Aug 27, 2026
Bisnis

Trip.com Didenda Rp13,7 Triliun karena Langgar Aturan Antimonopoli China

Otoritas pengawas pasar China, State Administration for Market Regulation (SAMR), resmi mengenakan denda senilai 5,18 miliar yuan—setara dengan lebih dari Rp13,7 triliun—kepada perusahaan agen per...

Trip.com Didenda Rp13,7 Triliun karena Langgar Aturan Antimonopoli China

Otoritas pengawas pasar China, State Administration for Market Regulation (SAMR), resmi mengenakan denda senilai 5,18 miliar yuan—setara dengan lebih dari Rp13,7 triliun—kepada perusahaan agen perjalanan daring terkemuka, Trip.com Group Ltd., pada Selasa (24/6). Sanksi ini dijatuhkan setelah serangkaian investigasi mengonfirmasi bahwa perusahaan telah melakukan praktik monopoli dengan membatasi persaingan di pasar layanan reservasi hotel daring di China. Keputusan ini menandai eskalasi terbaru dari kampanye penegakan antimonopoli Beijing terhadap raksasa teknologi.

Dalam pernyataan resminya, SAMR menyebut bahwa Trip.com memanfaatkan dominasi pasarnya untuk memaksa mitra hotel menandatangani perjanjian eksklusif yang melarang mereka menjual kamar melalui platform pesaing dengan harga lebih rendah. Selain itu, perusahaan juga disebut menerapkan sistem “perlakuan istimewa berbasis loyalitas” yang memberikan sanksi diskriminatif kepada hotel yang mencoba menjalin kemitraan multipel. Langkah-langkah tersebut, menurut regulator, secara signifikan merugikan konsumen karena membatasi pilihan dan mendorong harga tetap tinggi.

Praktik Monopoli yang Merugikan Pasar

Investigasi yang berlangsung selama lebih dari delapan bulan ini mengungkap bahwa Trip.com menguasai lebih dari 60 persen pangsa pasar pemesanan perjalanan daring di China. Dengan kekuatan itu, perusahaan mampu mendikte persyaratan yang tidak adil kepada hotel-hotel, terutama properti skala kecil dan menengah yang sangat bergantung pada kanal distribusi digital. Bukti yang dikumpulkan oleh SAMR menunjukkan bahwa Trip.com menggunakan klausul kontrak yang melarang hotel menawarkan tarif lebih rendah di situs sendiri atau melalui agen perjalanan daring lain. Jika melanggar, hotel akan dikenai penalti berupa penurunan peringkat pencarian atau bahkan penghapusan dari platform.

Perilaku ini, berdasarkan Undang-Undang Antimonopoli China yang telah diamendemen pada 2022, tergolong sebagai penyalahgunaan posisi dominan. Undang-undang tersebut secara tegas melarang penetapan perjanjian eksklusif tanpa justifikasi objektif, terutama jika merugikan persaingan sehat dan kepentingan publik. Denda sebesar 5,18 miliar yuan yang dijatuhkan setara dengan sekitar 4 persen dari total pendapatan Trip.com pada tahun fiskal sebelumnya, masih berada di bawah batas maksimal 10 persen yang diperbolehkan oleh regulasi, namun menjadi yang terbesar ketiga yang pernah dikenakan kepada perusahaan teknologi oleh SAMR.

Respon Perusahaan dan Langkah Perbaikan

Trip.com merespons putusan tersebut dengan kooperatif. Dalam pengumuman yang disampaikan ke Bursa Efek Hong Kong, manajemen perusahaan menyatakan “menerima keputusan regulator dan berkomitmen untuk sepenuhnya mematuhi hukum yang berlaku.” Perusahaan mengklaim telah menghentikan praktik yang dipertanyakan dan akan segera melakukan reformasi kepatuhan internal yang mendalam. Rencana tersebut mencakup pembentukan unit independen pengawas antimonopoli di bawah dewan direksi, pelatihan wajib untuk seluruh tim penjualan dan kemitraan, serta penyesuaian algoritma peringkat agar lebih transparan dan non-diskriminatif.

