Zainal Habib: Sarjana NU Harus Peka Perubahan Zaman
Zainal Habib, dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU),
Zainal Habib, dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), menyerukan agar para sarjana NU segera bertransformasi menghadapi disrupsi digital dan ekonomi baru. Seruan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ISNU di Surabaya yang dihadiri ratusan akademisi dan profesional muda Nahdliyin.
Puasa Inovasi dan Riset
Di depan peserta rakornas, Zainal Habib menyoroti rendahnya kontribusi sarjana NU dalam bidang riset terapan. Data internal ISNU menunjukkan, dari 7,8 juta sarjana yang terdaftar di lingkungan NU, hanya sekitar 12 persen yang aktif dalam penelitian atau publikasi ilmiah. “Kita tidak boleh hanya menjadi jamaah yang pandai berdoa, tetapi miskin gagasan. Sarjana NU harus hadir sebagai pemecah masalah, bukan sekadar pelengkap seminar,” ujarnya.
Jalan Menuju Kemandirian Ekonomi Umat
Zainal Habib yang juga pengajar Fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang itu menegaskan bahwa wadah ISNU harus menjadi motor kemandirian ekonomi. Salah satu program yang ia canangkan adalah pendirian 100 inkubator bisnis berbasis pesantren dan kampus NU di seluruh Indonesia. Program ini dijadwalkan mulai berjalan pada awal 2026 dengan target melahirkan 1.000 wirausahawan muda setiap tahunnya.
“Kemandirian ekonomi umat bukan jargon. Kita perlu koperasi modern yang dikelola profesional, platform digital, dan akses permodalan syariah. Semua itu hanya bisa digerakkan oleh sarjana yang paham teknologi,” tegasnya.
Timeline Transformasi ISNU 2024–2026
Dalam paparannya, Zainal Habib membeberkan sejumlah tonggak yang akan dijalani ISNU dalam dua tahun ke depan:
- November 2024: Peluncuran program ISNU Digital Scholarship untuk 500 mahasiswa S2 dan S3 yang meneliti isu energi, pangan, dan ekonomi syariah.
- Maret 2025: Pembentukan ISNU Research Hub di 20 kampus NU, dilengkapi laboratorium data dan kecerdasan buatan.
- Agustus 2025: Ekspedisi ekonomi kreatif ke 15 kabupaten berbasis pesantren guna memetakan potensi produk halal lokal.
- Januari 2026: Pembukaan akselerator bisnis tahap pertama dengan modal awal Rp25 miliar dari kemitraan lembaga zakat dan perbankan syariah.
Menjawab Tantangan Bonus Demografi
Zainal Habib mengingatkan, Indonesia akan menikmati puncak bonus demografi pada 2030. Jika tidak dipersiapkan sejak sekarang, bonus tersebut justru menjadi bencana pengangguran. Ia mendorong agar setiap sarjana NU memiliki sertifikasi kompetensi, literasi digital, dan jejaring global. “Jangan sampai anak muda NU hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Mereka harus mengisi posisi strategis, baik di birokrasi, korporasi, maupun industri teknologi,” imbuhnya.
Rakornas ISNU turut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Koperasi dan UKM, serta sejumlah investor ventura syariah yang sepakat membangun kemitraan strategis. Dengan pengalaman sebagai dosen dan ketua organisasi sarjana, Zainal Habib diyakini mampu menjadi jembatan antara tradisi pesantren dan tuntutan modernitas, sehingga Nahdlatul Ulama tetap relevan di tengah gempita perubahan.
[SOCIAL_TWEET]: Zainal Habib, Ketua PP ISNU, ajak sarjana NU terjun ke riset & bisnis. Targetkan 100 inkubator pesantren mulai 2026. #SarjanaNU #EkonomiUmat #ISNUMaju[SOCIAL_TG]: 📚 Zainal Habib: Sarjana NU saatnya bertransformasi! Riset, bisnis, digitalisasi jadi kunci kemandirian umat. Seru nih programnya! 💡
Comments (0)