Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2024, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto nasional mencapai sekitar 61 persen, dengan serapan tenaga kerja hampir 97 persen dari total angkatan kerja. Namun, porsi UMKM dalam ekspor nasional baru berkisar 15,7 persen—sebuah angka yang menunjukkan masih besarnya ruang pertumbuhan. Di tengah disparitas itu, kisah seorang pengusaha muda asal Jayapura, Sukma Ayu Mayangsari, menjadi ilustrasi bagaimana pendampingan yang tepat dapat mengubah orientasi bisnis dari pasar lokal ke pasar internasional.
Melalui PT MJEthnic Craft Indonesia, Sukma mengembangkan usaha kerajinan berbasis kearifan lokal Papua. Perjalanan usahanya tidak serta-merta menembus mancanegara. Ia mengikuti program pelatihan ekspor yang difasilitasi perbankan, mencakup literasi standar kualitas, dokumen kepabeanan, hingga strategi pemasaran lintas negara. Dalam beberapa tahun, produknya kini menjangkau pembeli di sejumlah negara, memperlihatkan bahwa hambatan utama UMKM daerah bukan semata modal, melainkan akses pengetahuan dan jaringan.
Di Satu Sisi: Pelatihan Mendorong UMKM Naik Kelas
Dari kacamata makro, kemampuan ekspor UMKM menjadi kunci memperkuat struktur neraca perdagangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia pada 2024 masih didominasi komoditas sumber daya alam dan produk manufaktur skala besar. Diversifikasi ke produk kerajinan bernilai tambah tinggi—seperti kriya etnik—berpotensi memperbaiki kualitas ekspor, bukan sekadar kuantitas.
Program pelatihan semacam ini menyasar persoalan mendasar: rendahnya kesiapan UMKM menghadapi persyaratan teknis negara tujuan. Mulai dari sertifikasi bahan baku, pengemasan ramah lingkungan, hingga pemenuhan standar ketenagakerjaan. Dengan pendampingan, pelaku usaha dapat menekan biaya kepatuhan yang biasanya menjadi penghalang utama. Nilai transaksi ekspor kerajinan memang relatif kecil dibandingkan elektronik atau tekstil massal, tetapi margin per unit umumnya lebih tinggi dan tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
"Peningkatan kapasitas UMKM untuk menembus pasar ekspor bukan hanya soal volume dagang, tetapi juga soal menciptakan nilai tambah di daerah dan mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah," ujar sejumlah ekonom dalam berbagai forum kebijakan perdagangan.
Selain itu, keberhasilan eksportir daerah seperti Sukma memberi efek demonstrasi. Ketika satu pelaku usaha membuktikan produk Papua bisa bersaing, muncul sentimen positif di komunitas wirausaha setempat. Ini penting untuk membangun ekosistem ekspor yang inklusif, tidak hanya terpusat di Jawa.
Di Sisi Lain: Tantangan Fundamental Masih Membayangi
Meski kisah sukses ini menggembirakan, sejumlah indikator mengingatkan bahwa jalan ekspor UMKM tetap terjal. Laporan Bank Indonesia mencatat ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan suku bunga negara maju masih memengaruhi permintaan produk bernilai tambah, termasuk kriya. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan Eropa—dua pasar utama kerajinan—berpotensi menekan volume pesanan.
Dari sisi domestik, persoalan klasik tak kunjung usai. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan masih di kisaran 19-20 persen, jauh dari target 30 persen. Artinya, likuiditas untuk ekspansi usaha belum sepenuhnya merata. Biaya logistik antarpulau di Indonesia juga masih tinggi, diperkirakan setara 23 persen dari PDB—lebih mahal dibandingkan negara tetangga. Bagi eksportir dari Papua, ongkos pengiriman barang jadi bisa menggerus margin keuntungan secara signifikan.
Di sisi lain, fluktuasi nilai tukar rupiah turut menjadi variabel yang sulit diprediksi. Pelemahan rupiah memang bisa meningkatkan daya saing harga ekspor, tetapi di saat yang sama menaikkan biaya bahan baku impor jika ada. Ini menciptakan ketidakseimbangan yang menuntut manajemen risiko cermat, sesuatu yang belum tentu dikuasai UMKM.
Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan
Ke depan, prospek ekspor kriya etnik masih terbuka, terutama dengan tren konsumen global yang mencari produk berkelanjutan dan beridentitas budaya kuat. Proyeksi sejumlah lembaga riset pasar menempatkan pertumbuhan permintaan produk kriya dunia pada kisaran 6-8 persen per tahun hingga 2028. Indonesia memiliki bahan mentah, tenaga kerja terampil, dan kekayaan motif budaya—tiga modal utama yang sulit ditiru pesaing.
Namun, valuasi peluang itu harus dibarengi dengan pembenahan fundamental: kepastian pasokan bahan baku, standar mutu berkelanjutan, dan pembiayaan yang terjangkau. Tanpa itu, keberhasilan individu seperti Sukma berisiko menjadi anomali, bukan tren. Peran intermediasi perbankan—baik lewat pelatihan, pendampingan, maupun skema kredit ekspor—menjadi penentu apakah cerita serupa bisa berulang di banyak daerah lain.
Pada akhirnya, ekspor UMKM adalah persoalan struktural yang tidak selesai dengan satu program. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha untuk memperbaiki ekosistem dari hulu ke hilir. Jika berhasil, bukan hanya devisa yang bertambah, tetapi juga kesejahteraan pelaku usaha di daerah—sebuah dampak yang jauh lebih bermakna dibanding sekadar angka neraca dagang.
Comments (0)