Aug 24, 2026
Bisnis

Utang untuk Dapur: Lonjakan Penggunaan Paylater pada Belanja Sembako

Lanskap belanja rumah tangga di Indonesia tengah mengalami pergeseran fundamental. Tak hanya transaksi digital yang kian masif, kini masyarakat semakin akrab dengan metode pembayaran beli sekarang bay...

Utang untuk Dapur: Lonjakan Penggunaan Paylater pada Belanja Sembako

Lanskap belanja rumah tangga di Indonesia tengah mengalami pergeseran fundamental. Tak hanya transaksi digital yang kian masif, kini masyarakat semakin akrab dengan metode pembayaran beli sekarang bayar nanti (paylater) untuk memenuhi kebutuhan paling dasar: sembako. Data terbaru menunjukkan lonjakan signifikan penggunaan fasilitas kredit tanpa agunan ini di gerai-gerai tradisional maupun platform e-commerce yang menjual beras, minyak goreng, telur, dan kebutuhan pokok lainnya.

Berdasarkan riset Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) per September 2024, transaksi paylater untuk kategori groceries mencatatkan kenaikan 82% secara tahunan, menyentuh angka Rp 14,7 triliun. Sementara itu, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit konsumsi non-kartu kredit — termasuk paylater — mencapai 28,4% year-on-year pada triwulan II 2024, jauh melampaui pertumbuhan kartu kredit yang stagnan di level 2,1%. Fenomena ini mengindikasikan pergeseran preferensi likuiditas rumah tangga ke instrumen yang lebih mudah diakses, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan perilaku tersebut.

Pendorong dan Tren

Ada beberapa faktor yang mendorong maraknya penggunaan paylater untuk sembako. Pertama, tekanan daya beli. Inflasi pangan pokok pada tahun 2024 memang sempat terkendali, namun kenaikan beras, cabai, dan gula pasir pada periode Januari – Agustus mendorong rumah tangga mencari opsi pembayaran yang lebih fleksibel. Kedua, penetrasi dompet digital dan platform e-grocery yang agresif menawarkan fitur paylater dengan masa tenor pendek tanpa bunga (0%) untuk pembayaran tepat waktu. Hal ini menciptakan ilusi bahwa berbelanja sembako tanpa uang tunai saat itu adalah solusi cerdas. Ketiga, kemudahan registrasi dan persetujuan kredit yang hanya mengandalkan data KTP serta swafoto, tanpa pengecekan BI Checking yang ketat, membuat akses sangat terbuka, termasuk bagi segmen unbanked.

Pada periode yang sama, volume transaksi rata-rata per pengguna juga meningkat. Dari yang semula didominasi oleh pembelian barang elektronik atau fesyen, kini porsi sembako dalam portofolio paylater tumbuh dari 12% menjadi 23% dari total transaksi. Hal ini tercermin dari data platform dagang-el yang menunjukkan lonjakan penggunaan paylater di kategori barang kebutuhan sehari-hari pada saat momen harbolnas dan tanggal gajian.

Perspektif Pro dan Kontra

Di satu sisi, fenomena ini dapat dibaca sebagai inklusi keuangan yang membawa manfaat. Bagi keluarga dengan pendapatan tidak tetap atau pekerja harian, paylater menjadi jembatan untuk memenuhi kebutuhan mendesak sebelum gajian tiba. Dengan tenor singkat 7–14 hari, jika dibayar tepat waktu, tidak ada biaya tambahan yang signifikan. Ini membantu menghindari jerat rentenir atau pinjaman ilegal. Ekonom senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI,

"Paylater bisa menjadi alat likuiditas yang efektif asalkan dipahami sebagai kredit jangka pendek, bukan sumber pendapatan tambahan."
ujarnya dalam sebuah diskusi. Selain itu, ekosistem ini mendukung pertumbuhan transaksi non-tunai yang sejalan dengan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT).

Di sisi lain, risiko justru lebih besar. Paylater bersifat mudah diakses, sehingga mendorong perilaku konsumtif tanpa perencanaan matang. Data OJK menunjukkan bahwa tingkat wanprestasi (kredit macet) pinjol legal, termasuk paylater, pada segmen konsumtif mencapai 5,8% pada Agustus 2024, meningkat dari 4,2% di periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menandakan bahwa banyak pengguna tidak mampu melunasi kewajiban, bahkan untuk pinjaman bernilai kecil. Yang lebih memprihatinkan, utang untuk konsumsi pokok seperti beras tidak menghasilkan nilai tambah atau pendapatan di masa depan, sehingga hanya menumpuk beban. Ketika seorang ibu rumah tangga membeli beras 5 kg dengan paylater dan gagal bayar, bunga dan denda akan menciptakan siklus yang sulit diputus.

Potensi Cekik dan Proyeksi

Perilaku berutang untuk kebutuhan sehari-hari ini sejatinya merupakan sinyal tekanan fundamental ekonomi rumah tangga. Rasio utang rumah tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia memang masih relatif rendah, sekitar 17%, jauh di bawah negara maju. Namun, komposisi utang yang bergerak ke arah konsumsi non-produktif—terutama untuk makanan—jika diabaikan, dapat menyeret rumah tangga miskin ke dalam kemiskinan struktural. Bank Indonesia dalam studi terbarunya mengingatkan bahwa peningkatan pinjaman online untuk kebutuhan pokok berkorelasi dengan penurunan skor kesehatan kredit dan dapat mempengaruhi stabilitas keuangan jika terjadi guncangan pendapatan.

Ke depan, regulator perlu memperketat penyaluran paylater untuk kategori sembako dengan memastikan analisis kelayakan kredit yang lebih ketat, serta mendorong edukasi keuangan masif. Sementara itu, pemerintah diharapkan menjaga stabilitas harga pangan agar rumah tangga tidak terjebak pada solusi instan. Masyarakat pun harus lebih bijak: sebelum memutuskan membeli telur dengan utang, tanyakan kembali apakah esok hari benar-benar mampu melunasi. Karena sejatinya, rumah tangga yang sehat dimulai dari dapur yang bebas utang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User