Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per November 2022, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 49,68 persen, sementara indeks inklusi keuangan sudah menyentuh 85,10 persen. Angka tersebut memperlihatkan kesenjangan yang lebar: banyak warga sudah menggunakan produk keuangan, tetapi pemahaman tentang asal-usul dan pengelolaan uang masih tertinggal. Dalam konteks inilah kepercayaan terhadap tuyul—makhluk halus yang konon mencuri uang untuk majikannya—menarik untuk dibedah dari sudut sosial-ekonomi, bukan sekadar folklore.
Tuyul merupakan bagian dari kepercayaan rakyat Nusantara yang hidup selama berabad-abad. Makhluk kecil berwujud anak-anak ini dipercaya dapat dipekerjakan untuk menguras kekayaan orang lain, sehingga pemiliknya mengalami kenaikan kekayaan secara mendadak tanpa sumber yang dapat diverifikasi. Dalam istilah ekonomi modern, fenomena ini dapat dibaca sebagai cara masyarakat lama menjelaskan kekayaan yang tidak jelas asal-usulnya—sebuah persoalan yang sebenarnya tetap relevan hingga era digital.
Tuyul dalam Lensa Sejarah dan Budaya
Secara historis, kepercayaan terhadap tuyul merekam dua hal sekaligus: rasa curiga terhadap ketimpangan dan keterbatasan instrumen untuk menelusuri jejak dana di masa lalu. Sebelum era perbankan modern, transaksi berlangsung tunai dan hampir tidak meninggalkan rekam jejak. Akibatnya, ketika seseorang tiba-tiba membeli tanah atau membangun rumah besar tanpa pekerjaan yang terlihat, masyarakat tidak memiliki cara untuk memeriksa sumber dananya—kecuali dengan mengaitkannya pada kekuatan gaib.
Kepercayaan ini juga menjadi cermin ketimpangan sosial. Semakin lebar jurang antara kelompok kaya dan miskin, semakin kuat narasi bahwa sebagian kekayaan dianggap tidak wajar dan diperoleh lewat jalur gelap. Tuyul, dalam hal ini, adalah personifikasi dari kecurigaan publik terhadap akumulasi kekayaan yang tidak transparan. Ia bukan sekadar takhayul, melainkan cermin dari pertanyaan mendasar: dari mana uang itu berasal?
Dua Sisi: Mitos versus Realitas Ekonomi
Di satu sisi, pendekatan budaya menilai tuyul sebagai warisan kosmologi yang sah. Menurut seorang antropolog budaya, mitos semacam ini berfungsi sebagai kontrol sosial: ia mengingatkan bahwa kekayaan harus diperoleh dengan cara jujur, dan bahwa ada sanksi moral—bahkan gaib—bagi mereka yang curang. Dalam kerangka ini, tuyul adalah pelajaran etika berbalut cerita rakyat, bukan sekadar dongeng pengantar tidur.
“Mitos tuyul mengajarkan bahwa kekayaan yang tidak jelas asal-usulnya akan selalu memancing pertanyaan. Di masyarakat pra-modern, pertanyaan itu dijawab dengan logika gaib; di masyarakat modern, pertanyaan yang sama dijawab dengan audit, pelaporan pajak, dan penelusuran transaksi.” — pakar sosiologi ekonomi
Di sisi lain, ekonom membaca kisah yang sama dari sudut berbeda. Kekayaan yang tidak dapat dijelaskan sumbernya, dalam terminologi modern, dikenal sebagai pendapatan yang tidak dilaporkan, penghindaran pajak, hingga pencucian uang. Lembaga seperti Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dibentuk justru untuk menjawab ke mana dana gelap itu bersembunyi—yakni di balik transaksi yang dirancang untuk memutus jejak. Rasio antara transaksi mencurigakan yang dilaporkan perbankan dan dana yang berhasil ditelusuri menunjukkan bahwa verifikasi asal-usul uang kini menjadi pekerjaan serius, bukan dongeng semata.
Perbedaan perspektif ini tidak harus dipertentangkan. Keduanya berangkat dari satu pertanyaan yang sama: apakah sumber kekayaan dapat dipertanggungjawabkan? Budaya menjawab dengan norma dan sanksi sosial, ekonomi menjawab dengan mekanisme verifikasi dan transparansi.
Implikasi bagi Literasi Keuangan dan Stabilitas Sistem
Kepercayaan terhadap tuyul juga merefleksikan rendahnya pemahaman publik tentang likuiditas dan alur uang. Ketika seseorang tidak memahami cara kerja bunga bank, investasi portofolio, atau dividen, kekayaan yang tumbuh cepat mudah dianggap tidak wajar—padahal dalam banyak kasus ia berasal dari instrumen keuangan yang sah. Sebaliknya, sisi gelapnya juga nyata: lonjakan kekayaan tanpa jejak transaksi adalah sinyal yang dipantau ketat oleh otoritas karena berpotensi menjadi sarang capital outflow ilegal dan mengganggu stabilitas sistem keuangan.
Data OJK menunjukkan bahwa meskipun indeks inklusi keuangan tergolong tinggi, kualitas pemahaman masyarakat masih timpang, terutama pada kelompok berpendapatan rendah. Karena itu, edukasi tentang asal-usul uang—dari slip gaji, dividen, hingga keuntungan usaha yang tercatat—menjadi fondasi penting. Masyarakat yang memahami mekanisme keuangan akan lebih sulit dibujuk oleh narasi mistis, sekaligus lebih sadar bahwa setiap rupiah yang beredar seharusnya dapat dijelaskan.
Kesimpulan: Menuju Ekonomi yang Transparan
Fenomena tuyul adalah pengingat bahwa ekonomi tidak pernah lepas dari budaya. Di satu sisi, mitos ini mengajarkan etika dan kontrol sosial; di sisi lain, ia menegaskan bahwa transparansi adalah tiang fundamental ekonomi modern. Tren global menuju digitalisasi transaksi dan pelaporan keuangan yang terbuka perlahan mempersempit ruang gelap tempat tuyul dipercaya bersembunyi. Proyeksi ke depan cukup jelas: kekayaan yang mampu dijelaskan adalah kekayaan yang bertahan, sementara kekayaan yang hanya dapat dijelaskan lewat dongeng akan terus dipertanyakan oleh publik dan otoritas.
Comments (0)