Perjalanan sebuah usaha kecil menengah dari Sidoarjo, Jawa Timur, membuktikan bahwa dapur rumah bisa menjadi gerbang menuju panggung internasional. Produsen brownies ketan dengan merek It's Me Time berhasil mencatatkan volume produksi yang semula hanya puluhan boks per minggu kini melesat hingga 25.000 unit per bulan, sekaligus menandai ekspansi pertamanya ke pasar luar negeri. Transformasi ini tidak terlepas dari sentuhan pembiayaan dan pendampingan yang tepat sasaran.
Dari Hobi Kuliner Menjadi Peluang Bisnis
Berawal dari kecintaan mengolah camilan tradisional, pemilik usaha yang juga seorang ibu rumah tangga ini mulai meracik brownies berbahan dasar ketan pada tahun 2018. Resep keluarga yang diadaptasi menjadi produk kekinian langsung mendapat respons positif dari kerabat dan tetangga. Pesanan mulai berdatangan melalui rekomendasi dari mulut ke mulut, mendorongnya untuk merintis produksi rumahan secara lebih serius. Dengan peralatan seadanya, ia memproduksi sekitar 30 hingga 50 boks per minggu, hanya mengandalkan dua orang tenaga kerja.
Keunikan brownies ketan ini terletak pada tekstur kenyal yang dipadukan dengan rasa manis legit dari gula asli tanpa bahan pengawet. Beberapa varian seperti original, pandan, dan cokelat keju menjadi favorit konsumen. Pemasaran dilakukan melalui media sosial dan titipan di toko oleh-oleh Sidoarjo. Nama It's Me Time dipilih untuk merepresentasikan momen menikmati camilan berkualitas di waktu luang.
Peran Perbankan dalam Mendorong Kapasitas Produksi
Pertumbuhan permintaan yang kian tinggi menuntut peningkatan skala produksi. Namun, keterbatasan modal menjadi kendala utama. Melalui program pemberdayaan UMKM, bank BUMN BRI hadir memberikan fasilitas kredit usaha serta pelatihan manajemen bisnis. “Kami mendapatkan akses pembiayaan yang memungkinkan pembelian mesin oven konveksi, mixer kapasitas besar, dan peralatan pengemasan modern. Tanpa dukungan itu, sulit mengejar target produksi yang sekarang mencapai 25.000 boks per bulan,” ujar pemilik It's Me Time.
BRI juga memfasilitasi pelatihan standarisasi produk, pengurusan izin edar P-IRT, sertifikasi halal, dan desain kemasan yang lebih menarik. Langkah ini membuat brownies ketan It's Me Time tidak hanya aman dikonsumsi tetapi juga layak bersaing di gerai ritel modern. Selain itu, pendampingan pemasaran digital membantu usaha ini membuka lapak di platform e-commerce dan marketplace internasional.
Menembus Pasar Internasional
Momentum ekspansi global dimulai ketika seorang pembeli dari Malaysia mencicipi produk ini saat berkunjung ke Sidoarjo dan tertarik untuk memasarkannya di negaranya. Pesanan perdana sebanyak 2.000 boks berhasil dikirimkan pada awal tahun 2025, disusul permintaan dari Singapura dan Hong Kong. “Kami tidak menyangka camilan tradisional seperti brownies ketan bisa diterima di sana. Ternyata selera konsumen Asia Tenggara cukup mirip, mereka suka tekstur legit dan rasa yang tidak terlalu manis,” imbuhnya.
Untuk memenuhi standar ekspor, proses produksi diperketat dengan penerapan sistem keamanan pangan yang lebih ketat. Umur simpan produk diperpanjang melalui teknologi pengemasan vakum dan penggunaan silica gel food grade. Dengan volume ekspor yang terus bertambah, omzet bulanan It's Me Time kini menembus angka Rp 200 juta, naik signifikan dari sebelumnya yang berada di kisaran Rp 30 juta per bulan pada skala rumahan.
Dampak Sosial dan Ekonomi Lokal
Keberhasilan bisnis ini turut memberikan efek domino bagi masyarakat sekitar. Saat ini It's Me Time mempekerjakan 15 orang tenaga kerja, mayoritas ibu rumah tangga di lingkungan tempat tinggal pemilik. Mereka mendapat penghasilan tetap serta pelatihan keterampilan produksi pangan. Beberapa pemasok bahan baku lokal seperti tepung ketan, gula, dan telur juga merasakan peningkatan order secara konsisten. Hal ini menjadi contoh nyata bagaimana pengembangan UMKM dapat menjadi motor penggerak ekonomi desa.
Strategi Keberlanjutan dan Inovasi Produk
Meski telah mencapai pasar global, pemilik It's Me Time tidak berpuas diri. Riset dan pengembangan rasa terus dilakukan, termasuk rencana peluncuran varian brownies ketan rendah gula bagi konsumen yang peduli kesehatan. Digitalisasi manajemen stok dan keuangan juga mulai diadopsi agar operasional lebih efisien. “Kami ingin membuktikan bahwa UMKM asal daerah bisa naik kelas dan berdaya saing global, asalkan mau belajar dan memanfaatkan dukungan yang ada,” tegasnya.
Dari Sidoarjo, brownies ketan ini mengajarkan bahwa kreativitas lokal yang dipadukan dengan dukungan pembiayaan dan pendampingan yang tepat mampu menembus batas geografis. Kisah It's Me Time menjadi inspirasi bagi pelaku usaha kecil lainnya untuk berani bermimpi besar dan melangkah ke kancah dunia.
Comments (0)