Ziarah Konglomerat ke Gunung Kawi dan Berkah Ekonomi Wisata Religi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perjalanan wisatawan nusantara diperkirakan menembus lebih dari 800 juta perjalanan sepanjang 2023, dengan tren kenaikan yang berlanjut hingga 2024. Di te...

Aug 12, 2026 - 03:10
0 0
Ziarah Konglomerat ke Gunung Kawi dan Berkah Ekonomi Wisata Religi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perjalanan wisatawan nusantara diperkirakan menembus lebih dari 800 juta perjalanan sepanjang 2023, dengan tren kenaikan yang berlanjut hingga 2024. Di tengah tren tersebut, segmen wisata religi tumbuh konsisten, dan Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan publik setelah beredar kisah seorang konglomerat Tanah Air yang disebut rutin bolak-balik berziarah ke lokasi itu sejak lama.

Kisah tersebut menggambarkan bagaimana sebagian pelaku usaha besar di Indonesia masih memadukan aktivitas bisnis dengan tradisi spiritual. Gunung Kawi sendiri dikenal sebagai kompleks ziarah yang memadukan makam tokoh yang dihormati masyarakat serta kelenteng, menjadikannya simbol akulturasi budaya sekaligus magnet wisata religi lintas kalangan, dari peziarah biasa hingga pengusaha papan atas.

Antara Keyakinan dan Rasionalitas Bisnis

Di satu sisi, praktik ziarah oleh kalangan pengusaha dipandang sebagai bagian dari budaya yang sah dan memberi ketenangan psikologis dalam pengambilan keputusan bisnis yang penuh risiko. Bagi sebagian pelaku usaha, ritual semacam ini berfungsi sebagai penyeimbang mental di tengah tekanan pasar, fluktuasi nilai tukar, dan ketidakpastian ekonomi global yang terus bergerak.

Di sisi lain, kalangan analis menilai keputusan bisnis yang sehat tetap harus bertumpu pada fundamental, yakni data keuangan, tata kelola perusahaan, dan valuasi yang rasional. Spiritualitas boleh menjadi penguat batin, tetapi bukan pengganti analisis risiko, manajemen likuiditas, maupun strategi portofolio yang terukur dan disiplin.

"Wisata religi memiliki nilai budaya dan ekonomi yang nyata bagi daerah. Namun keberhasilan bisnis pada akhirnya ditentukan oleh fundamental dan tata kelola, bukan semata ritual," ujar seorang pengamat ekonomi pariwisata.

Dampak Ekonomi bagi Daerah Sekitar

Kunjungan tokoh-tokoh terkenal, termasuk konglomerat, kerap menciptakan efek promosi tidak langsung bagi sebuah destinasi. Gunung Kawi mengalami kenaikan perhatian publik setiap kali namanya dikaitkan dengan figur terkemuka, yang berdampak pada pendapatan pelaku UMKM, pedagang suvenir, penyedia jasa transportasi, hingga penginapan di sekitar lokasi ziarah.

Secara makro, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, dan pemerintah menargetkan kontribusi yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Wisata religi diperkirakan menampung jutaan kunjungan per tahun di berbagai daerah, mulai dari makam para wali di pesisir utara Jawa hingga situs ziarah di Jawa Timur, menjadikannya segmen yang relatif tahan terhadap gejolak musiman.

Pro: Penguat Ekonomi Lokal

Dari sisi positif, popularitas wisata religi meningkatkan perputaran uang di ekonomi lokal. Setiap wisatawan domestik diperkirakan membelanjakan rata-rata ratusan ribu hingga jutaan rupiah per perjalanan, menciptakan efek ganda atau multiplier effect bagi desa wisata. Rasio belanja wisatawan terhadap pendapatan daerah menjadikan sektor ini salah satu andalan pendapatan asli daerah (PAD) di sejumlah kabupaten, sekaligus penyerap tenaga kerja informal yang signifikan.

Kontra: Risiko Komersialisasi dan Sentimen yang Keliru

Namun ada sisi yang perlu dicermati. Komersialisasi berlebihan berpotensi mengaburkan nilai religius sebuah situs ziarah. Selain itu, narasi yang mengaitkan kekayaan seseorang dengan ritual tertentu dapat memicu sentimen yang keliru di masyarakat, seolah kesuksesan finansial bisa diraih melalui jalan pintas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan berbagai lembaga literasi keuangan berulang kali mengingatkan pentingnya edukasi agar masyarakat tidak terjebak pada praktik yang justru merugikan secara finansial.

Proyeksi ke Depan

Ke depan, tren wisata religi diproyeksikan tetap tumbuh seiring pemulihan daya beli masyarakat dan peningkatan infrastruktur daerah tujuan wisata. Bagi pelaku usaha, segmen ini menawarkan peluang di bidang perhotelan, kuliner, dan ekonomi kreatif, meskipun valuasi setiap peluang tetap perlu diuji secara ketat sebelum modal ditanamkan.

Pada akhirnya, kisah konglomerat yang rutin berziarah ke Gunung Kawi mencerminkan dua wajah ekonomi Indonesia: modernitas bisnis yang bergerak cepat, dan tradisi yang tetap hidup di tengahnya. Keduanya dapat berjalan beriringan, selama setiap keputusan finansial tetap berpijak pada fundamental yang sehat dan perhitungan yang matang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User