Zulhas: Koperasi Desa Bukan Pesaing Minimarket, Ini Tujuannya

Semarang — Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, merespons secara langsung kritik yang dilontarkan oleh sejumlah mahasiswa terkait eksistensi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Da...

Jul 28, 2026 - 04:26
0 0
Zulhas: Koperasi Desa Bukan Pesaing Minimarket, Ini Tujuannya

Semarang — Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, merespons secara langsung kritik yang dilontarkan oleh sejumlah mahasiswa terkait eksistensi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Dalam sebuah forum diskusi di Semarang, ia menerima pertanyaan tajam yang menyebutkan bahwa koperasi desa tidak akan mampu bersaing dengan minimarket waralaba maupun warung kelontong tradisional khas Madura.

Mendengar hal itu, Zulkifli Hasan langsung meluruskan. Ia menegaskan bahwa membandingkan Koperasi Desa Merah Putih dengan supermarket atau minimarket merupakan kekeliruan mendasar. Menurutnya, kedua entitas tersebut memiliki fondasi, misi, dan mekanisme operasional yang sangat berbeda. Koperasi ini, kata dia, sama sekali tidak dirancang sebagai pusat perbelanjaan ritel modern.

Bukan Arena Kompetisi Bisnis Ritel

Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa koperasi desa lahir dari semangat gotong royong dan pemberdayaan masyarakat akar rumput. Ia menekankan bahwa kehadiran Koperasi Desa Merah Putih merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat fundamental ekonomi kerakyatan, bukan untuk masuk ke gelanggang persaingan bisnis ritel yang sudah sangat ketat. "Koperasi ini bukan untuk berkompetisi dengan minimarket. Ini instrumen pengaman sosial dan ekonomi desa," ucapnya dengan nada meyakinkan.

Ia mencontohkan, koperasi desa akan difokuskan pada pengelolaan komoditas pangan pokok yang dibutuhkan warga sehari-hari. Mulai dari beras, gula, minyak goreng, hingga telur. Dengan skema koperasi, harga barang-barang tersebut dapat ditekan lebih rendah dari harga pasar karena rantai distribusi dipangkas langsung ke produsen lokal, khususnya petani dan peternak di sekitar desa.

Kekuatan Model Koperasi versus Ritel Modern

Secara prinsip, koperasi dimiliki oleh anggota yang juga merupakan warga desa setempat. Hal ini berbanding terbalik dengan minimarket waralaba yang berorientasi pada keuntungan korporasi dan pemegang saham. Dalam koperasi, setiap anggota memiliki hak suara yang setara dalam pengambilan keputusan, serta berhak atas sisa hasil usaha (SHU) yang dibagikan secara adil di akhir periode.

Zulhas menambahkan, operasional koperasi desa akan mengutamakan penyerapan hasil panen petani lokal. Ini artinya, petani tidak perlu lagi menjual hasil bumi ke tengkulak dengan harga yang sering kali merugikan. Koperasi akan membeli dengan harga yang wajar, kemudian menjualnya kembali ke anggota dan masyarakat sekitar dengan margin yang sangat tipis. Dengan pola ini, perputaran uang akan terjaga di dalam desa dan menggerakkan ekonomi lokal.

Menjawab Fenomena Warung Madura dan Ritel Tradisional

Mengenai kekhawatiran akan terpinggirkannya warung tradisional, termasuk warung khas Madura, Zulkifli Hasan memberikan pandangan yang meneduhkan. Ia justru melihat warung-warung kelontong tersebut sebagai mitra strategis, bukan ancaman. Pola operasional koperasi yang tidak buka selama 24 jam dan tidak menyediakan semua jenis barang konsumsi seperti minimarket, justru menciptakan ruang bagi warung tradisional untuk tetap eksis.

Koperasi desa dapat bertindak sebagai distributor atau supplier bagi warung-warung kecil di sekitarnya. Dengan mendapatkan pasokan barang dari koperasi dengan harga grosir, pemilik warung tradisional dapat menjaga daya saing mereka tanpa harus mengorbankan keuntungan. Zulhas optimistis, sinergi antara koperasi desa dan warung tradisional mampu menciptakan ekosistem ekonomi desa yang lebih tangguh dan inklusif.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa pemerintah telah menyiapkan regulasi dan pembinaan agar keberadaan Koperasi Desa Merah Putih tidak menimbulkan gejolak sosial di tengah masyarakat. Pendampingan manajemen, akses permodalan dengan bunga rendah, serta pelatihan tata kelola akan diberikan secara berkelanjutan agar koperasi tidak sekadar menjadi proyek yang kemudian terbengkalai.

Proyeksi dan Target Jangka Panjang

Pemerintah menargetkan pembentukan puluhan ribu koperasi desa secara bertahap hingga ke pelosok negeri. Zulkifli Hasan mengakui bahwa transformasi ini tidak akan berjalan instan. Perlu sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan partisipasi aktif masyarakat agar koperasi benar-benar menjadi pilar baru perekonomian nasional dari desa.

Ia menutup sesi diskusi dengan mengajak mahasiswa untuk turut mengawal dan bahkan terlibat dalam pengembangan koperasi di desa masing-masing. Sebagai agen perubahan, mahasiswa diharapkan mampu menyumbangkan pemikiran segar agar koperasi desa tidak hanya menjadi jargon, melainkan benar-benar menjadi solusi atas ketimpangan ekonomi dan kerawanan pangan yang kerap menghantui pedesaan. Dengan fondasi yang kuat dan model bisnis yang tepat, Zulhas yakin Koperasi Desa Merah Putih mampu menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User