Aug 26, 2026
Bisnis

Uang Palsu di Indonesia Merosot Tajam, Rasio Deteksi Ungguli Eropa

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir tahun lalu, tingkat peredaran uang tidak sah di dalam negeri menunjukkan tren yang semakin menenangkan. Volume uang palsu yang berhasil dideteksi dan disita a...

Uang Palsu di Indonesia Merosot Tajam, Rasio Deteksi Ungguli Eropa

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir tahun lalu, tingkat peredaran uang tidak sah di dalam negeri menunjukkan tren yang semakin menenangkan. Volume uang palsu yang berhasil dideteksi dan disita aparat terus mengalami penurunan secara year-on-year, sebuah capaian yang menempatkan Indonesia jauh lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain, termasuk kawasan Eropa dan Filipina.

Tren Penurunan yang Konsisten

Catatan otoritas moneter memperlihatkan jumlah lembar uang tidak sah yang ditemukan di masyarakat turun dari sekitar 31.000 lembar pada 2022 menjadi kisaran 24.000 lembar pada 2023, atau terkoreksi hampir 23 persen. Bila dibandingkan dengan periode puncak pada 2019 ketika temuan sempat menyentuh lebih dari 60.000 lembar, penyusutan ini terlihat sangat signifikan dalam rentang lima tahun terakhir.

Penjelasannya sederhana bagi pembaca awam: semakin sedikit lembar palsu yang beredar, semakin rendah potensi kerugian bagi pedagang kecil hingga lembaga keuangan. Rasio deteksi—yakni jumlah lembar palsu per satu juta lembar uang kertas asli yang beredar—kini hanya berkisar 10 hingga 15 lembar per juta, angka yang relatif sehat untuk perekonomian sebesar Indonesia.

Perbandingan Regional dan Global

Sebagai konteks internasional, kawasan Eurozone yang dikelola European Central Bank mencatat rasio pemalsuan di kisaran 50-an lembar per juta lembar asli, sementara Filipina dilaporkan menghadapi tekanan jauh lebih besar dengan angka yang dapat menembus ratusan lembar per juta pada periode tertentu. Artinya, meskipun nilai transaksi tunai di Indonesia sangat besar, tingkat keberhasilan pengamanan rupiah justru unggul.

Beberapa faktor mendukung capaian tersebut, mulai dari modernisasi fitur keamanan pada emisi terbaru uang rupiah, kampanye edukasi publik "Lihat, Raba, Terawang", hingga digitalisasi pembayaran yang menggerus intensitas penggunaan uang kertas. Transaksi elektronik yang tumbuh dua digit per tahun turut mempersempit ruang gerak para pemalsu.

Dua Sisi Perspektif: Optimisme versus Kewaspadaan

Di satu sisi, penurunan peredaran uang tidak sah mencerminkan kokohnya fundamental sistem pembayaran nasional. Kepercayaan publik terhadap instrumen rupiah terjaga, biaya verifikasi bagi pelaku usaha mikro menurun, dan sentimen pasar terhadap mata uang domestik ikut terpelihara. Likuiditas uang tunai pun tetap mengalir efisien tanpa beban keraguan atas keaslian lembaran.

Di sisi lain, terdapat catatan kritis yang tidak boleh diabaikan. Pertama, menurunnya angka deteksi belum tentu sepenuhnya merefleksikan merosotnya aktivitas pemalsuan, sebab dimungkinkan ada lembar ilegal yang lolos dari pengawasan aparat. Kedua, gelombang digitalisasi membuka celah baru berupa penipuan transaksi daring yang nilai kerugiannya berpotensi melampaui persoalan uang tunai palsu. Ketiga, modus pemalsuan kini bergeser ke pecahan denominasi tertentu yang lebih sulit dikenali oleh kasir tradisional.

"Rasio pemalsuan yang rendah merupakan indikator kesehatan sistem moneter, namun otoritas tidak boleh lengah karena metode para pelaku terus berevolusi mengikuti laju teknologi," ujar seorang ekonom perbankan di Jakarta.

Proyeksi ke Depan dan Implikasi Pasar

Secara proyeksi, rasio deteksi diperkirakan akan terus tertekan di bawah level saat ini seiring percepatan adopsi QRIS serta uang elektronik di berbagai sektor. Bagi pelaku pasar, data ini memberikan bacaan positif: risiko operasional sektor ritel dan perbankan menurun, sehingga valuasi saham konsumer berpotensi bertahan stabil. Meski demikian, investor tetap perlu memantau dinamika eksternal, sebab tekanan capital outflow global dapat mengubah suasana sentimen secara cepat.

Pada akhirnya, capaian ini bukan alasan untuk berpuas diri, melainkan fondasi untuk terus memperkuat literasi masyarakat dalam mengenali ciri uang asli. Keamanan sistem pembayaran adalah tanggung jawab bersama antara otoritas, industri keuangan, dan publik—dan konsistensi menjaganya akan menentukan kepercayaan terhadap rupiah dalam jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User