WASHINGTON/PARIS — Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membatalkan penggunaan katapel
Dalam sebuah pernyataan resmi, pihak Kementerian Pertahanan Prancis menegaskan bahwa komitmen teknologi antara Prancis dan Washington terkait sistem katape
Dalam sebuah pernyataan resmi, pihak Kementerian Pertahanan Prancis menegaskan bahwa komitmen teknologi antara Prancis dan Washington terkait sistem katapel elektromagnetik tetap berjalan sesuai rencana. Sistem EMALS (Electromagnetic Aircraft Launch System) yang dipasok oleh General Atomics, kontraktor pertahanan AS, menjadi tulang punggung kemampuan operasional PANG yang direncanakan akan menggantikan kapal induk Charles de Gaulle pada dekade 2030-an mendatang. Keputusan Trump yang berfokus pada pembangunan kapal induk kelas Gerald R. Ford berikutnya dengan sistem uap dinilai Paris sebagai masalah internal pertahanan AS yang tidak berimplikasi langsung pada kontrak bilateral Prancis–Amerika Serikat.
Dampak Keputusan Trump bagi Angkatan Laut AS
Kebijakan Trump untuk mengembalikan katapel uap pada program kapal induk masa depan AS mencerminkan keengganannya terhadap teknologi EMALS yang dinilainya terlalu kompleks dan rentan terhadap gangguan. Dalam berbagai kesempatan, Trump telah mengkritik sistem elektromagnetik tersebut karena biaya pengembangannya yang membengkak hingga mencapai lebih dari USD 800 juta per unit kapal, serta tingkat kegagalan operasional yang dianggapnya tidak dapat diterima. Katapel uap konvensional, meskipun membutuhkan perawatan intensif dan kapasitas pembangkit tenaga uap yang besar, dianggapnya lebih teruji dalam pertempuran.
Namun, analisis pertahanan mencatat bahwa pengembalian ke teknologi uap pada kapal induk kelas baru akan menimbulkan tantangan signifikan. Kapal induk kelas Ford yang telah menggunakan EMALS memerlukan desain integrasi sistem yang sangat berbeda dibandingkan pendahulunya kelas Nimitz. Perubahan mendadak pada fase pengembangan dapat memperlambat program modernisasi armada kapal induk AS, yang saat ini berjumlah 11 unit aktif. Lebih dari itu, keputusan tersebut juga berpotensi mengganggu alokasi anggaran pertahanan yang telah disetujui Kongres untuk riset dan pengembangan teknologi katapel generasi mendatang.
Jaminan Paris bagi Proyek PANG
Berbeda dengan arah kebijakan di Washington, Prancis tetap bertekad mengandalkan teknologi katapel elektromagnetik untuk PANG. Kapal induk futuristik dengan bobot sekitar 75.000 ton tersebut dirancang untuk mengangkut pesawat tempur generasi keenam FCAS (Future Combat Air System) dan drone tempur. Tanpa sistem EMALS, kapal sebesar PANG akan kesulitan meluncurkan pesawat bermuatan tinggi dengan efisiensi maksimal, mengingat keterbatasan ruang dan energi yang dimiliki jika menggunakan katapel uap tradisional.
Pemerintah Prancis menegaskan bahwa perjanjian teknologi dengan Washington dan General Atomics bersifat kontraktual jangka panjang yang tidak bergantung pada keputusan operasional Angkatan Laut AS. Sistem EMALS untuk PANG telah masuk dalam roadmap pengembangan bersama sejak tahun 2018, dengan nilai kontrak yang melibatkan transfer teknologi terbatas dan pelatihan awak militer Prancis. Paris juga menekankan bahwa fasilitas perawatan dan suku cadang untuk sistem Prancis akan disiapkan secara independen di Toulon dan Saint-Tropez, mengurangi ketergantungan pada basis logistik AS di masa depan.
Perbandingan Teknologi Katapel Kapal Induk
| Aspek | Katapel Uap (Steam) | Katapel Elektromagnetik (EMALS) |
|---|---|---|
| Tenaga yang Dibutuhkan | Uap dari reaktor/boiler, sangat besar | Listrik dari sistem kelistrikan kapal |
| Volume dan Berat | Besar, memakan ruang signifikan | Lebih ringkas dan fleksibel |
| Perawatan | Intensif, risiko kebocoran pipa uap | Minimal, namun memerlukan teknisi spesialis |
| Kemampuan Luncur | Kurang presisi untuk pesawat UAV ringan | Dapat disesuaikan untuk berbagai bobot pesawat |
| Pengguna Aktif | Kelas Nimitz AS, sebagian besar kapal induk dunia | Kelas Ford AS, dan direncanakan PANG Prancis |
Analisis Pakar: Risiko Geopolitik dan Teknis
Meski jaminan Paris terdengar menenangkan, sejumlah pengamat pertahanan tetap mempertanyakan stabilitas pasokan teknologi militer AS di tengah dinamika politik Washington yang fluktuatif. "Keputusan Trump menunjukkan betapa rapuhnya ketergantungan Eropa pada teknologi strategis Amerika. Meski kontrak PANG dijamin aman hari ini, perubahan regulasi ekspor atau sanksi teknologi di masa depan bisa saja mengancam timeline operasional kapal tersebut," ujar analisis senior dari Institut Hubungan Internasional dan Strategi, François Heisbourg.
Dari sisi teknis, para ahli juga memperingatkan bahwa pengalihan fokus industri pertahanan AS dari EMALS ke sistem uap dapat memperlambat inovasi pada teknologi pendukung yang dibutuhkan Prancis. General Atomics sebagai pemasok utama EMALS mungkin akan mengecilkan skala produksi dan risetnya, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi biaya perawatan dan ketersediaan suku cadang bagi pengguna internasional seperti Prancis.
Di sisi lain, Prancis memiliki sejarah panjang dalam menjaga otonomi strategisnya. Proyek PANG yang menelan anggaran sekitar EUR 5 miliar untuk fase awal pembangunan merupakan bagian dari visi pertahanan Prancis untuk mempertahankan kemampuan proyeksi kekuatan secara mandiri di kawasan Indo-Pasifik dan Mediterania. Ketergantungan pada EMALS memang menjadi pilihan pragmatis mengingat tidak adanya alternatif domestik yang memadai, namun Paris diyakini telah menyusun skenario mitigasi risiko jika kerja sama teknologi dengan AS mengalami hambatan mendadak.
Hingga saat ini, tidak ada tanda-tanda pembatalan kontrak atau peninjauan ulang dari pihak Pentagon terhadap kesepakatan EMALS untuk Prancis. Namun, kebijakan Trump yang cenderung proteksionis dan berfokus pada kepentingan domestik menjadi pengingat bagi negara-negara Eropa bahwa ketergantungan pada sistem persenjataan lintas Atlantik selalu membawa risiko politik yang tidak dapat diabaikan.