Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2023, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto nasional mencapai 61 persen atau setara Rp9.580 triliun, dengan daya serap tenaga kerja sekitar 117 juta orang. Namun, dari total 64,2 juta unit usaha mikro, kecil, dan menengah tersebut, hanya sekitar 15,7 persen yang berhasil menembus pasar ekspor. Angka ini menunjukkan bahwa kapasitas UMKM Indonesia untuk go global masih menghadapi tantangan struktural, terutama dalam hal akses pasar, standarisasi produk, dan literasi perdagangan internasional.
Di tengah tantangan tersebut, kisah Sukma Ayu Mayangsari melalui PT MJEthnic Craft Indonesia menjadi salah satu pengecualian yang menarik untuk dicermati. Perusahaan yang berbasis di Jayapura, Papua ini bergerak di bidang kerajinan etnik dan kini telah menjangkau pembeli dari berbagai negara. Capaian ini tidak terlepas dari peran program pelatihan ekspor yang difasilitasi oleh perbankan nasional, dalam hal ini BRI, yang menyasar pelaku usaha di daerah dengan karakteristik geografis menantang.
Pro: Pemberdayaan UMKM Daerah Melalui Pendampingan Terstruktur
Di satu sisi, keberhasilan MJEthnic Craft menunjukkan bahwa pendampingan yang terstruktur mampu mengatasi hambatan yang biasanya dihadapi UMKM di wilayah timur Indonesia. Pelatihan ekspor yang mencakup aspek legalitas, pengemasan, standar kualitas, hingga penetrasi pasar digital memberikan kerangka kerja yang jelas bagi pelaku usaha. Menurut data Bank Indonesia per triwulan IV 2023, pertumbuhan kredit UMKM tercatat 8,4 persen year-on-year, sedikit di atas pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan yang sebesar 7,9 persen.
"Pendampingan yang berkelanjutan dan berbasis kebutuhan riil pelaku usaha menjadi kunci agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas," ujar seorang analis ekonomi perbankan dalam sebuah diskusi panel di Jakarta.
Dari perspektif ini, program tersebut juga sejalan dengan upaya pemerintah mendorong ekspor non-migas yang pada 2023 mencapai US$245,3 miliar atau turun sekitar 11,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Diversifikasi produk ekspor dari sektor kerajinan menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah.
Kontra: Tantangan Struktural yang Masih Membayangi
Di sisi lain, keberhasilan individual seperti yang dialami MJEthnic Craft belum sepenuhnya menggambarkan kondisi umum UMKM di Papua dan wilayah timur lainnya. Tantangan logistik masih menjadi kendala utama. Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) Papua per 2023 tercatat sebagai salah satu yang tertinggi secara nasional, yang berimplikasi pada biaya produksi dan distribusi. Rasio elektrifikasi di beberapa kabupaten di Papua juga masih di bawah 70 persen, jauh dari rata-rata nasional yang mencapai 99,6 persen pada 2023.
Selain itu, volatilitas nilai tukar dan ketidakpastian global menjadi faktor eksternal yang sulit dikendalikan. Proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh International Monetary Fund (IMF) pada 2024 berada di kisaran 3,2 persen, sementara risiko capital outflow dari pasar negara berkembang masih membayangi. Dalam konteks ini, sentimen pasar terhadap produk kerajinan dari negara berkembang sangat dipengaruhi oleh daya beli negara tujuan ekspor dan tren permintaan global.
Fundamental dan Proyeksi ke Depan
Dari kacamata fundamental, keberlanjutan program pemberdayaan UMKM ekspor bergantung pada beberapa faktor. Pertama, konsistensi pendampingan pasca-pelatihan. Kedua, integrasi dengan platform digital yang dapat memperluas jangkauan pasar. Ketiga, dukungan likuiditas yang memadai melalui skema kredit dengan bunga kompetitif.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) UMKM per akhir 2023 berada di level 3,8 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan NPL perbankan secara keseluruhan yang sebesar 2,2 persen. Angka ini mengindikasikan bahwa risiko pembiayaan UMKM masih relatif lebih tinggi, sehingga diperlukan strategi mitigasi yang tepat.
Dengan valuasi ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai US$146 miliar pada 2025, ruang bagi UMKM untuk masuk ke ekosistem ekspor digital semakin terbuka. Namun, tanpa perbaikan infrastruktur dan kebijakan yang mendukung, kisah sukses seperti MJEthnic Craft berisiko menjadi anomali, bukan tren. Portofolio pemberdayaan UMKM perlu diperluas agar dampaknya lebih inklusif dan merata.
Comments (0)