Pasar Modal RI Mulai Membaik, Namun Dana Asing Belum Kembali

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan dan berhasil bertahan di atas level 6.400 setelah sempat terkoreksi lebih dari 5 persen sepan...

Aug 23, 2026 - 07:15
0 0
Pasar Modal RI Mulai Membaik, Namun Dana Asing Belum Kembali

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan dan berhasil bertahan di atas level 6.400 setelah sempat terkoreksi lebih dari 5 persen sepanjang kuartal lalu. Nilai tukar rupiah juga ditutup di kisaran Rp16.350 per dolar AS, menguat tipis dari posisi terendahnya pada awal bulan. Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mengalami penurunan ke kisaran 6,85 persen, sebuah indikasi bahwa tekanan jual di pasar pendapatan tetap mulai mereda.

Sinyal Pemulihan Mulai Terlihat

Kondisi tersebut dinilai sebagai tanda awal perbaikan fundamental pasar keuangan domestik. Likuiditas perbankan tercatat membaik dengan rasio penyaluran kredit yang stabil, sementara cadangan devisa negara masih berada di posisi aman di atas USD150 miliar. Inflasi yang terjaga dalam rentang sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen memberikan ruang bagi otoritas moneter untuk mempertahankan stabilitas makro.

Dari sisi valuasi, sejumlah saham unggulan kini diperdagangkan pada rasio price-to-earnings yang lebih menarik dibandingkan rata-rata historis lima tahun terakhir. Secara teori, kondisi ini membuka peluang masuknya arus dana baru apabila sentimen pasar global ikut mendingan.

Investor Asing Masih Menjauh

Namun demikian, satu persoalan besar belum terjawab: investor asing belum menunjukkan niat untuk kembali. Data bursa mencatat investor asing masih membukukan net sell atau penjualan bersih di pasar ekuitas selama beberapa pekan berturut-turut. Akumulasi capital outflow dari portofolio asing sepanjang tahun ini diperkirakan telah melampaui Rp50 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Fenomena serupa terlihat di pasar obligasi. Kepemilikan asing atas SBN diperkirakan tersisa di kisaran 13 sampai 14 persen dari total outstanding, turun signifikan dari puncaknya di level 20 persen beberapa tahun lalu. Istilah net sendiri merujuk pada selisih antara pembelian dan penjualan; angka negatif berarti dana keluar melebihi dana masuk.

“Pasar kita sudah mulai pulih dari sisi harga dan likuiditas, tapi partisipasi asing belum kembali seperti sebelum ketidakpastian global meningkat. Mereka masih menunggu kejelasan arah suku bunga The Fed serta stabilitas kebijakan domestik,” ujar Direktur Utama Mandiri Investasi dalam sesi diskusi pasar pekan ini.

Ia menambahkan bahwa tanpa kehadiran investor institusi global, pemulihan indeks cenderung lambat dan bergantung pada likuiditas domestik semata. Partisipasi ritel memang tinggi, namun kontribusinya tidak cukup untuk menggerakkan kapitalisasi pasar secara signifikan.

Dua Sisi Persoalan

Di satu sisi, minimnya kehadiran asing dapat dibaca positif karena pasar menjadi kurang rentan terhadap gejolak eksternal. Ketika komposisi pemegang aset didominasi investor domestik, volatilitas akibat capital outflow mendadak berpotensi menurun. Fundamental korporasi juga relatif tertopang konsumsi rumah tangga yang masih tumbuh di kisaran 5 persen year-on-year.

Di sisi lain, absennya dana asing menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Likuiditas pasar menjadi lebih tipis, spread bid-offer melebar, dan proses penemuan harga menjadi kurang efisien. Selain itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 yang ditargetkan di kisaran 5 persen sulit tercapai optimal tanpa dukungan investasi portofolio dari luar negeri.

Apa yang Ditunggu Pasar

Para pelaku pasar umumnya menunggu dua katalis utama. Pertama, arah kebijakan suku bunga acuan The Fed yang diyakini akan mulai melunak pada semester ini. Penurunan suku bunga global secara historis mendorong aliran dana kembali ke pasar berkembang, termasuk Indonesia. Kedua, kepastian arah kebijakan fiskal dan politik domestik, yang akan menentukan persepsi risiko negara di mata investor global.

Selama kedua faktor tersebut belum jelas, tren net sell asing berpotensi berlanjut meski intensitasnya menurun. Proyeksi sejumlah ekonom menyebut IHSG masih akan bergerak lateral di kisaran 6.300 sampai 6.700 dalam jangka pendek, dengan skenario penguatan lebih kuat hanya jika arus masuk asing mulai tercatat positif secara konsisten.

Pada akhirnya, pemulihan pasar keuangan Indonesia tampak sedang berlangsung, namun fondasinya masih rapuh. Kembalinya investor asing bukan sekadar soal sentimen pasar, melainkan cerminan keyakinan terhadap fundamental jangka panjang ekonomi domestik. Sampai momen itu tiba, pasar kemungkinan besar akan terus bertumpu pada kekuatan likuiditas dalam negeri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User