Aug 24, 2026
Bisnis

Prinsip Nabi Nuh di Balik Sukses Miliarder Teknologi AS David Steward

Berdasarkan data Forbes per Agustus 2026, jumlah miliarder dunia diperkirakan masih bertahan di kisaran 2.700 orang, dengan total kekayaan gabungan di atas US$14 triliun. Di tengah dominasi raksasa te...

Prinsip Nabi Nuh di Balik Sukses Miliarder Teknologi AS David Steward

Berdasarkan data Forbes per Agustus 2026, jumlah miliarder dunia diperkirakan masih bertahan di kisaran 2.700 orang, dengan total kekayaan gabungan di atas US$14 triliun. Di tengah dominasi raksasa teknologi Amerika Serikat dalam daftar itu, muncul satu nama yang kerap diangkat sebagai contoh kepemimpinan berbasis nilai: David Steward. Forbes memperkirakan kekayaan bersihnya mencapai US$6 miliar, menjadikannya salah satu pengusaha kulit hitam terkaya di AS. Namun yang menarik perhatian bukan hanya angka kekayaannya, melainkan prinsip yang ia pegang sejak lama: kisah Nabi Nuh.

Dari Distributor Kecil Menjadi Raksasa Teknologi

Steward mendirikan World Wide Technology (WWT) pada 1990 di St. Louis, Missouri. Perusahaan yang bermula sebagai distributor perangkat keras sederhana itu kini tumbuh menjadi salah satu penyedia solusi infrastruktur teknologi terbesar di AS. Pendapatan WWT pada 2024 dilaporkan menembus US$20 miliar, mengalami kenaikan hampir dua kali lipat dibandingkan capaian sekitar US$11 miliar pada 2018, atau tumbuh rata-rata belasan persen secara year-on-year dalam periode tersebut. Saat ini WWT mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan dan melayani klien dari jajaran Fortune 500 hingga instansi pemerintah federal.

Menurut Steward, pertumbuhan itu tidak lepas dari keyakinan yang ia warisi. Dalam berbagai wawancara, ia kerap mengutip kisah Nabi Nuh sebagai kompas hidup: membangun bahtera jauh sebelum air bah tiba, meskipun dikelilingi ejekan dan keraguan. Baginya, kesuksesan bukan soal menebak arah angin, melainkan soal mempersiapkan diri lebih awal daripada orang lain.

Prinsip Nuh: Persiapan Sebelum Badai

Inti dari kisah Nabi Nuh yang diterjemahkan Steward ke dalam dunia bisnis adalah kesabaran dan kesiapan jangka panjang. Seorang pengusaha, kata dia, tidak boleh menunggu krisis untuk mulai membangun fondasi. Bahtera harus selesai dibangun saat cuaca masih cerah, sehingga ketika badai datang, perusahaannya sudah siap berlayar.

Dalam praktiknya, prinsip itu diterjemahkan menjadi disiplin keuangan: WWT menjaga rasio likuiditas yang sehat, menghindari utang berlebihan, dan menahan diri dari ekspansi yang tidak didukung fundamental bisnis. Pendekatan ini selaras dengan data empiris. Sejumlah studi menunjukkan bahwa perusahaan yang memasuki masa resesi dengan kas kuat cenderung bertahan lebih baik dan justru merebut pangsa pasar dari pesaing yang lebih rapuh. Di AS, indeks perusahaan teknologi besar memang mengalami kenaikan signifikan dalam dua dekade terakhir, tetapi volatilitasnya juga tinggi, sehingga ketahanan arus kas menjadi pembeda utama antara perusahaan yang bertahan dan yang tumbang.

Dua Sisi: Pro dan Kontra

Di satu sisi, kisah Steward menjadi bukti bahwa nilai-nilai ketekunan dan kesiapan, yang ia sebut sebagai prinsip Nabi Nuh, dapat menghasilkan kinerja bisnis yang terukur. Ketika banyak perusahaan teknologi lain menggelembungkan valuasi di tengah sentimen pasar yang positif, WWT memilih tumbuh perlahan namun pasti. Hasilnya, perusahaan ini tidak pernah mengalami krisis likuiditas berarti sepanjang sejarahnya, bahkan ketika gelembung dot-com pecah pada awal 2000-an dan saat sektor teknologi tertekan pada 2022.

Di sisi lain, para skeptis mengingatkan agar narasi keberhasilan tidak disederhanakan. Kesuksesan WWT juga ditopang faktor struktural yang sulit ditiru: siklus teknologi yang sedang naik selama tiga dekade, kontrak pemerintah AS yang bernilai miliaran dolar, serta akses pendanaan dan jaringan bisnis yang luas. Tanpa faktor-faktor itu, prinsip kesabaran saja belum tentu cukup. Para kritikus juga mencatat bahwa atribusi keberhasilan kepada nilai-nilai religius sering kali baru dilakukan setelah hasilnya terbukti, sehingga berisiko menjadi penjelasan yang menyederhanakan kompleksitas pasar.

Pelajaran untuk Pasar Berkembang

Terlepas dari perdebatan itu, kisah Steward menawarkan pelajaran yang relevan bagi pelaku usaha di negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam menghadapi ketidakpastian global, seperti risiko capital outflow, fluktuasi nilai tukar, dan perlambatan ekonomi mitra dagang, perusahaan dengan fundamental kuat dan likuiditas memadai cenderung lebih tahan banting. Prinsip membangun bahtera sebelum badai, jika diterjemahkan secara sederhana, berarti memperkuat neraca di masa tenang, bukan di tengah krisis.

Proyeksi ke depan memang penuh ketidakpastian. Suku bunga global yang masih tinggi, tensi geopolitik, dan perubahan teknologi seperti kecerdasan buatan berpotensi membalik tren persaingan. Namun satu hal yang jarang berubah: perusahaan yang disiplin dalam persiapan jangka panjang umumnya memiliki ruang gerak lebih besar saat badai tiba. Bagi Steward, itu adalah pelajaran berusia ribuan tahun yang tetap relevan untuk ekonomi modern. Portofolio bisnis yang dibangun dengan sabar, katanya, jauh lebih bernilai daripada keuntungan cepat yang tidak disertai fondasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User