Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal II 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menopang sekitar 61% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 97% tenaga kerja. Namun, di balik angka makro tersebut, pelaku usaha di daerah menghadapi tekanan berlapis: pelemahan daya beli, kenaikan biaya bahan baku, hingga persaingan dengan produk impor yang makin agresif. Salah satu cerita yang menarik untuk dicermati datang dari Makassar, di mana sebuah usaha fesyen bernama Ripuji Lontaratta mencoba bertahan dengan menjadikan budaya lokal—khususnya aksara Lontara—sebagai fondasi identitas produknya.
Fondasi Budaya sebagai Nilai Tambah Ekonomi
Pendiri Ripuji Lontaratta, As'ad Fadli, membangun bisnis ini bukan semata-mata mengejar margin. Ia menjadikan pelestarian aksara Lontara sebagai misi utama, sembari mengadaptasi desain modern agar tetap relevan bagi pasar kontemporer. Dalam kerangka ekonomi, langkah ini bisa dibaca sebagai upaya menciptakan diferensiasi produk—strategi yang jamak dipakai UMKM untuk menghindari perang harga di pasar komoditas.
Di satu sisi, pendekatan berbasis budaya menawarkan keunggulan kompetitif yang sulit ditiru. Produk fesyen dengan muatan kearifan lokal memiliki cerita, dan cerita itu menciptakan nilai tambah yang bisa mendongkrak harga jual. Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan subsektor kriya dan fesyen menyumbang sekitar Rp150 triliun terhadap ekonomi kreatif nasional pada 2023, tumbuh 5,4% year-on-year. Ini menandakan bahwa pasar untuk produk berbasis budaya masih memiliki ruang tumbuh.
Di sisi lain, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Biaya produksi untuk desain custom biasanya lebih tinggi dibanding produksi massal. Ditambah lagi, kapasitas produksi UMKM umumnya terbatas, sehingga sulit memenuhi pesanan besar secara konsisten. Skala ekonomi yang belum tercapai membuat harga jual terpaksa dipatok tinggi, yang pada akhirnya membatasi pangsa pasar.
Likuiditas dan Akses Pembiayaan: Titik Kritis UMKM
Persoalan klasik UMKM adalah likuiditas dan akses permodalan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2024, rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan baru mencapai sekitar 19,4%—masih jauh dari target pemerintah sebesar 30% pada 2025. Artinya, masih ada gap pembiayaan yang signifikan.
"UMKM berbasis budaya sering dianggap terlalu kecil untuk masuk kriteria bankable. Padahal, dengan pendampingan yang tepat, mereka bisa menjadi portofolio yang sehat," ujar seorang analis perbankan yang enggan disebutkan namanya.
Ripuji Lontaratta sendiri disebut tumbuh bersama dukungan pembiayaan dari salah satu bank BUMN. Skema kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga rendah menjadi penyangga utama operasional. Namun, ketergantungan pada satu sumber pembiayaan menyisakan risiko jika terjadi sentimen pasar negatif atau pengetatan likuiditas di sektor perbankan.
Pro: kemitraan dengan bank memberikan akses modal sekaligus pelatihan manajemen keuangan. Kontra: UMKM yang belum terdiversifikasi pembiayaannya rentan terhadap perubahan kebijakan suku bunga dan fluktuasi permintaan.
Proyeksi dan Fundamental Sektor Kriya
Ke depan, prospek fesyen berbasis budaya masih menarik. Proyeksi Bank Indonesia menempatkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kisaran 4,7%–5,5% untuk 2024, dengan konsumsi rumah tangga sebagai motor utama. Jika daya beli masyarakat kelas menengah terjaga, permintaan produk premium lokal berpotensi ikut terangkat.
Namun, ada catatan penting soal valuasi dan daya saing. Tanpa perbaikan pada rantai pasok, efisiensi produksi, dan strategi pemasaran digital yang matang, UMKM seperti Ripuji Lontaratta hanya akan bertahan di ceruk pasar yang sempit. Tren capital outflow dari pasar keuangan domestik juga bisa memengaruhi iklim investasi sektor riil jika tidak diimbangi stabilitas nilai tukar.
Kesimpulannya, kisah Ripuji Lontaratta mencerminkan dua wajah ekonomi UMKM Indonesia: potensi budaya yang kaya sebagai modal diferensiasi, sekaligus kerentanan struktural pada sisi likuiditas dan skala usaha. Fundamental sektor kriya masih solid, tetapi tanpa intervensi kebijakan yang konsisten, cerita sukses semacam ini akan tetap menjadi pengecualian, bukan tren yang inklusif.
Comments (0)