Oct 08, 2026
Bisnis

Strategi Indonesia Kejar Net Zero Emission 2060 di Forum Global

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan kajian Bank Indonesia per September 2026, Indonesia kembali menegaskan komitmen menuju net zero emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat. Komitmen in...

Strategi Indonesia Kejar Net Zero Emission 2060 di Forum Global

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan kajian Bank Indonesia per September 2026, Indonesia kembali menegaskan komitmen menuju net zero emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat. Komitmen ini disampaikan dalam forum internasional menjelang Konferensi Para Pihak (COP) ke-31, sebuah pertemuan tahunan negara-negara dunia untuk membahas perubahan iklim. Pemerintah memaparkan sejumlah strategi transisi energi yang mencakup percepatan energi terbarukan, pengurangan ketergantungan pada batu bara, hingga pengembangan instrumen pembiayaan hijau.

Net zero emission sendiri adalah kondisi ketika jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer seimbang dengan jumlah yang mampu diserap kembali, baik melalui penanaman pohon maupun teknologi penangkapan karbon. Bagi pembaca awam, sederhananya: Indonesia ingin mencapai titik di mana tidak ada lagi tambahan emisi bersih yang memperparah pemanasan global.

Peta Jalan Transisi Energi dan Angka Target

Dalam paparan tersebut, pemerintah menyebut sejumlah angka spesifik. Kontribusi energi terbarukan ditargetkan mencapai 23% dari bauran energi nasional, dengan proyeksi kenaikan bertahap menuju 31% pada 2030. Kapasitas pembangkit listrik tenaga surya dan angin diproyeksikan tumbuh year-on-year, sementara pembangkit batu bara direncanakan mengalami penurunan kapasitas secara bertahap. Pemerintah juga menargetkan pengurangan emisi sektor kehutanan dan lahan melalui program rehabilitasi mangrove seluas ratusan ribu hektare.

Di satu sisi, langkah ini dinilai sejalan dengan tren global. Sentimen pasar terhadap instrumen keuangan berkelanjutan, seperti green bond dan sukuk hijau, terus mengalami kenaikan. Likuiditas di pasar obligasi hijau domestik tercatat menguat, dengan nilai penerbitan yang meningkat dibandingkan tahun pembanding 2024. Ini menunjukkan bahwa fundamental pembiayaan transisi energi mulai mendapat tempat di portofolio investor institusi.

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa target NZE 2060 menghadapi tantangan struktural. Ketergantungan pada batu bara masih tinggi, dan transisi mendadak berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi serta menciptakan capital outflow jika iklim investasi tidak kondusif. Ada pula kekhawatiran bahwa proyeksi pengurangan emisi bergantung pada asumsi teknologi yang belum sepenuhnya matang dan pendanaan internasional yang belum pasti.

Dua Perspektif: Peluang dan Risiko

Pro: Transisi energi membuka peluang investasi hijau, menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan, dan memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global yang semakin menuntut produk rendah karbon. Valuasi perusahaan yang mengadopsi praktik berkelanjutan cenderung lebih stabil dalam jangka panjang.

Kontra: Biaya transisi tidak murah. Diperlukan investasi besar untuk mengganti infrastruktur energi, sementara pendapatan negara dari sektor energi fosil masih menjadi penopang anggaran. Rasio utang terhadap pembiayaan hijau perlu dijaga agar tidak membebani fiskal. Selain itu, ketidakpastian regulasi global dapat memicu volatilitas sentimen pasar.

"Komitmen iklim harus dibarengi dengan kepastian kebijakan dan insentif fiskal yang terukur, agar transisi tidak menimbulkan guncangan ekonomi," ujar seorang pengamat kebijakan energi dalam diskusi panel terkait.

Implikasi bagi Investor dan Perekonomian

Dari kacamata pasar, strategi NZE ini berpotensi memengaruhi indeks sektor energi dan utilitas. Portofolio yang berbobot besar pada aset berbasis fosil mungkin menghadapi tekanan valuasi jangka panjang, sementara instrumen hijau menawarkan diversifikasi. Namun, analis mengingatkan bahwa proyeksi tetap bergantung pada eksekusi kebijakan, stabilitas makro, dan arus modal asing.

Secara fundamental, pertumbuhan ekonomi hijau dapat menjadi motor baru jika didukung likuiditas memadai dan kerangka regulasi yang jelas. Sebaliknya, tanpa itu, target NZE berisiko menjadi sekadar narasi tanpa dampak nyata. Karena itu, pengawasan terhadap realisasi target, bukan hanya komitmen di forum internasional, menjadi kunci.

Ke depan, publik perlu mencermati perkembangan bauran energi, realisasi investasi hijau, dan arah kebijakan fiskal. Dengan begitu, target net zero emission 2060 dapat dinilai secara berimbang: sebagai peluang transformasi ekonomi sekaligus tantangan yang menuntut kehati-hatian dalam menjaga stabilitas dan daya saing nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User