Uang Primer Tembus Rp2.254 Triliun, Tumbuh 17,1% pada Juli 2026
Berdasarkan data Bank Indonesia per Juli 2026, Uang Primer (M0) mengalami kenaikan 17,1% year-on-year hingga menembus level Rp2.254 triliun. Dengan laju pertumbuhan tersebut, posisi uang primer pada J...
Berdasarkan data Bank Indonesia per Juli 2026, Uang Primer (M0) mengalami kenaikan 17,1% year-on-year hingga menembus level Rp2.254 triliun. Dengan laju pertumbuhan tersebut, posisi uang primer pada Juli 2025 diperkirakan berada di kisaran Rp1.925 triliun, sehingga terdapat tambahan likuiditas sekitar Rp329 triliun dalam setahun. Ekspansi dua digit ini tergolong salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi penanda penting bagi arah kebijakan moneter Tanah Air.
Kenaikan M0 terjadi di tengah upaya otoritas moneter menjaga keseimbangan antara dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga. Bagi pembaca awam, uang primer adalah seluruh uang kartal yang beredar di masyarakat ditambah simpanan bank umum yang ditempatkan di bank sentral, termasuk giro wajib minimum. Dari basis inilah uang beredar dalam arti luas (M2) berkembang melalui mekanisme perbankan yang dikenal sebagai pengganda uang atau money multiplier.
Di Satu Sisi: Sinyal Positif bagi Likuiditas dan Kredit
Di satu sisi, pertumbuhan uang primer sebesar 17,1% dapat dibaca sebagai sinyal bahwa bank sentral menyediakan likuiditas yang memadai bagi sistem keuangan. Ketika M0 tumbuh tinggi, bank memiliki ruang lebih besar untuk menyalurkan kredit, baik ke sektor konsumsi maupun produktif. Secara historis, ekspansi likuiditas yang terkendali kerap berkorelasi dengan akselerasi kredit perbankan dan aktivitas ekonomi riil.
Dari sisi fundamental, tambahan likuiditas juga berpotensi menopang sentimen pasar, terutama jika diiringi suku bunga acuan yang stabil. Rasio kecukupan modal perbankan yang solid membuat dana murah dari bank sentral lebih mudah ditransmisikan menjadi pembiayaan. Bagi korporasi, kondisi ini memperbaiki valuasi aset berisiko karena biaya dana yang lebih rendah meningkatkan daya tarik portofolio saham dan obligasi.
"Ekspansi uang primer dua digit mencerminkan komitmen otoritas menjaga mesin ekonomi tetap berputar. Namun efektivitasnya sangat bergantung pada seberapa cepat likuiditas itu berubah menjadi kredit riil, bukan sekadar mengendap di instrumen likuid," ujar sejumlah ekonom dalam berbagai kajian yang beredar di pasar.
Di Sisi Lain: Waspadai Risiko Inflasi dan Capital Outflow
Di sisi lain, pertumbuhan M0 yang terlalu cepat menyimpan risiko klasik, yakni inflasi. Teori kuantitas uang menyatakan bahwa jika jumlah uang beredar tumbuh jauh melampaui pertumbuhan output ekonomi, tekanan harga akan muncul dengan jeda waktu tertentu. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi riil berada di kisaran 5%, selisih pertumbuhan uang primer sebesar 17,1% menyisakan ruang inflasi yang perlu diantisipasi, meski tidak otomatis terjadi karena kecepatan peredaran uang juga turut berperan.
Risiko kedua datang dari sisi eksternal. Likuiditas domestik yang melimpah dapat menekan imbal hasil instrumen rupiah, sehingga daya tarik bagi investor asing berkurang. Dalam skenario buruk, kondisi ini memicu capital outflow, yaitu keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik, yang berujung pada pelemahan nilai tukar. Rupiah yang terdepresiasi akan menaikkan biaya impor dan berpotensi menambah tekanan inflasi dari sisi harga barang impor atau imported inflation.
Proyeksi: Kunci Ada pada Transmisi dan Data Inflasi
Ke depan, arah kebijakan moneter akan sangat ditentukan oleh dua variabel. Pertama, transmisi likuiditas ke kredit perbankan; jika kredit tumbuh sejalan dengan M0, ekspansi ini lebih mencerminkan penguatan fundamental. Kedua, tren inflasi bulanan dan indeks harga konsumen; jika inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran, bank sentral memiliki ruang untuk mempertahankan stance akomodatif.
Pelaku pasar juga perlu mencermati pertumbuhan uang beredar luas (M2) sebagai indikator pelengkap. Jika M2 tumbuh jauh lebih lambat dari M0, artinya pengganda uang melemah dan likuiditas belum sepenuhnya mengalir ke ekonomi riil. Sebaliknya, jika M2 melesat, kewaspadaan terhadap risiko overheating perlu ditingkatkan.
Pada akhirnya, angka Rp2.254 triliun dengan pertumbuhan 17,1% year-on-year adalah pedang bermata dua. Di satu sisi ia menopang pemulihan dan memperkuat likuiditas sistem; di sisi lain ia menuntut kehati-hatian agar tidak berubah menjadi tekanan inflasi dan volatilitas nilai tukar. Bagi investor maupun masyarakat umum, memantau data inflasi, keputusan suku bunga acuan, serta arus modal asing dalam beberapa bulan ke depan menjadi langkah penting untuk membaca apakah tren ekspansi ini berkelanjutan atau justru akan dikoreksi oleh otoritas moneter.
Comments (0)