Suku Bunga Tinggi Jadi Tantangan Multifinance, Fundamental Masih Terjaga

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir Oktober 2023, BI 7-Day Reverse Repo Rate berada di level 6,00 persen, mengalami kenaikan 25 basis poin dan menjadi level tertinggi dalam empat tahun terakhir....

Aug 12, 2026 - 09:41
0 0
Suku Bunga Tinggi Jadi Tantangan Multifinance, Fundamental Masih Terjaga

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir Oktober 2023, BI 7-Day Reverse Repo Rate berada di level 6,00 persen, mengalami kenaikan 25 basis poin dan menjadi level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan piutang pembiayaan industri multifinance tercatat sekitar Rp481 triliun per Agustus 2023, tumbuh 14,9 persen year-on-year. Kombinasi dua data ini menggambarkan situasi dilematis: industri pembiayaan masih berekspansi, namun biaya dana yang harus ditanggung perusahaan ikut terkerek naik.

Deputi Komisioner OJK Jasmi dalam sebuah diskusi industri baru-baru ini menyoroti tantangan tersebut. Kenaikan suku bunga acuan dikhawatirkan menjadi momok bagi perusahaan pembiayaan karena sebagian besar pendanaan multifinance berasal dari pinjaman bank dan penerbitan obligasi yang bunganya bergerak mengikuti tren suku bunga acuan.

Tekanan Biaya Dana dan Margin

Secara struktural, perusahaan multifinance memperoleh pendanaan dari dua sumber utama: kredit perbankan dengan porsi sekitar 55-60 persen dan surat utang berupa obligasi serta medium term notes sekitar 30-35 persen. Ketika suku bunga acuan naik, cost of fund alias biaya dana dari kedua sumber tersebut ikut meningkat. Imbal hasil obligasi korporasi, misalnya, harus menyesuaikan dengan kenaikan yield Surat Berharga Negara tenor 10 tahun yang sempat menembus 6,9 persen.

Dalam kondisi normal, perusahaan pembiayaan menikmati selisih atau spread antara bunga yang dibebankan kepada konsumen dan biaya dana yang dibayarkan kepada kreditur. Spread inilah yang menjadi sumber keuntungan utama. Ketika biaya dana naik lebih cepat daripada kemampuan menaikkan bunga pembiayaan kepada konsumen, margin perusahaan akan tergerus secara signifikan.

Di Satu Sisi: Risiko yang Perlu Diwaspadai

Di satu sisi, tren suku bunga tinggi membawa sejumlah risiko nyata. Pertama, permintaan pembiayaan kendaraan bermotor berpotensi melambat karena konsumen menunda pembelian barang bernilai besar ketika cicilan menjadi lebih mahal. Kedua, risiko gagal bayar meningkat seiring beban cicilan debitur yang naik, terutama pada segmen konsumen berpendapatan menengah ke bawah. Ketiga, perusahaan yang memiliki obligasi jatuh tempo dalam waktu dekat menghadapi risiko pembiayaan kembali atau refinancing risk dengan kupon yang lebih mahal.

Sentimen pasar juga patut dicermati. Kenaikan suku bunga global, khususnya kebijakan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga di kisaran 5,25-5,50 persen, memicu kekhawatiran capital outflow atau keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik. Kondisi ini menekan likuiditas perbankan yang pada gilirannya membuat bank lebih selektif menyalurkan kredit ke perusahaan multifinance.

Di Sisi Lain: Fundamental Industri Masih Kokoh

Di sisi lain, fundamental industri multifinance secara agregat masih menunjukkan ketahanan. Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) gross per Agustus 2023 tercatat sekitar 2,4 persen, masih jauh di bawah batas aman 5 persen yang ditetapkan regulator. Rasio utang terhadap ekuitas atau gearing ratio industri berada di kisaran 2,5-3 kali, jauh di bawah batas maksimal 10 kali sesuai ketentuan OJK. Artinya, ruang pendanaan industri masih lega.

"Industri pembiayaan masih mencatatkan pertumbuhan yang solid dengan kualitas aset yang terjaga. Tantangan suku bunga memang ada, namun kapasitas permodalan dan likuiditas perusahaan multifinance secara umum masih memadai," ujar seorang pejabat OJK dalam diskusi tersebut.

Selain itu, permintaan domestik masih menjadi penopang. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil baru sepanjang 2023 berada di kisaran satu juta unit, sementara penjualan sepeda motor menurut Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI) tumbuh hingga sekitar 19 persen year-on-year menjadi lebih dari 6,2 juta unit. Mengingat sekitar 70-75 persen pembelian kendaraan dilakukan secara kredit, pasar multifinance masih memiliki basis permintaan yang kuat.

Proyeksi dan Strategi Adaptasi

Ke depan, sejumlah proyeksi menilai suku bunga acuan berpotensi bertahan di level tinggi lebih lama atau dikenal dengan istilah higher for longer, sebelum akhirnya turun seiring meredanya inflasi global. Inflasi Indonesia per Desember 2023 tercatat 2,61 persen year-on-year berdasarkan indeks harga konsumen, masih dalam kisaran sasaran Bank Indonesia 2,5±1 persen, yang membuka ruang pelonggaran di masa mendatang.

Dalam menghadapi situasi ini, perusahaan multifinance umumnya menempuh strategi diversifikasi sumber pendanaan, memperpanjang profil jatuh tempo utang, serta memperketat manajemen risiko kredit. Pemain besar dengan valuasi aset dan portofolio yang kuat dinilai lebih mampu menyerap kenaikan biaya dana dibandingkan pemain berskala kecil.

Pada akhirnya, kenaikan suku bunga memang menjadi momok yang nyata bagi industri multifinance. Namun, dengan fundamental yang terjaga, rasio kesehatan yang memadai, dan permintaan domestik yang masih tumbuh, tantangan ini lebih tepat dipandang sebagai ujian ketahanan bisnis daripada ancaman eksistensial. Keseimbangan antara kewaspadaan terhadap risiko dan optimisme berbasis data menjadi kunci membaca arah industri ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User