Usai Bundaran HI, MRT Jakarta Siapkan Jalur Bawah Tanah Blok M-Senayan

Berdasarkan data PT MRT Jakarta, rata-rata pengguna harian Moda Raya Terpadu (MRT) sepanjang 2024 berada di kisaran 100 ribu orang, melanjutkan tren kenaikan year-on-year seiring membaiknya aktivitas ...

Aug 21, 2026 - 14:10
0 0
Usai Bundaran HI, MRT Jakarta Siapkan Jalur Bawah Tanah Blok M-Senayan

Berdasarkan data PT MRT Jakarta, rata-rata pengguna harian Moda Raya Terpadu (MRT) sepanjang 2024 berada di kisaran 100 ribu orang, melanjutkan tren kenaikan year-on-year seiring membaiknya aktivitas perkantoran, pusat perbelanjaan, dan pariwisata di pusat kota. Di tengah tren positif tersebut, PT MRT Jakarta membuka peluang membangun jalur pejalan kaki bawah tanah di sejumlah stasiun lain, menyusul pengembangan konektivitas bawah tanah yang dinilai berhasil di kawasan Bundaran HI. Fokus utama rencana ini adalah memperkuat konektivitas antarpusat kegiatan, khususnya pada koridor Blok M hingga Senayan, dua kawasan yang padat dengan perkantoran, ritel, dan fasilitas publik skala besar.

Meski belum ada keputusan final, wacana ini menandakan pergeseran strategi MRT Jakarta dari sekadar operator kereta menuju pengembang kawasan berorientasi transit (transit-oriented development). Pengembangan jalur pejalan kaki bawah tanah dipandang sebagai elemen penting untuk menghubungkan stasiun dengan bangunan di sekitarnya secara aman dan nyaman, tanpa terganggu kendaraan maupun cuaca.

Keberhasilan Bundaran HI Menjadi Titik Tolak

Pengalaman di Bundaran HI menjadi dasar evaluasi. Sejak MRT Fase 1 beroperasi pada Maret 2019 dengan panjang lintasan 15,7 kilometer dan 13 stasiun, kawasan Bundaran HI menjadi salah satu titik dengan pergerakan pejalan kaki tertinggi. Keberadaan jalur bawah tanah di kawasan itu dinilai mengurangi risiko penyeberangan di permukaan, memperpendek waktu tempuh antargedung, sekaligus melindungi pejalan kaki dari panas dan hujan.

Keberhasilan tersebut mendorong MRT Jakarta menjadikan konektivitas bawah tanah sebagai standar bagi pengembangan stasiun berikutnya. Kawasan Blok M dan Senayan dipilih karena memiliki karakteristik serupa: kepadatan aktivitas tinggi, banyak gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan, serta lokasi stasiun yang berdekatan dengan fasilitas publik berskala besar.

Di Satu Sisi: Manfaat Konektivitas dan Dampak Ekonomi

Dari sisi manfaat, jalur pejalan kaki bawah tanah berpotensi memperkuat fundamental kawasan, yakni nilai dasar sebuah lokasi yang ditentukan oleh aksesibilitas dan kelengkapan infrastruktur. Studi properti di berbagai kota menunjukkan stasiun kereta biasanya mendorong kenaikan valuasi properti di radius terdekat, dan konektivitas pejalan kaki yang baik memperbesar efek tersebut. Indeks harga properti residensial yang dirilis Bank Indonesia kerap mencatat kawasan dekat stasiun mengalami kenaikan lebih tinggi daripada rata-rata kota.

Selain itu, integrasi pejalan kaki mendukung pergeseran moda dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Semakin mudah pejalan kaki menjangkau stasiun, semakin besar daya tarik MRT dibandingkan kendaraan bermotor. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekan kemacetan dan emisi di pusat kota, sekaligus meningkatkan rasio pengguna transportasi publik terhadap total perjalanan harian warga.

Di Sisi Lain: Biaya Tinggi dan Risiko Teknis

Namun, proyek bawah tanah memiliki tantangan yang tidak kecil. Biaya konstruksi terowongan umumnya jauh lebih mahal dibandingkan jalur layang. Sebagai pembanding, total investasi MRT Fase 1 dilaporkan sekitar Rp22,8 triliun untuk 15,7 kilometer, atau rata-rata lebih dari Rp1 triliun per kilometer, dan konstruksi bawah tanah menyumbang porsi biaya terbesar. Dengan skala tersebut, kepastian pendanaan menjadi pertanyaan utama, baik dari APBD maupun skema kerja sama lainnya.

Risiko teknis juga nyata. Jakarta memiliki karakteristik tanah lunak dan muka air tanah tinggi, sehingga drainase serta proteksi banjir harus dirancang ekstra hati-hati. Pengalaman genangan di sejumlah underpass saat hujan ekstrem menjadi pengingat bahwa pemeliharaan sistem pompa dan drainase membutuhkan anggaran berkelanjutan. Belum lagi gangguan lalu lintas selama masa konstruksi serta relokasi utilitas di bawah permukaan jalan yang padat.

Proyeksi dan Syarat Keberhasilan

Jika terealisasi, koridor Blok M-Senayan akan menghubungkan pusat ritel dan perkantoran dengan kawasan Gelora Bung Karno yang kerap menjadi lokasi konser dan ajang olahraga berskala besar. Pada hari-hari event, lonjakan pengunjung biasanya menimbulkan kepadatan di titik penyeberangan; jalur bawah tanah dapat menjadi solusi sekaligus pintu masuk yang lebih tertib menuju stasiun. Proyeksi jangka panjang juga mencakup integrasi dengan angkutan pengumpan dan koridor MRT Fase 2A yang sedang dibangun menuju Kota.

Pada akhirnya, keberhasilan proyek ini tidak hanya ditentukan oleh desain dan anggaran, tetapi juga komitmen pemeliharaan jangka panjang, aspek keamanan, pencahayaan, kebersihan, serta aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Sentimen pasar dan kepercayaan publik terhadap transportasi umum akan ikut menentukan apakah konektivitas bawah tanah menjadi investasi yang bernilai atau sekadar beban operasional. Kajian yang matang, transparansi biaya, dan integrasi dengan rencana tata kota menjadi syarat agar wacana ini berubah dari sekadar peluang menjadi realitas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User