Oct 19, 2026
Bisnis

Tiga Tokoh Berbagi Strategi Bisnis di Lampung Financial Festival

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2025, indeks literasi keuangan nasional baru menyentuh angka 65,43 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 75,02 persen. Kesenjangan ...

Tiga Tokoh Berbagi Strategi Bisnis di Lampung Financial Festival

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2025, indeks literasi keuangan nasional baru menyentuh angka 65,43 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 75,02 persen. Kesenjangan antara keduanya menunjukkan bahwa akses terhadap produk keuangan tumbuh lebih cepat dibandingkan pemahaman masyarakat terhadap pengelolaannya. Kondisi ini menjadi latar belakang penyelenggaraan Lampung Financial Festival 2026, sebuah ajang tahunan yang mempertemukan pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat umum untuk mendiskusikan strategi membangun bisnis yang berkelanjutan.

Pada gelaran tersebut, tiga figur nasional hadir sebagai pembicara: Zulkifli Hasan, Raffi Ahmad, dan Chairul Tanjung. Ketiganya mewakili latar belakang yang berbeda—politik dan kebijakan, industri hiburan dan bisnis digital, serta konglomerasi ritel dan jasa keuangan. Kehadiran mereka menarik perhatian karena menawarkan perspektif yang saling melengkapi tentang bagaimana sebuah usaha dibangun, dipertahankan, dan dikembangkan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Fundamental Usaha versus Sentimen Pasar

Dalam sesi diskusi, pesan utama yang mengemuka adalah pentingnya membangun fundamental usaha sebelum mengejar ekspansi. Chairul Tanjung, yang dikenal melalui grup usaha di sektor ritel dan pembiayaan, menekankan bahwa pertumbuhan bisnis tidak dapat dilepaskan dari disiplin pengelolaan arus kas dan likuiditas. Menurutnya, banyak usaha kecil mengalami kegagalan bukan karena kurangnya permintaan, melainkan karena ketidakmampuan menjaga rasio keuangan yang sehat ketika menghadapi guncangan pasar.

"Bisnis itu bukan soal siapa yang paling cepat berlari, tapi siapa yang paling lama bertahan. Fundamental yang kuat adalah bantalan ketika sentimen pasar berubah," ujarnya di hadapan peserta festival.

Pandangan ini sejalan dengan tren pembiayaan nasional. Data Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan kredit modal kerja per Desember 2025 berada di kisaran 7,8 persen year-on-year, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perlambatan ini mengindikasikan bahwa pelaku usaha cenderung berhati-hati dalam menambah leverage di tengah suku bunga yang masih relatif tinggi.

Adaptasi Digital dan Valuasi Bisnis Masa Depan

Di sisi lain, Raffi Ahmad menyoroti aspek adaptasi teknologi dan personal branding sebagai instrumen pertumbuhan. Ia menyebut bahwa valuasi sebuah bisnis kini tidak hanya ditentukan oleh aset fisik, tetapi juga oleh kemampuan menjangkau pasar melalui kanal digital. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran tren ekonomi ke arah ekonomi perhatian, di mana keterlibatan audiens menjadi komoditas bernilai tinggi.

Pro: strategi digital memungkinkan usaha mikro menjangkau konsumen lintas wilayah dengan biaya relatif rendah, sehingga mempercepat inklusi ekonomi. Kontra: tanpa tata kelola yang baik, ekspansi berbasis popularitas berisiko menciptakan pertumbuhan yang tidak berkelanjutan dan rentan terhadap perubahan algoritma platform. Karena itu, kombinasi antara narasi pemasaran dan manajemen risiko menjadi krusial.

Zulkifli Hasan melengkapi diskusi dengan menyoroti peran kebijakan dalam menciptakan ekosistem usaha yang kondusif. Ia menekankan bahwa stabilitas regulasi dan kemudahan perizinan merupakan prasyarat bagi masuknya investasi, termasuk modal asing yang sensitif terhadap risiko politik dan hukum.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Secara makro, Perekonomian Lampung tercatat tumbuh 4,9 persen pada 2025, sedikit di bawah rata-rata nasional. Sektor pertanian, perdagangan, dan jasa masih mendominasi struktur ekonomi daerah. Ini membuka peluang sekaligus tantangan: diversifikasi usaha diperlukan agar tidak bergantung pada satu sektor yang rentan terhadap fluktuasi harga komoditas.

Dari perspektif portofolio, capital outflow dari pasar negara berkembang masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Ketika investor global menarik dana, tekanan terhadap nilai tukar dan likuiditas domestik meningkat, yang pada akhirnya memengaruhi biaya modal pelaku usaha. Dalam konteks inilah literasi keuangan menjadi benteng pertahanan, baik bagi rumah tangga maupun pelaku UMKM.

Kesimpulannya, festival ini menegaskan bahwa kesuksesan berwirausaha tidak bertumpu pada satu resep tunggal. Fundamental keuangan yang disiplin, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, dan dukungan ekosistem kebijakan merupakan tiga pilar yang saling menguatkan. Bagi pembaca, pesan utamanya cukup jelas: pahami angka, kelola risiko, dan jangan pernah mengabaikan pentingnya literasi sebelum mengejar ekspansi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User