UMKM Camilan Beras Tembus Pasar Global Berkat Pembiayaan BRI
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per kuartal III/2024, kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 61,9%, dengan nilai ekspor...
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per kuartal III/2024, kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 61,9%, dengan nilai ekspor UMKM yang terus meningkat 15,4% year-on-year. Di tengah tren positif tersebut, kisah Lince Sulastri, pendiri merek camilan sehat "Sahate", menjadi contoh nyata bagaimana akses pembiayaan dan pendampingan digital dapat mendorong UMKM naik kelas hingga menembus pasar global. Berawal dari dapur rumahannya di Bandung, Lince berhasil mengubah beras menjadi camilan gluten-free yang kini diminati konsumen di berbagai negara.
Dari Dapur Rumahan ke Pasar Ekspor
Lince Sulastri memulai usahanya pada tahun 2019 dengan modal awal yang terbatas. Ia menciptakan produk camilan berbasis beras yang bebas gluten, menyasar segmen konsumen yang sadar kesehatan. "Sahate" yang berarti 'sehat' dalam bahasa Sunda, awalnya dipasarkan secara door-to-door dan melalui media sosial. Namun, keterbatasan modal dan pengetahuan manajemen menjadi hambatan utama untuk memperluas jangkauan pasar. Berdasarkan data Bank Indonesia, sektor makanan dan minuman menyumbang 38,2% dari total penjualan UMKM di Jawa Barat, namun hanya 5,7% yang berorientasi ekspor. Lince menyadari potensi besar tersebut, tetapi ia membutuhkan dukungan finansial dan non-finansial.
Peran BRI LinkUMKM dalam Transformasi Usaha
Di satu sisi, banyak UMKM gagal berkembang karena sulitnya akses permodalan dari perbankan konvensional yang mensyaratkan agunan. Di sisi lain, program LinkUMKM dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) hadir sebagai solusi dengan pendekatan inklusif. Melalui platform ini, Lince tidak hanya mendapatkan pinjaman modal kerja dengan bunga kompetitif, tetapi juga mengikuti pelatihan digital marketing, manajemen keuangan, dan standardisasi produk. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2024 menunjukkan bahwa penyaluran kredit UMKM oleh BRI mencapai Rp1.045 triliun, tumbuh 8,9% year-on-year. Dari jumlah tersebut, 62% disalurkan ke sektor pangan, termasuk usaha camilan seperti Sahate. Lince mengaku bahwa pelatihan tentang pengemasan dan sertifikasi halal dari LinkUMKM menjadi titik balik yang membuka peluang ekspor.
Mengarungi Tantangan dan Peluang Pasar Global
Pro: Produk gluten-free memiliki permintaan yang terus meningkat di pasar internasional, terutama di Eropa dan Amerika Utara. Berdasarkan data Global Gluten-Free Food Market, nilai pasar produk bebas gluten diproyeksikan mencapai USD 8,3 miliar pada tahun 2025, dengan pertumbuhan 9,2% per tahun. Sahate yang mengandalkan bahan baku lokal berpotensi merebut ceruk pasar ini. Kontra: Tantangan logistik dan biaya sertifikasi ekspor masih menjadi kendala. Lince harus memenuhi standar keamanan pangan internasional seperti HACCP dan ISO 22000 yang membutuhkan investasi tidak sedikit. Namun, dengan dukungan BRI yang menyediakan skema pembiayaan ekspor dan pendampingan legalitas, risiko tersebut dapat dimitigasi.
Dampak Berganda bagi Ekonomi Lokal
Keberhasilan Sahate tidak hanya dirasakan Lince sendiri. Usahanya kini mempekerjakan 15 ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya, dengan kapasitas produksi meningkat dari 500 bungkus per bulan menjadi 5.000 bungkus per bulan. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM Jawa Barat, setiap 1% kenaikan ekspor UMKM mampu menyerap 0,03% tenaga kerja baru. Lince juga memberdayakan petani beras lokal dengan membeli gabah langsung dari kelompok tani, sehingga meningkatkan pendapatan petani hingga 20%. Hal ini sejalan dengan program pemerintah dalam mendorong hilirisasi produk pertanian.
Proyeksi dan Harapan ke Depan
Ke depan, Lince berencana memperluas varian produk, seperti keripik beras merah dan beras hitam, serta menembus pasar Asia Timur dan Timur Tengah. Dengan dukungan BRI yang terus memperkuat ekosistem digital melalui LinkUMKM, ia optimistis dapat mencapai target penjualan ekspor Rp2 miliar pada tahun 2026. Namun, para analis mengingatkan bahwa keberlanjutan usaha UMKM sangat bergantung pada kemampuan adaptasi terhadap perubahan selera konsumen dan fluktuasi nilai tukar. Fundamental usaha yang kuat, ditambah dengan akses pembiayaan yang tepat, akan menjadi kunci untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"UMKM seperti Sahate adalah tulang punggung ekonomi nasional. Dengan pembiayaan yang tepat dan pendampingan berkelanjutan, mereka mampu bersaing di pasar global tanpa meninggalkan akar lokal," ujar ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, dalam keterangan persnya.
Kisah Lince Sulastri membuktikan bahwa dengan kombinasi inovasi produk, dukungan permodalan, dan akses pasar yang luas, UMKM Indonesia dapat naik kelas. BRI melalui LinkUMKM telah menjadi katalisator yang menghubungkan potensi lokal dengan permintaan global, meskipun masih diperlukan upaya kolektif untuk memperkuat daya saing dan ketahanan usaha di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.
Comments (0)