Destry Diusulkan Jadi Gubernur BI, Ini Dampaknya bagi Rupiah dan SBN
Berdasarkan data Bank Indonesia per pertengahan Maret 2025, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp16.400 hingga Rp16.600 per dolar AS, mendekati level terlemah sejak krisis keuangan Asia 1998. Di t...
Berdasarkan data Bank Indonesia per pertengahan Maret 2025, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp16.400 hingga Rp16.600 per dolar AS, mendekati level terlemah sejak krisis keuangan Asia 1998. Di tengah tekanan tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengajukan nama Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebagai calon Gubernur Bank Indonesia kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), menggantikan posisi Perry Warjiyo. Pergantian pucuk pimpinan bank sentral ini menjadi sorotan karena menyangkut dua hal yang paling dijaga investor: arah kebijakan moneter dan kredibilitas institusi.
Data BPS menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,03% year-on-year pada 2024, sementara inflasi tahunan per Maret 2025 berada di kisaran 1,0%, di bawah kisaran target BI sebesar 2,5%±1%. Fundamental yang relatif terjaga ini menjadi modal penting, tetapi sentimen pasar tetap mudah berubah apabila muncul keraguan soal independensi bank sentral.
Siapa Destry Damayanti dan Bagaimana Proses Pencalonannya?
Destry Damayanti merupakan ekonom senior lulusan Universitas Indonesia dan Cornell University, Amerika Serikat, dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di sektor keuangan — mulai dari perbankan, lembaga penjamin simpanan, hingga menjabat Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019. Dalam struktur bank sentral, posisi Deputi Gubernur Senior adalah jabatan tertinggi kedua yang membawahi bidang kebijakan moneter dan kestabilan sistem keuangan.
Secara prosedur, calon yang diusulkan presiden akan menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI DPR sebelum disahkan. Pasar umumnya merespons lebih tenang calon dari internal BI karena dianggap menjamin kesinambungan kebijakan, meski tetap mencermati seberapa jauh independensi bank sentral terjaga selama proses politik berjalan.
Efek ke Rupiah: Antara Kepastian dan Keraguan
Di satu sisi, penunjukan figur internal yang berpengalaman berpotensi menenangkan sentimen pasar. Rekam jejak panjang di bank sentral menandakan kebijakan moneter kemungkinan besar berlanjut: menjaga inflasi, menstabilkan rupiah, dan mengatur likuiditas perbankan. Jika pasar membaca ini sebagai sinyal kontinuitas, tekanan capital outflow — arus modal asing yang keluar dari aset domestik — berpeluang mereda dan rupiah bisa mengalami penguatan kembali dari zona Rp16.500-an.
Di sisi lain, wacana perubahan payung hukum BI yang berembus bersamaan dengan pergantian kepemimpinan menimbulkan pertanyaan di kalangan investor asing mengenai independensi bank sentral. Ketika kredibilitas dipertanyakan, investor cenderung meminta premi risiko lebih tinggi: mereka menarik dana, rupiah mengalami penurunan, dan imbal hasil obligasi naik. Faktor ini sebagian menjelaskan tren pelemahan rupiah dan gejolak indeks saham dalam beberapa pekan terakhir, ketika IHSG sempat anjlok lebih dari 6% dalam satu sesi hingga memicu penghentian perdagangan sementara.
Bagi investor global, isu independensi bank sentral sering kali lebih menentukan arah modal daripada sekadar siapa nama gubernurnya — demikian pandangan yang berkembang di kalangan analis pasar keuangan.
Efek ke SBN: Imbal Hasil dan Kepemilikan Asing
Di pasar Surat Berharga Negara (SBN) — obligasi yang diterbitkan pemerintah untuk membiayai anggaran — imbal hasil (yield) SBN acuan 10 tahun bergerak di kisaran 7,0%–7,2%, mengalami kenaikan dibandingkan akhir 2024. Kenaikan yield mencerminkan investor meminta kompensasi risiko lebih besar. Kepemilikan asing di SBN tercatat sekitar Rp880 triliun atau mendekati 15% dari total outstanding, sehingga persepsi investor luar negeri sangat menentukan arah pasar.
Di satu sisi, jika kepemimpinan baru BI dinilai kredibel dan kebijakan moneter tetap konservatif, yield berpotensi turun kembali, harga SBN naik, dan biaya pinjaman pemerintah menjadi lebih murah. Di sisi lain, bila pasar mencium adanya intervensi politik — misalnya tekanan agar BI memangkas bunga demi mendorong pertumbuhan — investor dapat menuntut yield lebih tinggi, memicu capital outflow dari portofolio obligasi dan menekan valuasi aset berdenominasi rupiah secara keseluruhan.
Proyeksi: Apa yang Dicermati Pasar ke Depan?
Setidaknya ada tiga penanda yang akan dicermati pelaku pasar. Pertama, hasil uji kelayakan di DPR serta pernyataan perdana calon gubernur mengenai arah kebijakan. Kedua, keputusan BI Rate yang saat ini berada di level 5,75% — apakah tetap ditahan untuk menjaga rupiah atau mulai dilonggarkan. Ketiga, cadangan devisa yang per Februari 2025 tercatat US$154,5 miliar, setara rasio lebih dari enam bulan impor, sebagai bantalan likuiditas valuta asing.
Secara fundamental, ekonomi Indonesia masih ditopang pertumbuhan di atas 5% dan inflasi rendah. Namun tren pelemahan rupiah menunjukkan bahwa kepercayaan adalah variabel yang tak kalah penting. Transisi kepemimpinan BI ini bisa menjadi katalis penguatan rupiah dan SBN — atau justru tekanan baru — tergantung seberapa meyakinkan pesan soal independensi dan kesinambungan kebijakan yang sampai ke pasar.
Comments (0)