Tiga Program Unggulan KUB Bank Jatim Pacu Kredit dan Digitalisasi
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2025, industri perbankan nasional mencatat pertumbuhan kredit sebesar 10,2% year-on-year (yoy), didorong oleh ekspansi bank pembangunan daera...
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2025, industri perbankan nasional mencatat pertumbuhan kredit sebesar 10,2% year-on-year (yoy), didorong oleh ekspansi bank pembangunan daerah (BPD). Di tengah tren tersebut, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) melaporkan bahwa tiga program unggulan dalam kelompok usaha bank (KUB) menjadi motor utama peningkatan penyaluran kredit dan percepatan layanan digital. Program-program ini dirancang untuk memperkuat sinergi antaranggota KUB, yang mencakup bank-bank BPD dari berbagai provinsi, guna menghadapi tekanan likuiditas dan persaingan fintech.
Sinergi KUB: Strategi Kolektif BPD
KUB merupakan skema konsolidasi yang mendorong BPD untuk bergabung dalam satu kelompok usaha, dengan tujuan meningkatkan skala ekonomi dan daya saing. Bank Jatim, sebagai bank inti, menginisiasi tiga program andalan yang berfokus pada pembiayaan sektor produktif, digitalisasi layanan, dan optimalisasi aset. "Program pertama adalah pengembangan kredit rantai pasok (supply chain) yang terintegrasi dengan ekosistem UMKM di daerah," ujar Direktur Utama Bank Jatim, dalam keterangan resmi yang diterima Beritadua, Rabu (12/3/2025). Program ini menargetkan penyaluran kredit hingga Rp5 triliun hingga akhir tahun, dengan fokus pada sektor pertanian, perikanan, dan manufaktur lokal.
Di sisi lain, program kedua berfokus pada digitalisasi layanan perbankan melalui platform bersama yang menghubungkan seluruh anggota KUB. Platform ini memungkinkan nasabah BPD di berbagai provinsi untuk melakukan transaksi lintas bank tanpa biaya tambahan, seperti transfer, pembayaran, dan pembukaan rekening secara daring. Hingga Februari 2025, jumlah pengguna aktif platform tersebut mencapai 1,2 juta, meningkat 35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pro: Integrasi digital ini dinilai mampu menekan biaya operasional hingga 15% dan memperluas basis nasabah, terutama generasi milenial dan Gen Z yang mengutamakan kemudahan akses. Kontra: Namun, beberapa pengamat mengingatkan bahwa ketergantungan pada sistem bersama dapat meningkatkan risiko siber jika tidak diimbangi dengan investasi keamanan yang memadai.
Program Ketiga: Optimalisasi Aset dan Likuiditas
Program ketiga adalah optimalisasi aset melalui pengelolaan dana murah (current account saving account/CASA) dan diversifikasi portofolio investasi. Bank Jatim mencatat rasio CASA mencapai 62,4% pada akhir 2024, naik dari 58,7% pada 2023, berkat kampanye literasi keuangan dan insentif suku bunga untuk tabungan digital. "Dengan CASA yang kuat, kami dapat menurunkan biaya dana (cost of fund) hingga 3,8%, yang memungkinkan penawaran kredit dengan bunga kompetitif," jelas Direktur Keuangan Bank Jatim. Selain itu, program ini mencakup penjualan aset non-produktif dan restrukturisasi kredit bermasalah (NPL), yang berhasil menekan rasio NPL menjadi 2,1% dari 2,8% pada tahun sebelumnya.
Pro: Penguatan likuiditas ini membuat Bank Jatim lebih tahan terhadap gejolak pasar, termasuk potensi capital outflow akibat kebijakan suku bunga global. Kontra: Di sisi lain, fokus pada efisiensi aset dapat mengurangi ruang ekspansi kredit di sektor-sektor berisiko tinggi, seperti properti, yang justru membutuhkan pembiayaan jangka panjang. Menurut data Bank Indonesia, pertumbuhan kredit properti nasional hanya 6,5% yoy pada kuartal IV-2024, lebih rendah dari target, sehingga BPD perlu menyeimbangkan antara kehati-hatian dan kebutuhan mendorong konsumsi domestik.
Dampak terhadap Kinerja dan Proyeksi
Implementasi tiga program ini telah tercermin dalam laporan keuangan Bank Jatim. Pada tahun buku 2024, bank mencatat laba bersih sebesar Rp4,2 triliun, tumbuh 12,3% yoy, dengan total aset mencapai Rp180 triliun. Kredit yang disalurkan tumbuh 11,8% yoy, melampaui rata-rata industri, sementara dana pihak ketiga (DPK) meningkat 9,5%. "Kami optimistis pertumbuhan kredit dapat mencapai 12-13% pada 2025, didukung oleh ekspansi digital dan sinergi KUB," tambahnya.
Proyeksi ini sejalan dengan optimisme pasar, di mana saham Bank Jatim (BJTM) mengalami kenaikan 8,2% sejak awal tahun, mencerminkan sentimen positif investor terhadap fundamental bank. Namun, analis menyoroti bahwa keberhasilan program ini bergantung pada implementasi di lapangan, terutama koordinasi antar-BPD yang memiliki karakteristik ekonomi berbeda. Sebagai contoh, BPD di Jawa Timur yang berbasis industri manufaktur akan berbeda kebutuhan kreditnya dengan BPD di Kalimantan yang berbasis sumber daya alam.
"KUB bukan sekadar formalitas, tetapi harus menjadi katalis untuk efisiensi dan inovasi. Jika dikelola dengan baik, ini dapat menjadi model konsolidasi perbankan nasional," ujar ekonom senior dari Universitas Indonesia, Dr. Faisal Basri, dalam sebuah diskusi.
Ke depan, Bank Jatim berencana memperluas program digitalisasi ke layanan kredit mikro berbasis AI dan integrasi dengan gerbang pembayaran nasional. Meski demikian, tantangan seperti kesenjangan infrastruktur digital di daerah dan ketidakpastian ekonomi global tetap menjadi risiko. Dengan fundamental yang kuat dan strategi yang terukur, Bank Jatim diharapkan dapat menjadi pionir transformasi BPD di Indonesia.
Comments (0)