Ketegangan geopolitik di Semenanjung Arab tidak pernah benar-benar mereda. Di balik rentetan serangan rudal dan drone yang kerap melintasi perbatasan, terbentang rekam jejak rivalitas berdarah antara kelompok Houthi (Ansar Allah) di Yaman dan koalisi pimpinan Arab Saudi. Perseteruan ini bukan sekadar perselisihan teritorial biasa, melainkan konvergensi rumit antara friksi sektarian, dinamika politik domestik Yaman, serta perang proksi kawasan yang melibatkan pengaruh kuat Teheran dan Riyadh.
Akar Perlawanan dari Pegunungan Saada (1990-an – 2004)
Bibit konflik bermula pada dekade 1990-an di wilayah Saada, Yaman utara. Gerakan yang awalnya bernama Believing Youth (Pemuda Percaya) ini dipelopori oleh Hussein Badreddin al-Houthi. Gerakan ini lahir sebagai respon keagamaan kaum minoritas Syiah Zaidiyah yang merasa terpinggirkan secara ekonomi dan terancam oleh ekspansi ideologi Salafi-Wahabi yang disokong dana Arab Saudi di sepanjang wilayah perbatasan utara.
Ketegangan berubah menjadi konfrontasi militer terbuka pada Juni 2004 ketika pemerintah Yaman di bawah Presiden Ali Abdullah Saleh berusaha menangkap Hussein al-Houthi, yang berujung pada tewasnya sang pemimpin dan memicu enam gelombang perang gerilya berdarah hingga tahun 2010.
Eskalasi Menuju Medan Tempur Terbuka (2011 – 2015)
Peralihan kekuasaan pasca-gelombang Arab Spring pada 2011 gagal menciptakan stabilitas. Ketidakpuasan publik terhadap suksesi Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi dimanfaatkan kelompok Houthi untuk beraliansi taktis dengan mantan musuh mereka, Ali Abdullah Saleh.
- September 2014: Milisi Houthi melancarkan ofensif kilat dan berhasil merebut ibu kota Sanaa, memaksa kabinet pemerintahan Hadi melarikan diri ke kota pelabuhan Aden.
- Januari 2015: Houthi secara de facto membubarkan parlemen dan mengambil alih kendali istana kepresidenan Yaman.
- 26 Maret 2015: Mengkhawatirkan berdirinya rezim pro-Iran di perbatasan selatannya, Arab Saudi membentuk koalisi sembilan negara dan resmi meluncurkan agresi udara bersandi Operation Decisive Storm.
"Intervensi militer pada 2015 tidak hanya mengubah perang saudara domestik Yaman menjadi medan pertempuran regional, tetapi juga mengunci Arab Saudi dalam perang asimetris berbiaya luar biasa tinggi," ungkap laporan analisis pertahanan kawasan Timur Tengah.
Perang Asimetris dan Dampak Kemanusiaan
Meskipun Arab Saudi mengerahkan persenjataan canggih bernilai miliaran dolar, milisi Houthi bertahan dengan taktik gerilya pegunungan serta persenjataan asimetris. Houthi meningkatkan eskalasi dengan meluncurkan ratusan serangan drone dan rudal balistik ke wilayah kedaulatan Saudi, termasuk serangan telak ke fasilitas kilang minyak Aramco pada 2019.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat perang berkepanjangan ini sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia modern. Data lembaga internasional menunjukkan:
- Lebih dari 377.000 jiwa melayang akibat dampak langsung pertempuran maupun kelaparan serta penyakit.
- Sebanyak 4,5 juta warga Yaman terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
- Lebih dari 80 persen populasi Yaman kini bergantung penuh pada bantuan kemanusiaan darurat.
Kendati perjanjian pemulihan hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Iran yang dimediasi Beijing pada 2023 sempat membuka celah de-eskalasi, rivalitas mendalam dan ketegangan maritim di Laut Merah menunjukkan bahwa bara konflik Yaman tetap menjadi ancaman laten bagi stabilitas global.
Comments (0)