Tiongkok — Pemasok Bahan Baku Baterai Litium Naikkan Harga Tajam
Beijing — Sejumlah pemasok bahan baku baterai litium di Tiongkok resmi mengumumkan kenaikan harga yang signifikan pada awal kuartal ini, memicu kekhawatira
Beijing — Sejumlah pemasok bahan baku baterai litium di Tiongkok resmi mengumumkan kenaikan harga yang signifikan pada awal kuartal ini, memicu kekhawatiran di kalangan produsen baterai dan industri kendaraan listrik (EV) global. Langkah ini diambil di tengah melonjaknya permintaan global akan kendaraan bertenaga listrik serta makin ketatnya pasokan bahan mentah dari tambang-tambang utama. Produsen baterai raksasa seperti CATL, BYD, dan CALB kini dihadapkan pada tekanan biaya yang berpotensi mengikis margin keuntungan mereka.
Berdasarkan data yang dihimpun dari pelaku pasar, harga litium karbonat—salah satu komponen vital untuk baterai lithium-ion—naik hingga 25% dalam sepekan terakhir. Kontrak spot untuk litium karbonat grade baterai kini bertengger di kisaran 180.000 yuan per ton, melonjak dari sebelumnya 145.000 yuan per ton. Sementara itu, litium hidroksida yang biasa digunakan pada baterai berperforma tinggi untuk kendaraan listrik jarak jauh ikut terkerek ke level 200.000 yuan per ton. Kenaikan ini langsung berdampak pada biaya produksi sel baterai, yang merupakan komponen termahal dari sebuah mobil listrik.
Para analis menyebut beberapa faktor pemicu utama. Di sisi permintaan, adopsi kendaraan listrik global yang diproyeksikan mencapai 17 juta unit pada 2025 memaksa pabrikan baterai menyerap stok litium dalam jumlah besar. Di sisi pasokan, ekspansi tambang di Australia, Chile, dan Argentina belum cukup untuk mengimbangi lonjakan kebutuhan, sementara Tiongkok sebagai pemurni litium terbesar dunia memberlakukan regulasi lingkungan yang membatasi produksi di musim dingin. Akibatnya, stok di pelabuhan utama Tiongkok menyusut ke level terendah dalam dua tahun. Ganfeng Lithium dan Tianqi Lithium—dua pemasok litium terbesar di Tiongkok—disebut-sebut sebagai motor utama kenaikan ini karena kebijakan harga barunya.
Analisis Dampak pada Industri Baterai dan EV
Kenaikan harga bahan baku memukul langsung struktur biaya produsen baterai. Menurut data Shanghai Metals Market (SMM), biaya rata-rata sel baterai LFP (lithium iron phosphate) yang semula sekitar 460 yuan per kWh kini bergerak mendekati 510 yuan per kWh. Sel NMC (nickel-manganese-cobalt) yang lebih mahal juga terangkat, dari 670 yuan/kWh menjadi sekitar 730 yuan/kWh. Artinya, untuk satu unit mobil listrik dengan kapasitas baterai 60 kWh, tambahan biaya bisa mencapai 3.600 yuan (sekitar Rp 8 juta) hanya dari sel baterai jenis LFP—atau lebih untuk jenis NMC. Tekanan ini berpotensi ditransmisikan ke harga jual mobil listrik, mengancam target penurunan biaya yang selama ini menjadi kunci adopsi massal.
Berikut adalah perbandingan harga material utama baterai litium sebelum dan sesudah kenaikan terbaru berdasarkan kutipan pasar Tiongkok:
| Material | Harga Sebelum (Yuan/ton) | Harga Setelah (Yuan/ton) | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| Litium Karbonat (Battery Grade) | 145.000 | 180.000 | 24,1% |
| Litium Hidroksida (Monohydrate) | 160.000 | 200.000 | 25,0% |
| Spodumene (6% Li₂O) | 4.500 | 5.500 | 22,2% |
| Nikel Sulfat (Crystalline) | 35.000 | 38.500 | 10,0% |
Produsen baterai besar sebetulnya masih punya sejumlah penyangga. CATL, misalnya, telah mengamankan kontrak jangka panjang dengan beberapa tambang di Afrika dan Australia, serta mulai mengoperasikan fasilitas daur ulang litium yang diharapkan dapat memenuhi 15% dari kebutuhan litiumnya pada 2026. Meski demikian, tekanan harga tetap terasa, terutama bagi produsen tier dua yang tidak memiliki kontrol rantai pasok sekuat CATL. Seorang eksekutif yang enggan disebut namanya mengungkapkan, “Margin kami sudah tipis. Kenaikan ini akan memukul profitabilitas hingga 5–8 poin persentase jika tidak segera diantisipasi.”
“Kenaikan biaya bahan baku ini akan menyusutkan margin laba pabrikan baterai, namun permintaan EV yang masih kuat memberikan daya tawar bagi pemasok. Kami memperkirakan tekanan harga akan berlanjut setidaknya dua kuartal ke depan,” ujar analis senior dari SNE Research, Kim Min-soo. Sementara itu, Bernstein Research dalam catatan terbarunya menyebutkan, “Meski harga litium naik, penurunan biaya di sisi non-material—seperti manufaktur skala besar dan optimasi desain sel—masih bisa menetralkan dampak, sehingga harga jual EV tidak perlu naik drastis.” Namun, jika kenaikan harga litium bertahan di atas level saat ini, otomotif global bisa saja menunda target penurunan harga kendaraan listrik hingga dua tahun.
Di sisi lain, kenaikan ini justru membuka peluang akselerasi pengembangan baterai alternatif. Baterai sodium-ion yang tengah diujicobakan oleh CATL mulai dilirik sebagai opsi jangka panjang, karena natrium melimpah dan lebih murah. Teknologi solid-state juga sedang dikebut, meskipun masih dalam tahap pra-komersial. Pemerintah Tiongkok melalui Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) belum mengeluarkan intervensi harga, namun telah meminta asosiasi industri untuk menjaga stabilitas pasokan material strategis.
Secara keseluruhan, kenaikan harga bahan baku baterai litium kali ini menegaskan kembali bahwa rantai pasok energi bersih masih rapuh. Diversifikasi sumber, investasi di hulu tambang, dan inovasi kimia sel akan menjadi penentu siapa yang mampu bertahan dalam revolusi kendaraan listrik yang semakin ketat.
Comments (0)