Smelter Gresik Kembali Beroperasi Bertahap pada September 2026

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per kuartal I 2025, proyek smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur, dijadwalkan kembali beroperasi secara be...

Aug 07, 2026 - 18:25
0 0
Smelter Gresik Kembali Beroperasi Bertahap pada September 2026

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per kuartal I 2025, proyek smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur, dijadwalkan kembali beroperasi secara bertahap mulai September 2026. Proyek strategis nasional ini sebelumnya terhenti akibat insiden longsor yang terjadi pada akhir 2024, yang memaksa penghentian total operasional fasilitas pemurnian konsentrat tembaga tersebut. Keputusan untuk memulai kembali operasi secara bertahap ini diambil setelah melalui kajian teknis dan audit keselamatan menyeluruh, dengan target kapasitas penuh yang diproyeksikan baru tercapai pada tahun 2027.

Dampak Penghentian Operasi terhadap Produksi dan Ekspor

Penghentian operasi smelter Manyar sejak Desember 2024 telah memberikan dampak signifikan terhadap rantai pasok konsentrat tembaga domestik. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor konsentrat tembaga Indonesia mengalami penurunan year-on-year sebesar 12,7% pada periode Januari-Maret 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di satu sisi, penurunan ekspor ini sejalan dengan kebijakan hilirisasi yang digalakkan pemerintah, karena konsentrat yang seharusnya diekspor kini diolah di dalam negeri. Namun, di sisi lain, keterlambatan operasional smelter menyebabkan penumpukan stok konsentrat di pelabuhan dan meningkatkan biaya penyimpanan yang diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun per kuartal.

Pro: Penghentian operasi memberikan waktu bagi perusahaan untuk memperbaiki desain struktural dan meningkatkan standar keselamatan, sehingga risiko longsor serupa dapat diminimalisir di masa depan. Kontra: Setiap bulan keterlambatan operasional mengakibatkan potensi kerugian pendapatan negara dari sektor royalti dan pajak ekspor yang diperkirakan mencapai Rp800 miliar per bulan, berdasarkan simulasi Kementerian Keuangan. Fundamental industri pemurnian tembaga di Indonesia tetap kuat, dengan permintaan global yang diproyeksikan tumbuh 3,2% per tahun hingga 2030, didorong oleh transisi energi dan elektrifikasi kendaraan.

Strategi Pemulihan dan Proyeksi Kapasitas Produksi

PT Freeport Indonesia telah menyusun peta jalan pemulihan yang mencakup tiga fase utama. Fase pertama dimulai pada September 2026 dengan kapasitas operasi awal sebesar 40% dari kapasitas terpasang, yang setara dengan pengolahan 600.000 ton konsentrat per tahun. Fase kedua ditargetkan pada awal 2027 dengan peningkatan kapasitas menjadi 70%, dan fase ketiga mencapai kapasitas penuh 1,7 juta ton konsentrat per tahun pada akhir 2027. Berdasarkan data BPS, kapasitas penuh smelter ini akan menghasilkan sekitar 600.000 ton katoda tembaga per tahun, yang akan menempatkan Indonesia sebagai produsen katoda tembaga terbesar kelima di Asia.

Sentimen pasar terhadap pemulihan ini relatif positif, tercermin dari stabilnya harga tembaga di bursa London Metal Exchange (LME) pada kisaran US$9.800 per ton selama kuartal II 2025. Namun, valuasi proyek ini tetap menjadi perhatian investor karena total investasi yang telah dikucurkan mencapai US$3,7 miliar, dengan tambahan biaya perbaikan struktural yang diperkirakan mencapai US$500 juta. Likuiditas perusahaan tetap terjaga berkat dukungan pendanaan dari pemegang saham utama dan fasilitas kredit perbankan senilai US$1,5 miliar yang telah ditarik sebagian pada Juni 2025.

Implikasi terhadap Hilirisasi dan Kemandirian Industri Nasional

Keberhasilan pemulihan smelter Manyar memiliki implikasi strategis bagi agenda hilirisasi mineral nasional. Di satu sisi, operasional kembali smelter ini akan mengurangi ketergantungan Indonesia pada fasilitas pemurnian di luar negeri, terutama Jepang dan Korea Selatan, yang selama ini menjadi tujuan ekspor konsentrat tembaga. Di sisi lain, keterlambatan operasional telah mendorong pemerintah untuk mengevaluasi ulang kebijakan larangan ekspor bijih mentah, dengan mempertimbangkan fleksibilitas bagi perusahaan yang proyek smelternya mengalami kendala teknis di luar kendali mereka.

Menurut analis industri pertambangan dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Wijaya, "Pemulihan bertahap ini adalah keputusan yang tepat secara teknis dan ekonomi. Namun, pemerintah perlu memastikan adanya mekanisme pengawasan yang lebih ketat terhadap keselamatan infrastruktur smelter, karena insiden longsor seperti ini dapat terulang jika tidak ada perbaikan menyeluruh pada desain geoteknik."

Proyeksi jangka panjang tetap optimis, dengan rasio utilisasi smelter nasional diperkirakan meningkat dari 55% pada 2025 menjadi 85% pada 2028 setelah smelter Manyar beroperasi penuh. Tren ini akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik, mengingat katoda tembaga merupakan komponen vital dalam baterai dan motor listrik. Meskipun demikian, risiko capital outflow tetap perlu diantisipasi, terutama jika terjadi penundaan lebih lanjut yang dapat memicu penurunan peringkat kredit sektor pertambangan Indonesia di mata investor asing. Dengan demikian, pemantauan ketat terhadap jadwal pemulihan dan komunikasi transparan dari manajemen Freeport menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan pasar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User