Oct 10, 2026
Bisnis

Ketua LPS Berbagi Strategi Ketangguhan Finansial kepada Generasi Muda Lampung

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per kuartal terakhir, tingkat simpanan masyarakat di perbankan nasional terus menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan year-on-year mencapai 8,2%, m...

Ketua LPS Berbagi Strategi Ketangguhan Finansial kepada Generasi Muda Lampung

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per kuartal terakhir, tingkat simpanan masyarakat di perbankan nasional terus menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan year-on-year mencapai 8,2%, menembus nilai nominal Rp8.700 triliun. Angka ini menjadi indikator penting bahwa kepercayaan publik terhadap sistem keuangan masih solid di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, di balik capaian makro tersebut, tantangan fundamental tetap membayangi, terutama terkait literasi keuangan generasi muda yang baru memasuki pasar kerja dan mulai membangun portofolio finansial pertama mereka.

Dalam sebuah forum literasi keuangan di Lampung Financial Festival, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menekankan bahwa ketangguhan finansial bukanlah hasil instan, melainkan akumulasi dari pembelajaran berkelanjutan dan kerja keras. Pesan ini relevan mengingat indeks literasi keuangan nasional berdasarkan survei OJK baru berada di kisaran 65,4%, sementara indeks inklusi keuangan sudah mencapai 75,2%. Artinya, ada gap antara akses terhadap produk keuangan dan pemahaman mendalam tentang cara mengelolanya secara bijak.

Ketangguhan sebagai Fondasi Pengelolaan Risiko

Di satu sisi, ketangguhan finansial atau financial resilience—kemampuan individu bertahan menghadapi guncangan ekonomi—menjadi kunci utama bagi generasi muda yang baru memulai karier. Data menunjukkan bahwa kelompok usia 18-35 tahun memiliki rasio tabungan terhadap pendapatan yang relatif rendah, sekitar 12-15%, jauh di bawah kelompok usia produktif mapan yang bisa mencapai 25-30%. Kondisi ini membuat mereka rentan terhadap gejolak ekonomi jangka pendek, seperti inflasi yang masih berada di kisaran 2,5-3% year-on-year.

Anggito menegaskan bahwa prinsip utama dalam mengelola keuangan adalah memahami risiko sebelum mengejar imbal hasil. Dalam terminologi keuangan, ini disebut sebagai risk-adjusted return—yakni seberapa besar keuntungan yang diperoleh dibandingkan risiko yang ditanggung. Banyak anak muda tergoda mengejar instrumen berimbal hasil tinggi tanpa memahami likuiditas dan profil risikonya, sehingga rentan mengalami kerugian saat sentimen pasar berubah.

"Ketangguhan bukan soal seberapa besar penghasilan, tapi seberapa baik kita mengelola apa yang kita miliki dan terus belajar dari setiap keputusan," ujar Anggito dalam sesi tersebut, mengutip filosofi yang ia yakini sepanjang kariernya di dunia kebijakan fiskal dan stabilitas sistem keuangan.

Pembelajaran Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar

Di sisi lain, tantangan generasi muda tidak hanya soal disiplin menabung, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan lanskap keuangan digital yang bergerak cepat. Perkembangan instrumen investasi berbasis teknologi, mulai dari reksa dana online hingga aset kripto, membuka peluang sekaligus risiko baru. Otoritas Jasa Keuangan mencatat jumlah investor ritel di pasar modal telah melampaui 12 juta single investor identification (SID) per akhir tahun lalu, dengan dominasi usia muda di bawah 40 tahun mencapai lebih dari 55%.

Namun, peningkatan jumlah investor ini tidak selalu diimbangi dengan pemahaman fundamental yang memadai. Banyak investor pemula yang lebih mengandalkan sentimen pasar dan tren media sosial ketimbang analisis valuasi dan fundamental emiten. Kondisi ini menciptakan risiko herding behavior—perilaku ikut-ikutan—yang bisa memperbesar volatilitas pasar dan merugikan investor ritel itu sendiri.

Anggito mengingatkan bahwa pembelajaran berkelanjutan adalah bentuk investasi paling murah namun berdampak jangka panjang. Ia mendorong generasi muda untuk memahami konsep dasar seperti diversifikasi portofolio, bunga majemuk, dan manajemen utang sebelum mengambil keputusan finansial yang lebih kompleks. Menurutnya, kesalahan umum anak muda adalah mengambil utang konsumtif untuk gaya hidup, bukan untuk produktivitas.

Kerja Keras dan Disiplin sebagai Penentu Jangka Panjang

Dari perspektif makro, ketangguhan finansial individu berkontribusi langsung terhadap stabilitas sistem keuangan nasional. LPS sebagai lembaga penjamin simpanan memiliki peran strategis dalam menjaga kepercayaan publik, dengan batas penjaminan simpanan per nasabah per bank yang saat ini ditetapkan sebesar Rp2 miliar. Angka ini mencerminkan komitmen negara melindungi dana masyarakat, namun tetap menuntut kesadaran individu untuk menempatkan dana secara bijak dan tersebar.

Kontra-argumen yang sering muncul adalah bahwa faktor eksternal—seperti kondisi ekonomi global, suku bunga acuan The Fed, dan capital outflow dari pasar emerging—sering kali lebih menentukan nasib finansial individu dibandingkan usaha pribadi. Fluktuasi nilai tukar rupiah dan tekanan inflasi impor bisa menggerus daya beli riil masyarakat, terlepas dari seberapa disiplin mereka menabung. Dalam konteks ini, ketangguhan individual memang penting, tetapi tidak cukup tanpa dukungan kebijakan makroprudensial yang stabil dan proyeksi ekonomi yang kredibel.

Meski demikian, pesan Anggito tetap relevan: fondasi karakter finansial yang kuat—jujur, disiplin, dan mau belajar—adalah modal utama yang tidak bisa digantikan oleh faktor eksternal mana pun. Generasi muda Lampung, sebagai bagian dari bonus demografi yang diproyeksikan mencapai puncak pada 2030, memiliki peluang besar menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional jika dibekali literasi finansial yang memadai.

Pada akhirnya, keseimbangan antara optimisme terhadap peluang dan kehati-hatian terhadap risiko menjadi kunci. Data makro boleh menunjukkan tren positif, tetapi tanpa ketangguhan fundamental di level individu, capaian tersebut rapuh terhadap guncangan. Inilah pesan yang coba diterjemahkan dari pengalaman panjang seorang pembuat kebijakan kepada generasi penerus: kerja keras, pembelajaran tanpa henti, dan pengelolaan risiko yang bijak adalah trilogi yang tak terpisahkan dalam membangun masa depan finansial yang berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User