Sep 13, 2026
Nasional

KALTENG — Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Kebakaran Lahan Gambut

Kepulan asap putih pekat membubung tinggi menutupi cakrawala di atas hamparan lahan gambut yang meranggas. Di balik pekatnya kabut asap yang menyengat mata

KALTENG — Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Kebakaran Lahan Gambut

Kepulan asap putih pekat membubung tinggi menutupi cakrawala di atas hamparan lahan gambut yang meranggas. Di balik pekatnya kabut asap yang menyengat mata dan mengancam paru-paru, puluhan personel Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) terus merangsek masuk ke dalam vegetasi yang membara. Tanpa kenal lelah, mereka menarik selang air berdiameter besar dan memompa sisa-sisa air dari parit yang kian mengering demi menaklukkan si jago merah yang tak kunjung padam.

Kebakaran lahan gambut bukanlah sekadar api yang membumihanguskan permukaan tanah. Ini adalah pertempuran melelahkan melawan musuh tak terlihat yang bersembunyi jauh di kedalaman tanah bercampur sisa tumbuhan lapuk. Meskipun permukaan atas tampak telah padam dan menyisakan abu kehitaman, temperatur tinggi di kedalaman dua hingga tiga meter di bawah tanah terus membakar gambut secara perlahan namun pasti, siap meletup kembali setiap kali angin kencang berembus.

Anatomi Kebakaran Gambut: Pertempuran Bawah Tanah yang Rumit

Karakteristik spesifik lahan gambut menjadikan proses pemadaman memakan waktu yang sangat lama dan membutuhkan sumber daya luar biasa. Air yang disemprotkan di permukaan sering kali hanya menguap sebelum mampu meresap hingga ke lapisan gambut terdalam. Kondisi ini memaksa para petugas pemadam kebakaran di lapangan untuk menerapkan metode suntik gambut, yaitu menusukkan nozzle besi pemadam langsung menembus ke dalam tanah untuk membasahi pusat bara api subterranean.

"Memadamkan api di lahan gambut itu seperti menyiram tumpukan batu bara yang menyala di dalam bumi. Kami menyiram bagian atas sampai basah kuyup, namun beberapa jam kemudian asap pekat keluar lagi dari titik lain di sekitarnya. Karakteristik api subterranean ini sangat menjebak dan menguras stamina anggota," ujar Budi Santoso, salah seorang komandan lapangan Manggala Agni di lokasi kebakaran.

Rekapitulasi Kebakaran Lahan dan Sebaran Titik Panas

Berdasarkan data pantauan satelit dan hasil inventarisasi lapangan, lonjakan titik panas (hotspot) menunjukkan peningkatan signifikan selama puncak musim kemarau. Lahan gambut yang terdegradasi akibat pemuatan saluran drainase ilegal menjadi wilayah yang paling rentan tergerus api.

Wilayah Evaluasi Luas Terbakar (Hektar) Jumlah Hotspot Status Penanganan
Kalimantan Tengah 12.450 1.240 Tanggap Darurat
Riau 8.300 850 Siaga Bencana
Sumatera Selatan 10.120 990 Tanggap Darurat

Penurunan muka air tanah hingga lebih dari 50 sentimeter di bawah permukaan tanah menjadi faktor kunci yang memicu kebakaran meluas. Ketika ekosistem gambut mengering, ia kehilangan kemampuan alaminya sebagai penyimpan air dan berubah menjadi hamparan bahan bakar fosil raksasa yang sangat rentan terbakar.

Dampak Ekologis dan Desakan Restorasi Sistemis

Dampak dari kebakaran gambut yang terus berulang ini amat mengerikan. Selain melepaskan emisi karbon raksasa ke atmosfer yang mempercepat krisis iklim global, bencana ini memicu gelombang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mengancam puluhan ribu warga sipil. Penghentian konversi lahan serta pembendungan kanal-kanal drainase menjadi langkah mutlak yang tidak boleh ditawar lagi.

"Lahan gambut yang dikeringkan adalah bom waktu ekologis. Selama strategi penanganan kita hanya berfokus pada pemadaman saat api sudah berkobar, tanpa memulihkan hidrologi gambut melalui rewetting dan penyekatan kanal, kita akan terus terjebak dalam siklus bencana yang sama setiap tahun," tegas Dr. Irwan Haryanto, pakar ekologi dan penata ruang lahan basah.

Perjuangan tiada henti dari para petugas di garis depan merupakan bentuk dedikasi luar biasa. Namun, keberanian petugas Manggala Agni dan tim gabungan menembus kabut beracun tidak akan pernah cukup jika tidak diimbangi dengan penegakan hukum tegas terhadap korporasi atau oknum pembakar lahan, serta komitmen permanen untuk mengembalikan fungsi alami ekosistem gambut Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User