Startup RI Terbanyak Keenam Dunia, Kualitas Masih Peringkat 45

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan sejumlah lembaga pemeringkat ekosistem global per Agustus 2022, Indonesia menempati posisi enam besar dunia dalam jumlah perusahaan rintisan (startup), d...

Aug 07, 2026 - 12:53
0 0
Startup RI Terbanyak Keenam Dunia, Kualitas Masih Peringkat 45

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan sejumlah lembaga pemeringkat ekosistem global per Agustus 2022, Indonesia menempati posisi enam besar dunia dalam jumlah perusahaan rintisan (startup), dengan estimasi lebih dari 2.400 entitas aktif. Namun capaian kuantitas tersebut tidak berbanding lurus dengan kualitas: pada indeks ekosistem startup global, mutu ekosistem Tanah Air masih bertengger di sekitar peringkat 45, tertinggal jauh dari Singapura yang konsisten menembus sepuluh besar dunia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut posisi enam besar ini sebagai bukti vitalitas sektor digital nasional. Dari kacamata makroekonomi, klaim tersebut memiliki pijakan. Ekonomi digital Indonesia mencatat nilai transaksi bruto (gross merchandise value/GMV, yakni total nilai barang dan jasa yang diperdagangkan lewat platform digital) sekitar US$70 miliar pada 2021 dan diproyeksikan menembus US$130 miliar pada 2025 — terbesar di Asia Tenggara.

Di Satu Sisi: Fundamental Pasar yang Sulit Ditandingi

Pro: Indonesia memiliki kombinasi fundamental yang jarang dimiliki ekonomi berkembang lain. Populasi lebih dari 275 juta jiwa, penetrasi internet di atas 70 persen, serta kelas menengah yang terus tumbuh menciptakan pasar domestik yang dalam. Kondisi ini memungkinkan startup mencapai skala ekonomi (economies of scale) tanpa harus berekspansi lintas negara sejak dini — sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki Singapura maupun Malaysia.

Dari sisi pendanaan, tren aliran modal ventura (venture capital) ke Asia Tenggara selama lima tahun terakhir menunjukkan Indonesia konsisten menyerap porsi terbesar, sekitar 40-50 persen dari total nilai transaksi regional. Ekosistem juga telah melahirkan belasan unicorn — startup bervaluasi di atas US$1 miliar — termasuk satu decacorn hasil konsolidasi dua raksasa lokal. Bagi investor, ini menandakan likuiditas pasar modal domestik mulai mampu menampung aksi korporasi berskala besar, terbukti dari sejumlah penawaran umum perdana (IPO) emiten teknologi di Bursa Efek Indonesia.

Di Sisi Lain: Jurang Kualitas yang Belum Terjembatani

Kontra: kesenjangan antara peringkat 6 (kuantitas) dan peringkat 45 (kualitas) mengindikasikan persoalan struktural yang serius. Indeks kualitas ekosistem umumnya mengukur kedalaman talenta teknologi, kemudahan berusaha, kualitas infrastruktur digital, serta kapasitas riset dan pengembangan. Pada komponen-komponen inilah Indonesia tertinggal. Defisit talenta digital nasional diperkirakan mencapai 9 juta orang hingga 2030 menurut proyeksi pemerintah sendiri.

Selain itu, valuasi startup domestik sangat terkonsentrasi pada sektor konsumen — e-commerce, fintech pembayaran, dan logistik — sementara segmen teknologi mendalam (deep tech) seperti kecerdasan buatan, bioteknologi, dan semikonduktor nyaris absen dari portofolio ekosistem. Ketergantungan pada pendanaan asing juga menciptakan kerentanan: ketika sentimen pasar global berbalik dan terjadi capital outflow (keluarnya modal asing) dari aset berisiko, seperti yang terlihat sepanjang 2022, valuasi startup teknologi mengalami koreksi tajam dan gelombang efisiensi tenaga kerja tak terhindarkan.

"Posisi enam besar dunia harus dibaca sebagai modal awal, bukan garis akhir. Tanpa perbaikan kualitas regulasi, talenta, dan hilirisasi inovasi, kuantitas startup berisiko menjadi statistik yang mengesankan tetapi rapuh secara fundamental."

Implikasi Kebijakan dan Proyeksi ke Depan

Bagi pengambil kebijakan, tantangan ke depan adalah mengonversi keunggulan kuantitas menjadi kualitas. Beberapa rasio kunci patut dicermati. Belanja riset nasional masih berada di kisaran 0,3 persen dari PDB, jauh di bawah Korea Selatan yang menembus 4 persen maupun Singapura di sekitar 2 persen. Tanpa kenaikan investasi riset yang signifikan, lompatan peringkat kualitas sulit terwujud dalam satu dekade.

Di sisi lain, momentum reformasi struktural — mulai dari UU Cipta Kerja hingga harmonisasi regulasi ekonomi digital — memberi ruang optimisme. Jika tren pertumbuhan ekonomi digital bertahan di kisaran 20 persen year-on-year, proyeksi GMV di atas US$300 miliar pada 2030 bukan hal mustahil. Kuncinya satu: kualitas ekosistem harus naik kelas, agar peringkat 45 hari ini kelak menjadi catatan sejarah, bukan langit-langit permanen bagi ambisi digital Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User