“Kami telah menarik semua klausul eksklusif dari kontrak mitra hotel dan akan meluncurkan portal umpan balik bagi pemangku kepentingan untuk melaporkan dugaan praktik antipersaingan,” demikian pernyataan tertulis Trip.com. Meski demikian, beberapa analis menilai langkah ini masih perlu diuji implementasinya mengingat kuatnya posisi perusahaan dalam ekosistem perjalanan China. Saham Trip.com yang diperdagangkan di Hong Kong sempat merosot 2,3 persen pada pembukaan perdagangan pagi, namun berhasil memangkas penurunan menjadi hanya 0,7 persen pada penutupan, seiring dengan keyakinan bahwa perusahaan akan segera pulih setelah menyelesaikan masalah kepatuhan.

Konteks Penegakan Antimonopoli di China

Sanksi terhadap Trip.com bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Sejak 2021, Beijing secara agresif memberlakukan regulasi antimonopoli terhadap perusahaan teknologi besar sebagai bagian dari inisiatif “common prosperity” dan penataan ekonomi digital. Pada April 2021, Alibaba Group dihukum dengan rekor denda sebesar 18,2 miliar yuan (sekitar Rp40 triliun) karena memaksa pedagang untuk tidak berjualan di platform saingan. Kemudian, Meituan didenda 3,4 miliar yuan pada Oktober 2021 dengan alasan serupa. Denda kepada Trip.com kini menempati posisi ketiga tertinggi dalam daftar tersebut.

Langkah keras ini mencerminkan pergeseran paradigma kebijakan pemerintah China dari pendekatan laissez-faire terhadap ekonomi digital menuju pengawasan ketat untuk menjamin persaingan yang adil dan melindungi konsumen. Dalam pandangan pihak berwenang, dominasi platform besar yang tidak terkendali berpotensi membunuh inovasi, menekan usaha kecil, dan pada akhirnya memicu ketidakstabilan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, setiap pemain utama di sektor e-commerce, transportasi, fintech, dan kini perjalanan, berada di bawah radar SAMR.

Dampak bagi Industri dan Konsumen

Putusan ini diprediksi akan mengguncang lanskap industri perjalanan daring China. Pelaku usaha kecil dan baru akan memiliki ruang lebih lebar untuk bersaing tanpa intimidasi dari pemain dominan. Konsumen diharapkan dapat menikmati harga yang lebih kompetitif karena hotel kini bebas menawarkan tarif promosi di berbagai kanal tanpa khawatir dihukum oleh platform besar. Komisi Perdagangan Nasional China berencana menerbitkan pedoman baru bagi sektor pemesanan daring yang mendorong transparansi tarif dan penghapusan klausul eksklusif.

Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa hukuman ini dapat mengganggu stabilitas ekosistem yang sudah terlanjur terbangun. Banyak hotel kecil justru bergantung pada dominasi Trip.com untuk mendapatkan trafik dan pemesanan. Tanpa perlindungan eksklusif, agen perjalanan daring mungkin akan memangkas investasi promosi dan layanan pelanggan kepada properti tertentu. Seorang analis senior dari Huatai Securities menyatakan bahwa “transisi menuju pasar yang lebih terbuka mungkin menimbulkan dislokasi pendapatan jangka pendek bagi hotel-hotel yang sebelumnya menikmati jaminan distribusi dari Trip.com, namun dalam jangka panjang akan menyehatkan industri.”

Dengan kepatuhan yang dijanjikan Trip.com, pasar sekarang menantikan implementasi nyata dari reformasi internal tersebut. SAMR menyatakan akan terus memantau kepatuhan perusahaan selama tiga tahun ke depan dengan mekanisme pelaporan berkala. Sinyal kuat dari Beijing bahwa tidak ada perusahaan, sekelas apapun, kebal dari hukum antimonopoli.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User