Sydney — Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,6 persen, level tertinggi sejak November 2011. Keputusan yang diambil secara bulat oleh sembilan anggota Dewan Moneter itu menjadi kenaikan keempat sepanjang 2026 dan menambah beban pembayaran bagi jutaan pemilik rumah di Negeri Kanguru.
Sebelum rapat Selasa (29/9/2026), suku bunga acuan berada di 4,35 persen. Dengan penambahan 25 basis poin tersebut, total kumulatif kenaikan sepanjang tahun ini mencapai 100 basis poin atau satu persen penuh. Efektivitas kebijakan baru berlaku pada 30 September 2026.
Risiko Inflasi Mulai Terwujud
Dalam pernyataan resminya, Dewan Moneter menyatakan sebagian risiko naik terhadap inflasi yang mereka identifikasi dalam pertemuan Agustus kini mulai terwujud. Gangguan pasokan minyak global yang meluas akibat konflik Timur Tengah, lonjakan harga energi dunia, serta tingginya permintaan terkait kecerdasan buatan (AI) disebut sebagai pendorong utama.
"Sejak pertemuan terakhir, sebagian risiko naik terhadap inflasi mulai terwujud. Telah terjadi lebih banyak gangguan pada pasokan minyak global, dan data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan serta inflasi di Australia lebih tinggi dari yang diharapkan."
RBA juga mencatat bahwa diskusi dengan dunia usaha menunjukkan perusahaan-perusahaan tengah menaikkan harga atau mempertimbangkan untuk melakukannya, sementara ekspektasi inflasi jangka pendek tetap tinggi. Suku bunga yang lebih mahal mulai mengalir ke harga barang dan jasa lain, menambah tekanan kapasitas yang sudah ada di ekonomi.
Gubernur Bullock: Kita Belum Keluar dari Masalah
Gubernur RBA Michele Bullock menggelar konferensi pers seusai keputusan dengan nada serius. Ia menegaskan bahwa perkembangan tak terduga di Timur Tengah dan boomerang AI yang lebih kuat dari perkiraan telah mengubah prospek kebijakan.
"Secara keseluruhan, perkembangan ini menunjukkan tekanan inflasi akan bertahan lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan," ujar Bullock.
Terungkap pula bahwa opsi menahan suku bunga sempat dibahas dalam rapat, dengan pertimbangan harga rumah yang justru melemah di sebagian besar ibu kota. Namun akhirnya risiko naik dari konflik Timur Tengah, ledakan AI, dan tekanan kapasitas membuat kenaikan tetap diambil secara bulat.
Bullock menegaskan konflik Timur tengah bukan satu-satunya pemicu. "Ini bukan semuanya tentang konflik Timur Tengah. Konflik itu membuat situasi jauh lebih buruk. Tetapi kami sudah memulai dari posisi permintaan berlebih sejak awal," katanya, menekankan siklus kenaikan justru dimulai sebelum konflik meletus.
Peringatan Kenaikan Lanjutan
Pintu untuk kenaikan lanjutan dibuka lebar. Pernyataan RBA menegaskan bahwa Dewan akan terus melakukan langkah yang dianggap perlu agar inflasi kembali ke target secara berkelanjutan, termasuk menaikkan target suku bunga acuan lebih lanjut jika diperlukan. Sebagian ekonom memperkirakan kenaikan berikutnya bisa terjadi pada November 2026.
- Keempat kenaikan 2026: total 100 basis poin sejak awal tahun.
- Level tertinggi 15 tahun: terakhir kali 4,6 persen tercatat pada November 2011.
- Keputusan bulat: seluruh sembilan anggota dewan sepakat menaikkan suku bunga.
- Perbankan langsung bereaksi: Macquarie menaikkan suku bunga pinjaman variabel rumah 0,25 persen per tahun, efektif 15 Oktober 2026.
"Di Mana Orang Harus Cari Tambahan Rp/RBA $5.500?"
Bagi warga berpenghasilan pas-pasan, keputusan ini bukan sekadar angka. David Koch, Ekonom Compare the Market, menyebut kenaikan ini sebagai "pukulan telak lain bagi keluarga Australia yang punya cicilan rumah."
"Di mana orang harus menemukan tambahan $5.500 per tahun? Itu pun setelah pajak. Di atas itu, rumah tangga juga kena imbas di pom bensin dan lagi-lagi di supermarket. Suku bunga lebih tinggi, pinjaman lebih besar, dan ada satu generasi pembayar cicilan yang belum pernah melihat suku bunga setinggi ini."
Di sisi politik, Ketua Oposisi Angus Taylor menyebut hari itu sebagai "hari kelam bagi keluarga Australia yang bekerja keras dan punya cicilan." Ia menyalahkan pengeluaran pemerintah sebagai pemicu 16 kali kenaikan suku bunga sejak Anthony Albanese menjabat. Sementara Perbendaharaan Jim Chalmers mengakui Australia menghadapi "tantangan serius" dan menegaskan pemerintah mengambil tanggung jawab atas perannya dalam perang melawan inflasi.
Peringatan dari Pengamat Sosial
Organisasi ACOSS melalui CEO-nya, Dr. Cassandra Goldie, memperingatkan dampak terburuk bukan pada cicilan, melainkan pada lapangan kerja. Menurutnya, kenaikan suku bunga dirancang untuk menciptakan pengangguran, dan bila angka pengangguran menembus 5 persen, Australia akan menghadapi "bencana kemanusiaan."
Sementara ekonom Domain, Dr. Nicola Powell, memperingatkan risiko jangka panjang: biaya pinjaman yang tinggi dapat memperparah kelangkaan hunian. "Risikonya, perang melawan inflasi hari ini berubah menjadi kekurangan perumahan besok," katanya.
Di tengah tekanan itu, data Badan Statistik Australia menunjukkan belanja konsumen diskresioner turun 0,3 persen pada Agustus, dipimpin penurunan belanja rekreasi dan budaya sebesar 1,4 persen — bukti rumah tangga mulai menekan pengeluaran sebelum badai pembayaran berikutnya tiba.
• Kenaikan keempat sepanjang 2026 (total 100 bps) • Keputusan bulat 9 anggota dewan • Pintu kenaikan lanjutan tetap terbuka • Macquarie langsung naikkan suku bunga variabel per 15 Okt
Comments (0)