Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal terakhir, perekonomian Indonesia tumbuh 5,03 persen secara year-on-year, dengan inflasi yang berhasil ditekan di kisaran 2 persen — jauh di bawah titik tengah sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen. Namun demikian, tekanan eksternal tidak bisa diabaikan begitu saja: nilai tukar rupiah sempat melemah menembus level Rp16.200 per dolar AS, sementara arus keluar modal atau capital outflow dari pasar surat berharga negara mencapai belasan triliun rupiah akibat suku bunga acuan The Federal Reserve yang bertahan tinggi. Dalam situasi makro seperti ini, Komisi XI DPR RI hari ini menggelar uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test bagi Destry Damayanti, calon Gubernur Bank Indonesia periode mendatang.
Rekam Jejak Panjang di Jalan Sudirman
Nama Destry Damayanti bukanlah pendatang baru di lingkungan bank sentral. Ekonom lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini menorehkan lebih dari tiga dekade karier di Bank Indonesia, dimulai sejak era 1990-an hingga dipercaya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior. Portofolio kebijakannya mencakup perumusan kebijakan moneter, pengembangan riset ekonomi, hingga perwakilan Indonesia di lembaga keuangan internasional seperti International Monetary Fund (IMF). Bagi para pengamat, kedalaman rekam jejak semacam ini merupakan modal utama dalam menjawab dinamika fundamental perekonomian domestik yang semakin kompleks.
Tantangan Berat Menanti di Kursi Tertinggi Bank Sentral
Siapa pun yang menduduki kursi Gubernur BI akan langsung berhadapan dengan pekerjaan rumah besar. Pertama, stabilitas nilai tukar. Depresiasi rupiah sepanjang tahun berjalan menuntut kehati-hatian dalam operasi pasar valuta asing agar cadangan devisa — yang saat ini berada di kisaran US$140 miliar — tetap terjaga pada level yang aman. Kedua, dikotomi antara pertumbuhan dan stabilitas harga. Dengan BI Rate masih di posisi 6 persen, sektor riil menaruh harapan agar siklus pelonggaran dapat dimulai tanpa memicu gejolak sentimen pasar. Ketiga, percepatan transformasi pembayaran digital, yang ditandai lonjakan transaksi QRIS hingga menembus puluhan juta pengguna merchant di berbagai daerah.
Dua Sisi Mata Uang: Kontinuitas versus Segarnya Ide
Di satu sisi, pengangkatan figur internal dinilai menjamin kontinuitas kebijakan. Pasar finansial umumnya menyukai prediktabilitas; transisi kepemimpinan yang mulus mengurangi risiko volatilitas pada pasar obligasi maupun nilai tukar. Pengalaman panjang Destry dalam berbagai komite kebijakan juga dipandang mempercepat kurva pembelajaran, sehingga arah kebijakan moneter tidak perlu dibaca ulang dari nol oleh pimpinan baru.
Di sisi lain, sebagian ekonom mengingatkan bahwa dominasi kader internal berisiko melahirkan pola pikir yang seragam di dalam organisasi. Tantangan baru seperti aset kripto, tokenisasi, serta integrasi pembayaran lintas batas menuntut gagasan segar yang belum tentu lahir dari jalur birokrasi konvensional. Ada pula sorotan terhadap independensi bank sentral: calon pemimpin harus membuktikan bahwa loyalitas kelembagaan tidak akan mengorbankan objektivitas pengambilan keputusan, terutama ketika tekanan untuk menekan suku bunga meningkat di tengah perlunya dukungan terhadap pertumbuhan.
Sinyal yang Ditunggu Pasar Keuangan
Hasil fit and proper test hari ini akan menjadi penentu apakah nama Destry Damayanti resmi maju menuju pelantikan sebagai pemimpin tertinggi bank sentral. Para pelaku pasar akan memperhatikan dua hal utama: konsistensi komitmen terhadap kerangka inflasi targeting, serta kesiapan menjaga likuiditas sistem keuangan di tengah ketidakpastian geopolitik global. Sejarah mencatat, pergantian kepemimpinan bank sentral di negara berkembang kerap memicu fluktuasi indeks pasar modal dan nilai tukar dalam jangka pendek, meskipun dampaknya umumnya bersifat temporer selama fundamental perekonomian tetap kokoh.
Bagi pembaca awam, istilah fit and proper test sendiri dapat dimaknai secara sederhana: proses penilaian menyeluruh atas integritas, kompetensi, dan pengalaman seorang calon pejabat strategis sebelum dilantik. Dengan kata lain, ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan penyaringan mutu bagi posisi yang menentukan arah kebijakan moneter — instrumen yang memengaruhi suku bunga kredit, imbal hasil deposito, hingga daya beli masyarakat luas.
Apa pun hasilnya hari ini, satu hal pasti: mandat menjaga stabilitas nilai rupiah, memelihara kestabilan sistem keuangan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan akan tetap menjadi kompas utama bank sentral. Proyeksi para ekonom menempatkan tahun mendatang sebagai periode ujian bagi kebijakan moneter domestik, mengingat divergensi kebijakan global belum usai. Masyarakat cukup menuntut satu hal dari calon pemimpinnya — ketenangan dalam menghadapi badai eksternal, dan keberanian mengambil langkah tegas ketika fundamental menuntutnya.
Comments (0)