Oct 12, 2026
Bisnis

Pendidikan Kini Sejajar Harta dalam Prioritas Warisan Warga RI

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari berbagai lembaga riset keuangan dan kependudukan per awal 2025, terjadi pergeseran menarik dalam cara masyarakat Indonesia memandang warisan. Pendidikan tid...

Pendidikan Kini Sejajar Harta dalam Prioritas Warisan Warga RI

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari berbagai lembaga riset keuangan dan kependudukan per awal 2025, terjadi pergeseran menarik dalam cara masyarakat Indonesia memandang warisan. Pendidikan tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan telah naik ke posisi yang setara dengan kekayaan material sebagai prioritas utama yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya. Temuan ini menjadi sinyal penting bagi industri jasa keuangan, sektor pendidikan, dan perencana keuangan keluarga di Tanah Air.

Pergeseran Tren dari Aset Fisik ke Modal Manusia

Selama puluhan tahun, warisan di Indonesia identik dengan tanah, rumah, atau tabungan. Namun lanskap itu mengalami pergeseran. Survei terhadap ribuan responden di kota besar dan kabupaten menunjukkan bahwa lebih dari 60% orang tua kini menempatkan biaya pendidikan anak sebagai pos pengeluaran jangka panjang terbesar, bahkan melampaui alokasi untuk membeli properti tambahan. Angka ini mengalami kenaikan signifikan dibandingkan periode lima tahun sebelumnya yang berada di kisaran 45%.

Di satu sisi, pergeseran ini mencerminkan kesadaran bahwa modal manusia atau human capital memiliki imbal hasil jangka panjang yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap gejolak ekonomi dibanding aset fisik semata. Pendidikan diyakini mampu memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Di sisi lain, muncul kekhawatiran tentang kesenjangan akses: keluarga dengan likuiditas terbatas justru semakin sulit mengejar biaya pendidikan yang terus melambat naik.

"Masyarakat sekarang melihat pendidikan sebagai bentuk investasi yang nilainya tidak bisa disita, tidak bisa turun drastis karena sentimen pasar, dan bisa dibawa ke mana saja. Ini perubahan fundamental dalam cara berpikir," ujar seorang pengamat ekonomi keluarga dari sebuah lembaga riset independen.

Pro dan Kontra di Tengah Tekanan Biaya Hidup

Pro dari tren ini jelas: peningkatan kesadaran investasi pendidikan mendorong angka partisipasi sekolah lanjutan dan perguruan tinggi. Data menunjukkan kenaikan pendaftaran pada jenjang pendidikan tinggi swasta maupun negeri dalam beberapa tahun terakhir, terutama untuk program studi berbasis teknologi dan keuangan. Hal ini turut menopang proyeksi pertumbuhan kelas menengah terdidik yang menjadi tulang punggung konsumsi domestik.

Kontra atau sisi lainnya, beban biaya pendidikan yang naik rata-rata 10-15% year-on-year menjadi tekanan tersendiri. Bagi keluarga dengan pendapatan tetap, mengalokasikan dana pendidikan setara dengan menyisihkan porsi besar dari portofolio bulanan. Inflasi pendidikan yang lebih tinggi dari inflasi umum membuat perencanaan keuangan keluarga semakin menantang. Belum lagi ketidakpastian kondisi ekonomi global yang bisa memicu capital outflow dan melemahkan nilai tukar, yang pada akhirnya memengaruhi biaya pendidikan luar negeri.

Rasio tabungan terhadap pendapatan di sebagian rumah tangga juga tergerus. Alih-alih menabung di deposito atau emas, dana dialihkan ke produk investasi pendidikan seperti asuransi pendidikan atau reksa dana. Likuiditas jangka pendek pun berkurang, yang dalam situasi darurat bisa menjadi masalah.

Implikasi bagi Industri Keuangan dan Perencanaan Keluarga

Dari perspektif industri, tren ini membuka peluang besar. Produk perencanaan keuangan berbasis tujuan pendidikan mengalami kenaikan permintaan. Indeks kepercayaan konsumen terhadap instrumen investasi jangka panjang juga menunjukkan tren positif, meski fluktuasi pasar modal tetap menjadi faktor risiko. Valuasi produk asuransi pendidikan pun ikut terangkat seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya proteksi.

Namun, literasi keuangan tetap menjadi pekerjaan rumah. Banyak keluarga yang terjebak pada instrumen dengan imbal hasil tidak sesuai ekspektasi karena kurang memahami struktur biaya. Diperlukan edukasi agar alokasi dana pendidikan tidak sekadar mengikuti sentimen pasar, melainkan berbasis perhitungan rasio dan proyeksi yang matang.

Kesimpulannya, pergeseran prioritas warisan dari harta ke pendidikan adalah cermin masyarakat yang semakin rasional dalam memandang masa depan. Tantangannya adalah memastikan akses yang adil dan perencanaan yang sehat, agar investasi generasi mendatang tidak berhenti di tengah jalan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User