JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membuka kartu soal ambisi besar Indonesia menjadi basis atau markas data center kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Tenggara. Dalam pengungkapan yang jarang disampaikan secara terbuka, Airlangga membeberkan tiga syarat utama yang harus dipenuhi Tanah Air sebelum investor global bersedia menanamkan modalnya di sektor infrastruktur digital tersebut.
Ketiga syarat itu bukan soal regulasi atau insentif fiskal semata. Airlangga menyebut faktor lahan, pasokan listrik, dan ketersediaan air menjadi penentu utama apakah Indonesia layak disebut sebagai kandidat serius pusat data AI. Pernyataan ini mencuat di tengah derasnya kebutuhan komputasi global yang menuntut pusat data berkapasitas raksasa dengan konsumsi energi luar biasa besar.
Tiga Prasyarat yang Dipatok Pemerintah
Dalam paparannya, Airlangga menegaskan bahwa pembangunan data center skala AI tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Ia merinci tiga kebutuhan mendasar yang harus tersedia dalam jumlah dan kualitas memadai.
- Lahan luas dan strategis — Pusat data AI membutuhkan area besar untuk housing server, sistem pendingin, hingga fasilitas pendukung. Lokasi juga harus dekat dengan jalur konektivitas utama.
- Pasokan listrik berkapasitas besar dan stabil — Operasional AI 24 jam nonstop menuntut daya listrik dalam skala gigawatt. Pemadaman sekecil apa pun bisa merugikan operator.
- Ketersediaan air melimpah — Sistem pendinginan server generasi baru masih bergantung pada air dalam volume besar. Tanpa sumber air yang memadai, suhu perangkat tidak bisa dikendalikan.
"Tiga hal yang diperlukan untuk data center, pertama adalah land, kedua adalah listrik, dan ketiga adalah air," ujar Airlangga dalam keterangannya, seperti dikutip dari pernyataan resminya.
Mengapa Tiga Faktor Ini Krusial
Pernyataan Airlangga bukan tanpa dasar. Pusat data AI generasi terkini, yang digunakan untuk melatih model bahasa besar dan komputasi skala tinggi, dikenal sangat rakus energi. Sejumlah laporan industri menyebut satu fasilitas hyperscale bisa mengonsumsi listrik setara kebutuhan puluhan ribu rumah tangga.
Di sisi lain, Indonesia memiliki keunggulan geografis berupa lahan luas di luar Jawa, termasuk Kawasan Ekonomi Khusus dan wilayah industri yang tengah dikembangkan. Potensi energi terbarukan seperti hidro, surya, dan panas bumi juga menjadi nilai tambah bila mampu dikelola untuk memenuhi kebutuhan pusat data.
Namun, tantangan tetaplah nyata. Infrastruktur ketenagakerjaan listrik di sejumlah daerah belum merata, sementara ketersediaan air bersih di kawasan industri padat sering menjadi persoalan. Pemerintah pun disebut tengah memetakan lokasi-lokasi yang dinilai memenuhi ketiga syarat tersebut, terutama di kawasan yang sudah memiliki koneksi kabel laut dan jaringan transmisi kuat.
Taruhan Besar Ekonomi Digital
Jika tiga syarat itu terpenuhi, Airlangga optimistis Indonesia bisa mencuri posisi dalam persaingan pusat data AI regional yang saat ini didominasi Singapura, Malaysia, dan Jepang. Masuknya pemain global dinilai bakal mendorong transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan kedaulatan data nasional.
Sebaliknya, kegagalan menyiapkan lahan, listrik, dan air berisiko membuat Indonesia hanya menjadi pasar pengguna, bukan pemain infrastruktur. Pemerintah kini berada di titik krusial: membuktikan bahwa janji menjadi markas data center AI bukan sekadar wacana, melainkan proyek nyata yang siap dieksekusi dalam waktu dekat.
Comments (0)