Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) per September 2026, penjualan mobil listrik di Indonesia mengalami kenaikan year-on-year sebesar 45%, dengan total volume mencapai 12.500 unit pada kuartal III. Pameran GIIAS 2026 di ICE BSD, Tangerang, menjadi salah satu momentum kunci yang merefleksikan tren ini, di mana Xpeng mencatatkan 937 Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) untuk jajaran mobil listriknya, termasuk model X9 yang sempat diuji coba oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Pencapaian Xpeng di Tengah Pertumbuhan Pasar EV
Angka 937 SPK selama GIIAS 2026 menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan partisipasi Xpeng di pameran serupa tahun sebelumnya yang hanya mencatat 520 SPK. Model X9, yang merupakan MPV listrik premium, menjadi primadona dengan kontribusi 60% dari total pesanan. Kehadiran Menteri Keuangan yang secara langsung menguji kendaraan tersebut memberikan sentimen positif di pasar, memperkuat persepsi bahwa pemerintah mendukung adopsi kendaraan listrik. Dari sisi fundamental, pertumbuhan ini sejalan dengan kebijakan insentif PPnBM DTP (Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah) yang masih berlaku hingga akhir 2026, menekan harga jual hingga 10% bagi konsumen.
Dua Sisi: Antusiasme vs Tantangan
Pro: Di satu sisi, pencapaian Xpeng mencerminkan meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap teknologi baterai dan infrastruktur pendukung. Berdasarkan survei internal Gaikindo, 72% responden GIIAS menyatakan tertarik beralih ke mobil listrik dalam dua tahun ke depan, dengan alasan utama penghematan bahan bakar hingga 60% dibandingkan mobil konvensional. Dukungan pemerintah juga terlihat dari rencana pembangunan 2.500 stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) baru pada 2027, yang akan meningkatkan rasio SPKLU terhadap kendaraan listrik dari 1:15 menjadi 1:10. Likuiditas perbankan pun mulai mengalir ke sektor ini, dengan kredit kendaraan listrik tumbuh 35% year-on-year per Agustus 2026.
Kontra: Di sisi lain, tantangan masih membayangi. Harga mobil listrik seperti Xpeng X9 yang dibanderol mulai Rp 1,2 miliar masih tergolong tinggi bagi segmen menengah, sehingga pangsa pasar baru sekitar 8% dari total penjualan mobil nasional. Infrastruktur pengisian daya di luar Jawa masih terbatas, dengan hanya 15% SPKLU berlokasi di Sumatera, Kalimantan, dan Indonesia Timur. Selain itu, persaingan semakin ketat dengan masuknya merek seperti BYD, Wuling, dan Hyundai yang juga mencatatkan SPK di atas 1.000 unit selama GIIAS. Capital outflow dari investor asing yang sempat terjadi akibat ketidakpastian suku bunga global juga mempengaruhi valuasi saham emiten komponen kendaraan listrik di bursa.
Proyeksi dan Implikasi Ekonomi
Keberhasilan Xpeng di GIIAS 2026 menjadi indikator bahwa pasar kendaraan listrik Indonesia berada pada fase akselerasi. Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Prof. Agus Purwanto, menilai bahwa Angka 937 SPK menunjukkan bahwa konsumen mulai melihat mobil listrik sebagai aset jangka panjang, bukan sekadar tren. Namun, pemerintah harus memastikan infrastruktur dan insentif berjalan beriringan agar tidak terjadi gelembung permintaan.
Dari sisi makro, peningkatan adopsi EV dapat menurunkan impor BBM sebesar 2,5 juta barel per tahun pada 2028, memperbaiki neraca perdagangan. Proyeksi pertumbuhan penjualan EV nasional pada 2027 diperkirakan mencapai 60% year-on-year, didorong oleh rencana peluncuran 10 model baru dari berbagai merek. Namun, risiko tetap ada: jika suku bunga acuan BI naik di atas 6%, biaya kredit kendaraan listrik bisa meningkat, menekan daya beli.
Kesimpulannya, pencapaian Xpeng di GIIAS 2026 adalah sinyal positif yang harus diimbangi dengan kebijakan yang matang. Antusiasme pasar dan dukungan pemerintah menjadi fondasi kuat, tetapi tantangan infrastruktur dan persaingan harga memerlukan solusi kolaboratif antara pelaku industri dan regulator. Dengan proyeksi pertumbuhan yang solid, sektor kendaraan listrik berpotensi menjadi salah satu motor baru ekonomi Indonesia dalam lima tahun ke depan.
Comments (0)