Kepulan asap pekat membubung tinggi di atas langit Distrik Fakfak Timur, Papua Barat, membiaskan sinar matahari sore menjadi kemerahan. Di bawah naungan vegetasi yang kian mengering akibat kemarau panjang, puluhan warga lokal bahu-membahu menembus semak belukar. Di antara barisan warga tersebut, tampak deretan mahasiswa yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (Unhas), sigap memikul peralatan pemadam rakitan untuk menaklukkan kobaran api yang terus meluas.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan pesisir dan perbukitan Fakfak Timur ini bukan sekadar insiden musiman biasa. Karhutla di wilayah ini mengancam setidaknya 45 hektar kawasan hutan tutupan serta perkebunan pala—komoditas emas yang menjadi penopang hidup masyarakat adat setempat. Kehadiran Tim Patriot Unhas di garis depan tidak hanya memberikan bantuan tenaga, tetapi juga membawa pendekatan teknis dalam mengisolasi titik api agar tidak menjangkau permukiman warga.
Ancaman Ekologis dan Kelangsungan Hutan Pala
Distrik Fakfak Timur dikenal luas sebagai salah satu lumbung pala berkualitas tinggi di Tanah Papua. Ketika api mulai merembet pada awal pekan ini, kekhawatiran terbesar warga adalah musnahnya pohon-pohon pala tua yang telah diwariskan secara turun-temurun. Angin kencang yang berembus dari arah pesisir kerap membuat arah lidah api sulit diprediksi, mempercepat penyebaran kebakaran ke vegetasi kering di sekitarnya.
Koordinator lapangan Tim Ekspedisi Patriot Unhas mengungkapkan betapa krusialnya penanganan cepat di medan yang sangat menantang ini. Tanpa akses jalan yang memadai untuk kendaraan pemadam kebakaran bertonase besar, upaya pemadaman harus bertumpu pada ketahanan fisik dan taktik darurat.
"Kami menyaksikan langsung bagaimana warga bertaruh waktu melawan pergerakan angin. Medan perbukitan yang terjal membuat suplai air sangat terbatas. Karena itu, fokus utama kami bersama masyarakat adalah membuat sekat bakar (firebreak) dan memadamkan titik api permukaan menggunakan peralatan seadanya," ungkap salah satu anggota Tim Patriot Unhas di lokasi bencana.
Taktik Sekat Bakar dan Tantangan Medan Terjal
Strategi utama yang diterapkan oleh tim gabungan ini adalah pembersihan jalur dari material mudah terbakar seperti serasah daun dan ranting kering. Pembuatan sekat bakar sepanjang 2,5 kilometer berhasil memutus rantai api yang merambat mendekati perkebunan warga. Kerja keras ini melibatkan sinergi erat antara mahasiswa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan tokoh masyarakat adat.
Berikut adalah data teknis penanganan karhutla di Distrik Fakfak Timur selama aksi tanggap darurat berlangsung:
| Parameter Penanganan | Cakupan Data |
|---|---|
| Estimasi Luas Areal Terdampak | 45 Hektar |
| Panjang Sekat Bakar Dibuat | 2,5 Kilometer |
| Total Personel Terlibat | 85 Orang (Warga, Mahasiswa, BPBD) |
| Durasi Pemadaman Utama | 36 Jam Non-stop |
Sinergi Akademisi dan Pengetahuan Adat
Aksi tanggap bencana ini juga membuka ruang dialog penting antara riset akademis dan kearifan lokal. Warga lokal membagikan pengetahuan mereka mengenai navigasi hutan dan pola angin setempat, sementara tim akademisi Unhas menyumbangkan metode pemetaan geospasial sederhana untuk memprediksi pergerakan api selanjutnya.
"Kehadiran anak-anak muda dari Unhas memberikan dorongan semangat luar biasa bagi kami. Mereka tidak canggung masuk ke dalam hutan yang pekat dengan asap dan membantu memadamkan bara yang tersisa di dalam tanah," tutur seorang tokoh masyarakat Distrik Fakfak Timur dengan nada haru.
Meski sebagian besar titik api berhasil dikendalikan, ancaman karhutla belum sepenuhnya sirna. Tim Ekspedisi Patriot Unhas kini beralih fokus pada kegiatan mitigasi pasca-bencana, termasuk edukasi bahaya pembakaran lahan secara sembarangan serta pemantauan titik panas (hotspot) secara berkala. Perjuangan di Fakfak Timur menjadi bukti nyata bahwa keterlibatan kaum muda terpelajar di daerah terpencil mampu menjadi penentu keselamatan ekosistem dan ruang hidup masyarakat adat.
Comments (0)