rata di kisaran 1-2 persen.

Beberapa saham individual yang menjadi sasaran jual asing antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melemah 1,2 persen ke level Rp9.250, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 1,5 persen ke Rp5.550, serta PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang terkoreksi 2,1 persen ke Rp2.350. Saham-saham big cap lainnya seperti emiten perbankan besar dan produsen batu bara juga terpantau memerah cukup dalam. Di sisi lain, investor asing tampaknya merespons ketidakpastian global yang meningkat, terutama terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) serta ketegangan geopolitik di kawasan. Hal ini mendorong terjadinya capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Sementara itu, investor domestik justru mencatatkan aksi beli bersih sebesar Rp1,1 triliun, mencerminkan keyakinan mereka terhadap prospek jangka panjang pasar saham Indonesia.

Menurut Andi Setiawan, analis dari Samuel Sekuritas, tekanan jual asing ini lebih didorong oleh faktor eksternal ketimbang fundamental domestik. Pasar akan tetap volatile hingga ada kejelasan arah suku bunga The Fed, ujarnya.

Sektor Konsumer Non-Primer Melawan Arus

Berbeda dengan sektor lainnya, sektor konsumer non-primer menjadi satu-satunya sektor yang mampu mengakhiri sesi pertama dengan penguatan. Indeks sektor ini naik 0,48 persen, didorong oleh saham-saham di bidang ritel, otomotif, dan barang-barang konsumsi sekunder. Saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) naik 3,4 persen, sementara PT Astra International Tbk (ASII) menguat 0,8 persen, menjadi pendorong utama kenaikan sektor ini.

Kenaikan ini mengindikasikan adanya optimisme terhadap perbaikan daya beli masyarakat, terutama menjelang periode musim liburan yang biasanya mendongkrak konsumsi. Analis menilai bahwa sentimen positif dari data penjualan ritel terbaru serta ekspektasi pemulihan ekonomi domestik turut menjadi katalis. Di samping itu, harga komoditas yang relatif stabil memberikan ruang bagi perusahaan-perusahaan ini untuk mempertahankan margin keuntungan.

Akankah IHSG Bangkit di Sesi Kedua?

Pelaku pasar kini menanti perkembangan lebih lanjut pada sesi kedua perdagangan. Secara teknikal, IHSG masih ditopang oleh level support di area 7.180, sehingga potensi koreksi tajam relatif terbatas. Namun, apabila tekanan jual asing terus berlanjut, bukan tidak mungkin indeks akan menguji level tersebut.

Volume perdagangan yang mencapai 12,8 miliar saham dengan nilai transaksi Rp7,3 triliun menunjukkan bahwa likuiditas pasar masih cukup dalam. Hal ini memberikan kesempatan bagi investor domestik untuk melakukan akumulasi selektif, terutama pada saham-saham yang telah terkoreksi namun memiliki fundamental yang kuat.

Sejumlah analis memperkirakan bahwa IHSG berpotensi berbalik arah pada sesi kedua jika sentimen global membaik atau adanya aksi borong saham oleh investor institusi dalam negeri. Meski demikian, kehati-hatian tetap diperlukan mengingat data ekonomi global yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, termasuk angka inflasi dan klaim pengangguran AS yang dapat mempengaruhi arah pasar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User